Isra Mi’raj di Yayasan Dharma Pancasila

Nawal: Ada Nilai Spiritual dalam Perjalanan Nabi


100 view
(Foto: Dok/Diskominfo Sumut)
ISRA MI'RAJ : Penasihat DWP Provinsi Sumut Nawal Lubis, Ketua DWP Sumut Linda Fauziah Haris Lubis dan Sekretaris DWP Sumut Zahara Nasution, R Haykal dan lainnya foto bersama pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1442 H, Yayasan Dharma Pancasila, Jalan Dr Mansyur Medan, Sabtu (20/3). 
Medan (SIB)
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sumut menghadiri Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1442 H di Yayasan Dharma Pancasila, Jalan Dr Mansyur Padangbulan, Medan, Sabtu (20/3). Acara tersebut diisi dengan tausiyah yang disampaian Ustaz Hasbi Al Mawardi Lubis.

Pada kesempatan itu, Nawal Lubis yang juga Pembina Yayasan Dharma Pancasila Sumut Nawal Lubis mengajak para pengurus yayasan dan seluruh anak didik untuk dapat mengambil hikmah dan nilai-nilai spiritual dari peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Yakni agar lebih taat beribadah dengan menegakkan salat lima waktu.

"Peristiwa ini mengandung nilai-nilai spiritual dalam keimanan kaum muslimin. Perjalanan Nabi mengandung makna yakni menerima perintah salat, yang saat ini hanya menjadi lima waktu, dimana sebelumnya perintah salat itu sebanyak 50 waktu," ucap Nawal.

Hadir dalam kegiatan itu, Ketua DWP Sumut sekaligus Ketua Umum Yayasan Dharma Pancasila Linda Haris Lubis, kepala sekolah, guru dan pegawai, serta anak didik Yayasan Dharma Pancasila.

Kepala Sekolah SMP Dharma Pancasila, Suwito mewakili kepala sekolah dan pengurus yayasan mengucapkan terimakasih pada pembina yayasan yang telah hadir dalam kegiatan tersebut, meskipun di tengah pandemi Covid-19.

"Terima kasih ibu telah hadir. Kegiatan ini kita laksanakan tidak seperti biasanya, karena masih pada masa pandemi Covid-19. Namun kita tetap menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan ini," katanya.

Sementara Ustaz Hasbi Al Mawardi Lubis dalam tausiyahnya menyampaikan tentang pentingnya salat dan menjaga ibadah, yakni dengan ilmu, iklas dan akhlak yang baik. Ada ancaman hukuman bagi kaum muslimin yang tidak melakasanakan salat, antara lain, akan sulit menghadapi sakratul maut, serta mendapat siksa kubur.

Hasbi juga mengingatkan, dalam pelaksanaan salat agar memperhatikan rukun salat, serta bacaan dalam salat, agar tidak salah makna dari bacaan sebenarnya. "Karena salah dalam pengucapan tentu akan salah makna dari bacaan tersebut. Selain itu hendaknya salat untuk tepat waktu karena pahala lebih tinggi," tutupnya. (rel/A13/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com