Renungan Buddha Dhamma

Kisah Vessantara Jataka

OLeh Upa Madyamiko Gunarko Hartoyo

400 view
PNGEgg
Ilustrasi
Pada suatu masa hiduplah seorang raja bernama Sandumaha yang terkenal kebajikan, keberanian, serta kebaikan hatinya. Bodhisatwa terlahir sebagai putranya, Vessantara, dan tumbuh sebagai pahlawan kebajikan serta pengetahuan.

Vessantara
mempraktikkan kemurahan hati sampai ke tingkatan tertinggi. Satu-satunya perang yang dijalaninya adalah perang melawan rasa lapar dan haus, penyakit, serta kemiskinan. Segala bencana yang datang menimpa dihalaunya dengan panah kemurahan hati yang dimilikinya.

Kemurahan hati Vessantara tersebar ke mana-mana dan dimanfaatkan raja tetangga yang iri dengan mengirim orang menyamar sebagai Brahmana dan berhasil memperdayanya menyerahkan gajah putih kerajaan. Ketika rakyat mendengar peristiwa ini, mereka menjadi sangat marah dan menghadap raja menyampaikan keberatan keberuntungan negeri yang ditakuti semua raja diambil begitu saja.Rakyatnya yang marah menyatakan seorang pangeran yang pantas menjadi raja adalah ia yang memerintah dengan tangan besi, dan bukan dengan kemurahan hati yang berlebihan karenanya pangeran harus dibuang ke hutan hukuman.

Vessantara terkejut mendapat kabar tersebut dari orang kepercayaan raja. Setelah itu, ia bersiap pergi ke hutan dan istri tercintanya, Mantridevi juga memilih ikut ke mana pun ia pergi, jauh dari orang-orang jahat, hidup dengan bahagia dan puas, meski menyendiri.
Sementara itu, di istana raja, terdengar ratapan orang sakit, miskin dan kaum rendahan atas kepergiannya. Vessantara memberikan semua kekayaan miliknya kepada mereka yang miskin dan membutuhkan dengan senyum ramah dan ajaran baik. Vessantara pergi dari kota tercintanya dengan perasaan damai, dan kaum malang yang juga dicintainya memberkati kepergiannya.

Akhirnya ia tiba di hutan hukuman di Gunung Vanka. Di atasnya telah berdiri sebuah gubuk yang terbuat dari dedaunan, bersiap menyambut mereka. Gubuk ini dibuat sendiri oleh Visvakarma, arsitek para dewa, setelah mendapat perintah dari Raja Dewa Sakra. Vessantara bersama istri dan kedua anaknya segera menetap di dalam hutan tersebut dengan perasaan gembira.

Suatu hari, Vessantara bersukacita melihat kehadiran seorang Brahmana dan mengundangnya masuk ke dalam untuk beristirahat dan makan. Brahmana tersebut, yang sebenarnya dikirim oleh istrinya untuk bertemu Vessantara karena telah terkenal kemurahan hatinya menyatakan keinginan meminta anak anaknya memberi pertolongan pada istrinya yang sudah tua. Permintaan ini menusuk hati Vessantara, namun karena mengingat ikrarnya untuk tak pernah menolak permintaan orang lain, ia menjawab dengan tenang untuk memberikan kedua anaknya.

Sang Brahmana ingin segera membawa kedua anaknya segera karena khawatir Vessantara dan istrinya berubah pikiran tanpa memperbolehkan melihat ibu anak anak tersebut yang sedang di hutan menggumpulkan bahan makanan. Vessantara meminta Brahmana memikirkan betapa muda dan lemahnya anak-anaknya dan tak terbiasa bekerja. Ia pun meminta kedua anaknya dibawa ke ayahnya, Raja Sandumaha, dan raja akan menebus mereka. Hal itu akan membuat Brahmana kaya raya dan bisa menyewa pelayan-pelayan untuk membantu pekerjaan keluarganya. Hal itu ditolak sang Brahmana.

Anak-anak yang malang ini mengikuti sang Brahmana yang terus membentak mereka dengan kata-kata kasar. Vessantara mendengar bentakan yang memilukan hati ini dan merasa lumpuh oleh dukacita mendalam. Akan tetapi, ia merasa bahwa ia tak boleh menyesali perbuatannya, melainkan harus terus menjaga ikrarnya.

Sementara itu, Mantridevi sedang mencari buah-buahan dan akar-akaran di dalam hutan dan karena hatinya merasa tak tenang, segera buru-buru pulang dan tidak dapat menemukan kedua anaknya. Di atas tempat duduk rumput kusam suaminya duduk diam dan bersusah hati, lumpuh oleh dukacita. Vessantara tak mampu menjawab sepatah pun dan sang ibu yang malang ini, setelah bertanya tiga kali dan hanya mendapat diam sebagai jawabnya, segera berlari menuju hutan dengan histeris untuk mencari anak-anaknya.

