Nadiem Makarim : 50 Ribu Guru akan Ditingkatkan Kompetensinya


384 view
Foto: Ricardo/JPNN.com
Nadiem Makarim.
Jakarta (SIB)
Sebanyak 50 ribu guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan di 5.000 PAUD, SD, dan SMP menjadi target Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk peningkatan kompetensi dalam Program Organisasi Penggerak (POP). Program tersebut dimulai 2020 sampai 2022.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, menyebutkan ketiga jenjang tersebut memiliki target sasaran paling banyak, sehingga dia yakin penerapan POP di PAUD, SD, dan SMP, akan lebih berdampak luas.

“Mereka (organisasi penggerak) akan kami bantu dengan pendanaan, melalui seleksi yang transparan dan fair untuk mentransformasi siswa atau sekolah menjadi sekolah penggerak,” ucap Nadiem, Rabu (18/3).

Mendikbud menuturkan, organisasi penggerak yang memiliki ide bagus dan sudah dijalankan bahkan sudah memiliki output baik, dapat mengikuti POP merujuk tiga kategori yang sudah ditetapkan yaitu Kategori Gajah, Kategori Macan, dan Kategori Kijang.
“Bagi yang sangat baik akan dilanjutkan, bahkan dikembangkan lagi,” katanya.

Namun dia mengingatkan bahwa proses seleksi tidak hanya berlangsung ketika pendaftaran. Kemendikbud akan melakukan monitoring dan evaluasi secara periodik untuk melihat sejauh mana hasil yang dicapai oleh organisasi dalam meningkatkan pembelajaran siswa.

“Secara berkala akan diseleksi, dan bagi yang tidak memenuhi target tidak akan lagi diikutkan dalam program. Jika dalam kurun waktu tertentu tidak menunjukkan hasil (yang baik) maka pendanaannya akan disetop. Ini proses yang organik dan dinamis,” tegasnya.

Berkaitan dengan mekanisme seleksi pertama, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Praptono, menyebutkan organisasi perlu mempertimbangkan kriteria yang dipilih dan bukti pendukungnya.

Dalam juknis dijelaskan, POP yang diberikan selengkap-lengkapnya menginformasikan apa yang sudah dikerjakan tahun sebelumnya. Jadi isinya terdiri dari video, foto, dan hasil kajian yang sudah dilakukan yang menunjukkan dampak programnya terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

“Supaya Tim Evaluasi bisa mengukur kredibilitas lembaga tersebut, termasuk untuk melihat kredibilitas para guru,” kata Praptono.
Ditambahkan Praptono, mekanisme pengawasan yang akan dilakukan Tim Evaluator akan mengkaji sisi administrasi dan substansi, untuk memastikan program ini akuntabel yang mengutamakan efektivitas dan efisiensi.

“Selanjutnya, Tim Evaluator memberi rekomendasi sebagai acuan untuk verifikasi lapangan pada periode 16 Mei -30 Juni mendatang,” jelasnya.

Model Kompetensi Guru dan Kepsek Baru
Kemendikbud mengadakan uji publik model kompetensi guru dan kepemimpinan sekolah. Model kompetensi baru ini diharapkan bisa menjawab tantangan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia ke depan.
"Salah satu upaya yang kita himpun adalah dengan penguatan peran kepala sekolah dan guru," kata Praptono, dalam diskusi yang dilakukan secara daring, Rabu (18/3).

Praptono mengatakan, melalui kompetensi baru ini Kemendikbud ingin mewujudkan kepala sekolah yang bisa menjadi penggerak sekaligus menggerakkan. Maka, salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan membangun model kompetensi yang bisa dipahami oleh semua yang terlibat.

Menurut dia, perguruan tinggi sebagai wadah untuk menghasilkan guru serta Kemendikbud memiliki tanggung jawab untuk memunculkan guru hebat. Oleh sebab itu, seluruh pihak harus memiliki pemahaman yang sama dalam model kompetensi yang disiapkan ini.

"Sudah melalui diskusi panjang dan mendengar banyak masukan baik dari kepala sekolah, guru, para ahli, dan pakar semua sudah kita dengar," kata Praptono.

Ia pun mendorong, agar ke depannya, kepala sekolah dan pengawas lebih berperan dalam peningkatan pendidikan. Di dalam uji publik ini, ia juga meminta masukan yang komprehensif sehingga bisa menjadi dasar untuk mengambil kebijakan yang strategis. (JPNN/Rol/f)