Menyambut HUT ke-21 Kabupaten Toba Samosir

Hospitalitas Sebagai Etos Pariwisata di Kawasan Danau Toba

* Oleh Pdt Estomihi Hutagalung (Pendeta GMI, Pernah Melayani di Balige)

484 view
Foto: SIB/Dok
Pdt Estomihi Hutagalung
Dukungan terhadap upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo guna mewujudkan kawasanDanau Toba sebagai program prioritas pengembangan pariwisata tentu saja berdimensi yang sangat luas. Dukungan dimaksud, jauh melampaui ekspektasiyang bersifat pragmatis dalam cakupan pada aspek kebutuhan masa kini yang bernuansamaterial. Dukungan dan keyakinan pada upaya pemerintahdimaksud juga bermuatan pada apa yang dilakukan oleh banyak pihak guna mewujudkan masyarakat adil, makmur dan damai sejahtera sebagaimana cita-cita bernegara dan beragama.

Memang, sejauh ini belum terpublikasi adanya penelitian ilmiah mengenai data indeks persepsi masyarakat tentang pariwisata di kawasan yang dipimpin oleh Bupati Toba Ir Darwin Siagian dan Wakil Bupati Ir Hulman Sitorus. Dengan data ilmiah demikian akan menjadi acuan untuk melihat tahapan perkembangan potensi dan hambatan serta peluang sektor pariwisata di kabupaten yang berulangtahun ke-21 ini dan berganti nama menjadi Kabupaten Toba.

Tetapi, setidaknya menurut informasi dari Ir Jhon Peter Silalahi,Kadis Pariwisata Kabupaten Toba Samosir, bahwa sejauh ini masyarakat belum begitu maksimal menyadari adanya kaitan langsung mengenai pertumbuhan pariwisata terhadap pertumbuhanekonomi.Kondisi demikian tentu menjadi undangan terbuka sehingga para peneliti dapat mempublikasi data ilmiah mengenai indeks persepsi tersebut.

Walau demikian, realitas objektif yang ada saat ini, sebagaimanainformasi sebagai hasil penelusuran Kadis Pariwisata dimaksud serta melihat fenomena yang ada dan dilihat secara kasat mata maupun melalui media sosial dengan segala dampaknya, harus dimaknai oleh berbagai pihak sehingga upaya percepatan dan harapan pencapaian tersebut akan berhasil maksimal.
Maka pada titik itulah semua elemen masyarakat dan pemerintahdikawasan kabupaten yang di”bidani” Drs Sahala Tampubolon dan menjadi bupati pertama di kabupaten ini, harus berperan kreatif.

Secara khusus lembaga gereja dalam kaitan pada aspek statistik warga di kabupaten ini, mempuyai peran yang sangat penting. Kesadaran demikian disemangati proposisi Clifford Geertzbahwa dalam menciptakan atau mengkonstruksi suatu masyarakat,harus didasarkan pada adanya sistem nilai dan struktur dasar yaitu lembaga berotoritas.

Dalam hal ini, pemaknaan terhadap dimensi hospitalitas pada aspek keramahtamahan dan kebersihan sebagai etos pariwisata adalah sistem nilai yang dihubungkan pada fungsi lembaga sosial khususnya gereja sebagai struktur dasar sistem sosialnya. Keyakinanakan peran penting dimaksud bukan hanya pada tataran pemaknaan fungsi gereja sebagai priest, yang melegitimasi. Juga pada tataran peran fungsi terpentingnya sebagai prophet, dengan suara kenabian guna mendorong transformasi spiritual umat sebagai upaya menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dalam dunia berpijaknya.

ETOS PARIWISATA
Tanpa mengesampingkan luasnya dimensi pengertian etos sebagaimana dikemukakan oleh banyak ahli, maka pemikiran Immanuel Kant menjadi faktor pendorong pemaknaan di dalam konteks ini. Menurut tokoh penganut paham modern ini, etos diartikan
pada adanya suatu sikap dan tindakan yang didasarkan atas nilai tanggungjawab moralnya. Maka, pengertian etos pariwisata dimaksudkan sebagai adanya suatu sikap dan tindakan yang bertanggungjawab dalam mengembangkan potensi dan peran penting pariwisata guna mewujudkan kehidupan yang bermoral dalam kandungan makna konstitusional negara dan panggilan nilai agama.

Pemaknaan etos atas spirit Kant dimaksud, tentu saja tidak dapat dipisahkan dari pemaknaan frasa etos dalm bidang lainnya
secara khusus dalam kaitan makna etos kerja sebagaimana dikemukakan oleh Gunnar Myrdal. Menurut tokoh pemikir dalam “Asian Drama” ini, mengajukan ada tiga belas sikap atau elemen pokok dari etos kerja yaitu: efisiensi, kerajinan, kerapian, sikap tepat waktu, sederhana, jujur total, berpikir rasional, kesediaan berubah, gesit dalam memanfaatkan kesempatan, bekerja keras, mandiri, kolaboratif, dan visioner.Sehingga, dari luasnya dimensi etos pariwisata dimaksud, maka ada dua pokok penting yang hendak dikemukakan yaitu keramahtamahan dan kebersihan.

Elemen penting ini tentu saja bukan sesuatu yang didatangkan dari luar tetapi ada berada bersamadengan masyarakat Toba itu sendiri. Sistem nilai demikian adalah bagian hidup dari masyarakat kultural Toba sehingga dimaknai sebagai dimensi kearifan lokal yaitu adanya sifat dasar masyarakat Batak yang sangat terbuka pada setiap tamu.

