OPINI

Duka Jokowi Menjadi Spirit Solidaritas Menghadapi Covid-19

Oleh: Pdt. Estomihi Hutagalung

418 view
Pdt. Estomihi Hutagalung
Walaupun hampir setiap orang berusaha menolak masuk pada pintu kematian tetapi tak satu pun yang dapat menolak ajalnya.

Siapapun dia, jabatan apapun yang melekat di pundaknya atau sehina dan semiskin apapun hidupnya, cepat atau lambat, kematian pasti menghampiri hidupnya. Dan, tak satu pun yang sanggup menghadangnya termasuk Sujiatmi Notomiharjo, sang empunya rahim yang melahirkan Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia.

Kematian ibunda tercinta telah melemparkan Joko Widodo pada misteri kehidupan yang dianggap paling menakutkan bagi sebagian orang. Sebab, kematian menjadi tanda keterbatasan manusia dan menjadi penanda duka yang sangat dalam. Kedukaan akan kematian bukan hanya karena akan menghancurkan tubuh yang telah dipelihara, tubuh yang dirawat dengan teknologi canggih lalu akhirnya menjadi abu tak bernilai. Kedukaan akan kematian juga bertautan erat pada eksistensi manusia sehingga terpisah dari jarak yang selama ini sebagai bagian dari hidupnya.

Dan keterpisahan eksistensial itulah yang dialami Joko Widodo di liang lahat. Sang putera yang selalu berusaha agar "tetap menjadi putera terbaik" itu, telah kehilangan Sujiatmi Notomiharjo, seorang ibu dan panutan hidup yang paling dicintai dan dihormatinya.

Keterpisahan demikian tentu saja menimbulkan rasa haru dan duka yang sangat dalam, seakan menyayat hati sebagai wujud rasa cinta yang telah dibangun sejak di dalam rahim. Sebab, semakin dekat jarak lahir batin seseorang kepada orang yang dicintainya, akan semakin berat dan semakin dalamlah kesedihan, rasa duka yang dialami atas perpisahan itu.

Realitas keterpisahan eksistensial demikianlah yang memunculkan pemaknaan terhadap duka yang dialami Joko Widodo atas kedekatan lahir batinnya dengan sang ibunda tercinta sebagaimana diungkapkan oleh banyak media sosial.

Joko Widodo tidak terjerembab dalam lobang hitam misteri kematian yang menggodanya menjadi manusia irasional dalam mengungkapkan rasa cinta dan rasa hormatnya. Kematian sang ibundanya tidak menjadikan Joko Widodo kehilangan orientasi hidup yang justru berdampak luas bagi kehidupan bangsa Indonesia yang sedang berjuang keras menghadapi duka Covid-19.

Ternyata, kematian orang yang paling berjuang dalam jalan hidupnya justru menjadi momentum mewujudkan rasa cintanya secara dengan benar. Joko Widodo berada pada keyakinan bahwa sebesar apapun rasa cinta harus diungkapkan dalam situasi yang benar, dengan cara yang benar dan tujuan yang benar.

Bakti cinta sebagai penghormatan terakhir pada ibundanya bukan diukur pada kemauannya untuk mengekspresikan dirinya pada wajah kekuasaan yang destruktif, dengan mengizinkan ribuan orang bahkan jutaan rakyat Indonesia untuk datang dan sujud di makam ibunya.

Menjinakkan Kekuasaan
Joko Widodo mampu menjinakkan naluri kekuasaannya, mampu menahan air matanya di hadapan sorotan media massa yang ditonton oleh ratusan juta rakyat Indonesia. Justru tanda hormat dan bakti tertinggi pada ibundanya adalah perwujudan, buah doa dan nasihat sang ibu agar Joko Widodo membaktikan dirinya bagi bangsa dan negara yang sedang menghadapi Covid-19. Ekspresi kekuasaannya justru diekspresikan pada ketaatan konstitusionalnya sehingga Joko Widodo tetap menyerukan agar setiap orang tetap berdoa, bekerja dari rumahnya masing-masing dan menjaga jaraknya (sosial disctance).

