Cerita Greysia Polii Ubah Teknik Servis Berujung Juara


369 view
Cerita Greysia Polii Ubah Teknik Servis Berujung Juara
CNN Indonesia/Andry Novelino
Greysia Polii mengubah teknik servisnya usai mendapat masukan dari pelatih Eng Hian.
Jakarta (SIB)
Greysia Polii sudah 18 tahun menekuni karier dan profesinya sebagai pebulutangkis. Jatuh-bangun, kalah-menang sudah dialami pebulutangkis yang akrab disapa Greys ini.

Uniknya sejak pertama kali tampil mewakili Indonesia di Piala Uber 2004 silam, Greysia tidak menyadari jika backhand servis yang dilakukannya selama ini kurang begitu baik dan cenderung merugikan. Greysia baru mengubah gaya servis itu 2019, tepatnya setelah mendapatkan masukan dari pelatih ganda putri, Eng Hian.

Eng Hian seperti diungkapkan Greysia mengatakan beberapa servis backhand dirinya terlalu tinggi sehingga mudah dimatikan lawan dan bahkan memberikan poin begitu mudah buat lawan.

"Dengan servis yang seperti biasanya, saya belum nyaman dan lawan bisa ambil poin dari situ. Jadi itu seperti bumerang," kata Greysia.

Eng Hian lantas meminta Greysia mengubah gaya servis dari backhand ke forehand. Pebulutangkis kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1987, itu menyetujui perubahan servis itu demi perbaikan prestasinya.

Perubahan teknik dan gaya servis itu memberikan keuntungan buat Greysia saat bertanding pada 2020. Termasuk ketika Greysia yang berpasangan dengan Apriyani Rahayu berhasil mempersembahkan gelar juara buat tuan rumah di ajang Indonesia Masters 2020 lalu.Karena saya selalu menekankan pada diri saya, mau servis apa pun saya harus nyaman dulu," jelasnya.

Dengan gaya servis yang baru, Greysia/Apriyani juga berhasil memecahkan telur prestasi ganda putri pada awal 2021 usai menjadi juara Yonex Thailand Open. Di final, Greysia/Apriyani mengalahkan wakil tuan rumah Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai pada Minggu (17/1).

Badminton World Federation (BWF) sendiri telah menerapkan aturan-aturan khusus dalam servis terbaru yang berlaku mulai 1 Maret 2018 lalu. Dalam aturan itu dijelaskan saat pebulutangkis melakukan servis, shuttlecock dan kepala raket tidak boleh lebih tinggi dari 115 cm dari permukaan lapangan.

Bola servis yang dipegang melebih angka tersebut akan dinyatakan pelanggaran oleh wasit, yang artinya poin bagi lawan.

Servis flick umumnya dilakukan dengan menggunakan backhand untuk mengecoh lawan memprediksi arah bola yang diberikan. Terakhir servis drive yang dilakukan untuk menyerang lawan dengan cara memukul bola langsung pada lawan menggunakan forehand. (CNN/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com