Kearifan lokal lainnya sebagai bagian dari etos pariwisata dimaksud juga bertautan dengan makna kata paias sebagaimana tercantum dalam poda na lima. Dalam sistem nilai ini terdapat lima aspek paias atau kebersihan yaitu paias rohamu (ketulusan hati), paias pamatangmu (kebersihan tubuh), paias paheanmu (kebersihan pakaian), paias jabum (rumah tinggal yang bersih) dan paias alamanmu (pekarangan rumah yang bersih).

HOSPITALITAS
Penelusuran dan kesadaran pada kedua elemen makna dari dimensi etos pariwisata tersebut, telah menyadarkan kita pada istilah lain dari dimensi pariwisata yaitu frasa hospitality. Sebuah frasa yang selalu dikemukakan dalam perspektif internasional dan diadopsi dari bahasa Latin. Frasa hospitality berasal dari gabungan kata hostis yang berarti orang asing dan kata pets, potis, potential yang berarti memiliki kuasa. Dan kata host itulah menjadi akar dari kata hostility dalam bahasa Inggris.

Dan penelusuran makna dari kedua kata tersebut mengingatkangereja pada ajaran-ajaran Rasul Paulus pada pola pikir orang Yunani. Tanpa melupakan sifat keramahtamahan Abraham sebagaimana dicatat dalam kitab Perjanjian Lama, pada faktanya, di dalam Alkitab, beberapa kali dicatat mengenai adanya aspek nilai hospitality. Dan akar kata ini berasal dari kata philoxenia yang berarti mengasihi orang asing sebagai sahabat.

Adapun catatan Alkitab mengenai makna etos hospitalitas yaitu….”usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan
(philoxenia)” dalam kitab Roma 12:13. “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang (philoxenias), sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibrani 13:1-2).

Tetapi harus dengan sesegera mungkin diingatkan bahwa kata hospitality bukanlah istilah khusus yang ditujukan hanya pada tradisi kekristenan. Sebab teks-teks Alkitab dimaksud adalah juga pengajaran yang berkembang bagi masyarakat di luar kekristenan pada masa lahirnya teks biblical tersebut. Dengan demikian, istilah hospitalitas bukan bersifat eksklusif justru harus terbuka. Peringatan
ini menjadi penting dikemukakan dalam realitas konteks sosial kemajemukan bangsa Indonesia dan dunia secara umum.

Sebab pariwisata Danau Toba bukan ditujukan pada kelompok agama, suku tertentu dan juga tidak bermakna untuk menolak budaya atau peradaban suku, agama tertentu. Kalau pun penelusuranakar kata hospitalitas dikemukakan, itu menjadi salah satu paradigma elemen masyarakat guna mendukung upaya mewujudkanpariwisata itu sendiri. Pemaknaan hospitalitas demikian juga berdimensi pada adanya kualitas manusia sebagai etos personal yang dipratekkan dalam panggilan pariwisata dengan sikap keterbukaan secara universal.

TUGAS MEWUJUDKAN
Jika demikian halnya, guna mewujudkan dan adanya dukunganterhadap program pemerintah yang menetapkan kawasan Danau Toba sebagai prioritas utama pariwisata tidak dapat dilepaskan dari tanggungjawab elemen masyarakat Toba guna mewujudkan cita-cita konstitusi pemerintah dan tujuan panggilan gereja (agama). Keyakinan pada upaya perwujudan dimaksud dimaknai atas proposisi Clifford Geertz sebagaimana telah dikemukakandi atas; yang menempatkan lembaga gereja sebagai elemen (ter)penting.

Sebab, dalam komunitas bergereja masyarakat merasakan gelora keramahtamahan dan nilai-nilai kebersihan. Pengajaran
gereja oleh para pemimpinnya yang dipahami masyarakat mempunyai fungsi sebagai priest dan prophetic, akan mampu mencerahkan dan meneguhkan anggota jemaat untuk mempraktekkankeyakinan nilai hospitalitas tersebut. Di gerejalah umat beriman dapat mendengar pengajaran, khotbah mengenai kehendak Tuhan mengenai relasi keramahtamahan Allah Bapa kepada manusia, mendengar pengajaran mengenai perlunya kebersihan untuk menangkal berbagai penyakit termasuk melawanpenyebaran virus corona yang sangat mengganggu banyak aspek hidup.

Sehingga umat Tuhan yang bekerja sebagai pegawai hotel atau home stay, pedagang makanan, nelayan, petugas kapal, penjaga pantai dan pelabuhan atau pihak terkait lainnya akan mewujudkan keyakinan nilai-nilai imannya. Pada prakteknya, umat beriman ini akan bertindak dengan sikap penuh ramah, sopan santun, menjaga kebersihan. Sehingga masyarakat semakin bersukacita, damai sejahtera, sehat dan para wisatawan akan semakin banyak berdatangan untuk merasakan adanya “tanda-tanda kerajaan Allah yang diajarkan oleh gereja”.

Dan secara logis, tanpa menghiraukan adanya dampak negatif, maka dampak dari kondisi demikian akan menjadikan angka pertumbuhan ekonomi masyarakat akan mengalami laju yang cepat. Dan itulah praktek hidup yang dimaknai atas etos pariwisata dalam wujud hospitality.

Selamat ulang tahun yang ke-21 Pemerintah Kabupaten Toba Samosir dan selamat atas perubahan nama menjadi Kabupaten
Toba. Tuhan terus memberkati para pejuang dan pendiri Kabupaten ini dan kiranya kerja keras yang baik dari pemimpin sebelumnya akan berbuah yang lebat.
Tuhan memberkati jajaran Pemerintah Kabupaten Toba dan segenap masyarakatnya.
Selamat Ulang Tahun. (f)