Pengamat Timteng Zuhairi Misrawi

Kedepankan Sikap Kritis saat Belajar Agama di Medsos


141 view
Internet
Kebenaran itu tidak selalu ditentukan dengan kuantitas, tapi dari kualitas  
Jakarta (SIB)
Banyaknya informasi keagamaan yang tersebar di media menjadi tantangan keberagamaan pada saat ini. Kendati banyak konten keagamaan yang tersaji dan mudah diakses, namun tidak semuanya memiliki kualitas yang baik sebagai pelajaran dan panduan keagamaan.

Dalam hal ini, pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi mengingatkan kelompok muda yang menghabiskan banyak waktu di media sosial agar tetap berhati-hati dalam mempercayai ajaran agama di media sosial.

Menurutnya, ajaran agama yang benar tidak selalu paling banyak pengikutnya. Maka itu, anak muda harus kritis terhadap konten keagamaan di media sosial, sehingga tidak terjebak pada konten berbahaya yang berkedok agama.

“Jangan hanya menonton (ceramah) Youtube yang viewer-nya paling banyak, karena kebenaran itu tidak selalu ditentukan dengan kuantitas, tapi dari kualitas,” tutur Zuhairi Misrawi di Jakarta, Senin (15/3).

Ia mencontohkan sebuah isu yang kerap digunakan di media sebagai kampanye jahat seperti isu “Islam didhalimi”. Isu demikian ini, terang Zuhairi, kerap dipropagandakan di media sosial dan kerap kali berhasil menipu masyarakat. Padahal isu ini tidaklah tepat, sebab agama Islam di Indonesia adalah agama mayoritas, dan Presiden Indonesia adalah seorang muslim. Akan tetapi, kebenaran ini akan tertutupi jika tidak memiliki daya kritis terhadap konten media sosial.

Ia menilai, pemerintah telah melakukan tugasnya secara baik dengan memantau banyaknya konten berbahaya di media sosial, mulai dari informasi yang salah, informasi yang berbahaya, dan jenis informasi yang mempropagandakan radikalisme kekerasan dan ekstremisme.

“Saya percaya bahwa kelompok-kelompok radikal ini akan terus mengecil, karena sudah mulai ada ketegasan dari pemerintah, ada ketegasan dari masyarakat sendiri untuk memahami Islam yang rahmatan lil alamin. Jadi saya sangat optimis melihat masa depan,” tuturnya.

Pesan yang disampaikan Zuhairi tentang bahayanya tidak berpikir kiritis merupakan pesan yang tepat. Pasalnya, saat ini, pengguna internet di Indonesia begitu tinggi, dan mayoritas di antaranya menggunakan media sosial.

Dalam laporan We Are Social, pengguna Internet di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 175 juta atau 64 persen dari 272 populasi nasional. Sebanyak 160 juta dari itu aktif di media sosial. Rata-rata durasi penggunaan internet mencapai hampir 8 jam, dan rata-rata durasi penggunaan sosial media adalah 3,5 jam. Pada tahun yang sama, secara berurutan, YouTube, WhatsApp, dan Facebook merupakan tiga media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. (NU Online)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com