Tanda cinta demikian adalah jawaban doa Sujiatmi Notomiharjo agar Joko Widodo menjadi pemimpin yang rendah hati, sederhana, amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai Presiden. Justru perwujudan pada amanah sang pemilik rahim mulia itu, maka Joko Widodo menjalani duka citanya di tengah-tengah perjuangan rakyat Indonesia agar tetap dalam perjuangan bersama menghadang penyebaran Covid-19. Itulah tanda cinta bagi sang ibu pertiwi. Tanda cinta sesungguhnya akan dapat dinyatakan justru pada kedukaan.

Wujud rasa cinta demikian, menjadi semangat yang kuat bagi rakyat Indonesia agar menemani, mendampingi dan mendukung Joko Widodo melalui doa sujud kepada Allah yang maha Kuasa dari rumahnya masing-masing. Sebuah ungkapan rasa duka yang mendalam dari bangsa Indonesia dan menjadi spirit solidaritas dalam menemani Joko Widodo saat menghantar jenazah ibundanya sampai ke liang lahat, ke pemakaman terakhirnya.

Dukungan doa dari rumahnya masing-masing oleh rakyat Indonesia sangat dibutuhkan bukan hanya untuk kepentingan Joko Widodo saat menjalani masa dukanya. Dukungan dengan cara demikian menjadi tanda kesatuan hati dan jiwa sesama anak bangsa dalam perjuangan bersama menghadang Covid-19. Dalam realitas dukungan dengan cara demikianlah, diyakini menjadi sarana Tuhan Allah membantu Indonesia agar dapat melalui krisis virus ini.

Panggilan Ibu Pertiwi
Kini, Joko Widodo telah meninggalkan makam ibunda tercintanya. Sebuah tanda kesadaran eksistensial bahwa kematian adalah jalan yang harus ditempuh dengan keberanian untuk mampu berada secara eksistensial. Joko Widodo tidak larut dalam duka tetapi berani berjalan membuat jarak yang jauh dengan makam ibundanya. Keberanian eksistensial ini dimaknai sebagai buah doa yang disampaikan ibundanya kepada yang maha Kuasa agar anaknya, Joko Widodo tetap memiliki jiwa petarung, berani, tangguh menghadapi tantangan berat kebangsaan bahkan dunia internasional akibat Covid-19.

Kesadaran eksistensial demikian menjadi semangat bagi Joko Widodo dalam menjalankan tugas konstitusional secara khusus dalam kondisi bangsa yang berjuang melawan pandemi Covid-19. Semangat demikian menjadi tanda bahwa kematian ibundanya dapat dimaknai sebagai wujud rasa solidaritas yang terdalam bagi bangsa Indonesia, bagi setiap keluarga yang telah ditinggalkan dan yang menderita akibat virus corona. Kemauan kerja keras demikian menjadi wujud rasa solidaritas yang terdalam kepada para dokter, tentara dan polisi yang berkorban dalam penghadangan penyebaran Covid-19.

Kini ibu pertiwi sedang menangis akibat duka pandemi Covid-19. Tangisan yang menjadi sebuah panggilan kepada setiap anak bangsa agar terus meningkatkan semangat perjuangan bersama menghadapi Covid-19. Sebuah panggilan ibu pertiwi agar seluruh elemen sosial masyarakat tetap taat pada anjuran pemerintah mengenai sosial distancing. Sebuah panggilan kepada keberanian eksistensial dalam menghadapi kematian agar tidak terjerembab dalam lumpur duka.

Jawaban atas panggilan ibu pertiwi dan wujud rasa solidaritas kepada Joko Widodo, marilah kita semua bersama dalam doa dan mewujudkan doa kita dalam praktek hidup penuh ketaatan pada anjuran Presiden Joko Widodo dalam perjuangan bersama menghadang Covid-19. Semoga duka Joko Widodo menjadi tanda solidaritas kebangsaan kita bersama serta menjadi dukungan bagi para penderita virus mematikan ini serta sebagai spirit bersama dalam doa, agar kita mampu melewati badai Covid-19. (c)
Penulis
: redaksisib