Vessantara bangkit dari duduknya. Ia akhirnya menceritakan keseluruhan kisah sedih ini pada istrinya, dan menjelaskan betapa mustahilnya mengisahkan sesuatu yang telah menghancurkan hatinya. Istrinya segera merangkulnya dan bertekad untuk, bahkan bila harus menyerahkan dirinya sekalipun, sama sekali tak menyesali tindakan yang dilakukan demi kebajikan.

Kedua orang suci ini duduk dalam diam untuk waktu yang lama dan doa mereka untuk kesejahteraan kedua anaknya tumbuh menyebar bak uap berwarna merah jambu suci yang akhirnya mencapai singgasana Raja Para Dewa Sakra, yang melihat ke bawah dengan heran dan bertanya-tanya tentang kesenyapan dua orang manusia dalam sebuah gubuk di hutan hukuman di Gunung Vanka.

Para dewa bersukacita dan merasa kagum ketika para Penjaga Empat Penjuru Dunia melaporkan apa yang mereka lihat, dan Sakra berseru dalam keagungan: "Terpujilah Buddha yang akan datang, yang mampu mengorbankan anaknya sendiri Akankah ia rela memberikan istrinya juga? Aku akan mengujinya."

Keesokan paginya, ketika Vessantara yang bersedih hati dan istrinya yang setia, Mantridevi, sedang berbicara dengan tenang, Sakra muncul di hadapan mereka sebagai seorang Brahmana yang datang menginginkan istrinya. Dan kembali Vessantara tak dapat menolak untuk menuruti ikrarnya melakukan kemurahan hati.

Menyaksikan pemandangan ini, Sakra dengan kagum berseru: "Hanya mereka yang hatinya telah dimurnikan yang dapat memahami dan meyakini keajaiban ini! …. para dewa, termasuk Sakra dan umat manusia, harus bersujud pada-Mu dengan penuh kekaguman."
Kemudian Sakra kembali ke wujud ilahinya sebagai raja para dewa dan berkata pada Vessantara untuk tidak bersedih hati karena anak-anaknya. Sebentar lagi semua akan kembali ke rumah diantar kakek mereka.

Melalui kekuatannya Sakra, Raja Para Dewa, Sang Brahmana tua yang kejam dipaksa untuk menyerahkan anak-anak Vessantara ke raja Sandumaha. Sang raja tak kuasa menahan air mata harunya menebus cucunya. Kemudian ia segera berangkat ke hutan menjemput Vessantara serta istrinya kembali ke istana. Di sana, rakyat meminta maaf dengan tulus karena telah menyalahpahami keagungan Vessantara, yang bahkan rela memberikan istri dan anak-anaknya demi mempraktikkan kemurahan hati.

Vessantara memerintah untuk waktu yang lama setelah kematian ayahnya. Ia selalu menjalankan negeri demi kepentingan rakyatnya, dan mereka, pada gilirannya, mencintainya dan tak pernah lagi menyalahpahami kemurahan hatinya terhadap semua makhluk.

Cerita di atas menggambarkan kepada kita bagaimana praktek kemurahan hati sejati yang pada akhirnya membuahkan hasil akhir manis yang disanjung para dewa. Dalam Manggala Sutta, Sang Buddha menjelaskan dana (memberi ) adalah berkah utama dan membawa keselamatan. Mereka yang memiliki kemurahan hati akan mendapatkan kegembiraan dari hasil perbuatannya walaupun prakteknya mereka harus mengorbankan apa yang sudah mereka miliki dengan susah payah. Dalam cerita di atas, diilustrasikan mereka akan dihormati oleh orang yang bijaksana dan nama baiknya akan dikenal luas. Ia akan mendapat kepercayaan dari orang lain. Setiap orang akan menilai ia patut dipercaya.

Bagaimana praktik kemurahan hati dapat menjadi berkah utama dari begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh? Untuk menjawab ini , coba kita kaji siapa yang tidak suka diberikan sesuatu/ hadiah. Jangankan hanya dapat mempererat hubungan, setiap orang akan berusaha untuk menjadi teman seorang yang murah hati dan senang membantu. Seorang yang murah hati bukan hanya disenangi, tapi juga pasti dikagumi banyak orang, tentu saja termasuk oleh para bijaksana. Para bijaksana adalah orang yang tahu benar dan salah ataupun membedakan baik dan buruk. Para bijaksana tentunya lebih memilih bekerjasama dengan yang baik juga. (d)
Penulis
: redaksisib