Basuki E Priyanto, Berlimpah Paten di Teknologi 4G & 5G


760 view
Jakarta (SIB)- Seorang peneliti yang baik mesti memiliki beberapa kualifikasi penting. Basuki Endah Priyanto, Master Engineer, Connectivity – Research di Sony Mobile Communications, Swedia menuturkan, sifat tak pernah puas dengan ilmu yang dimiliki adalah yang paling utama. Ia tak pernah menyerah saat beragam tantangan datang menghampiri ruangan kerjanya. “Saya lebih suka melihat tantangan sebagai peluang. Menjadi researcher itu adalah komitmen untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Selama kita tidak cepat berpuas diri dengan knowledge yang kita miliki, mau terus belajar untuk mencapai posisi dimana kita bisa lebih berkembang, saya rasa semua tantangan dengan sendirinya akan menjadi peluang untuk memperbaiki diri,” katanya.

Menurut pria kelahiran Bandung, 9 Juni 1976 tersebut, ia mendapat amanah melakukan riset dan pengembangan telekomunikasi selular masa depan, yaitu generasi ke-5 (5th Generation Cellular Communications) dan menjadi delegasi SONY di badan standarisasi komunikasi selular dunia (3GPP). Tugas utama saya sebagai delegasi SONY di badan standarisasi dunia adalah bersama-sama dengan pelaku industri komunikasi seluler lainnya di dunia (seperti Ericsson, Qualcomm, Nokia, dll), merumuskan dan menciptakan generasi teknologi selular yang terbaru (misalnya evolusi LTE) di pertemuan 3GPP yang diadakan secara berkala di beberapa tempat di Eropa, Amerika maupun Asia.

“Keahlian saya adalah merancang teknologi komunikasi seluler seperti 4G dan sekarang 5G. Sejauh ini, saya sudah memiliki puluhan paten di teknologi 4G dan 5G. Di perusahaan tempat saya bekerja sekarang, saya satu-satunya non-swedish yang menjadi delegasi perusahaan untuk menghadiri 3GPP meeting,” ujarnya.
Itulah yang membuat lulusan S-1 Teknik Elektro dengan predikat cum laude dari Institut Teknologi Bandung ini betah bekerja Sony Mobile Communications. Amanah besar untuk melakukan riset di bidang wireless communications yang paling mutakhir (5G) adalah tantangan tersendiri. Namun, dia merasa bangga saat didapuk menjadi delegasi SONY yang membawa nama perusahaan di badan standarisasi telekomunikasi selular dunia (3GPP). “Di sana, saya punya kesempatan besar untuk bertemu dengan para pemain kunci di bidang telekomunikasi selular di seluruh dunia,” katanya bangga.

Setelah menyelesaikan program doktoral di bidang Wireless Communications di Aalborg University, Aalborg-Denmark pada tahun 2008, Basuki memutuskan untuk berkarier di dunia profesional dengan tetap menjalankan riset dan pengembangan. Awalnya, dia bergabung di unit riset dan pengembangan Ericsson AB di Lund, Swedia. Setelah 4 tahun, ayah dua anak ini mendapat tawaran dengan posisi yang lebih baik untuk bergabung di Huawei Technologies Sweden AB di Lund, Swedia. Posisinya adalah Senior Specialist Algorithm Design yang bertugas memimpin sebuah grup riset untuk teknologi 4G. Hampir 3 tahun di Huawei, ia memilih berlabuh di Sony Mobile Communications AB pada September 2014 di Lund, Swedia.

Anak dari purnawirawan TNI AU ini mengaku, memilih bekerja dan bertempat tinggal di Swedia dari motivasi dan inspirasi orang tua. "Saya tinggal di Swedia tapi tetap warga negara Indonesia. Saya termotivasi dan inspirasi dari orang tua yang menyatakan untuk bekerja dan berusaha dimana pun," terang pria bergelar Doctor di Denmark ini.

Suami dari Ihdina Sukma Dewi ini mengaku, perhatian pemerintah kepada ilmuwan di Indonesia sangatlah minim. Hal itulah yang membuat dirinya untuk selalu melakukan pertimbangan bila pulang ke kampung halamannya.

"Bagi kami yang di luar negeri, Sebelum pulang kami harus tahu apa tantangan dan masalah yang di Indonesia. Apresiasi buat kita ilmuwan sangat kurang. Intinya, dimana pun saya, akan tetap bermuara ke Indonesia. Saya cukup bangga jadi Indonesia," akunya.

Dia mengaku, faktor yang membuat dirinya betah di Swedia adalah keluarga. "Kalau saya mau pulang atau pindah ke negara lain, saya harus berdiskusi kepada pembimbing dan keluarga. Dimana pembimbing mengatakan, dimana paling betah. Selain itu, istri saya juga kuliah di Swedia, kemudian apabila di Swedia, bila cuti bisa mendapatkan 480 hari kerja dan gaji hampir dibayar penuh," tambahnya. (Swa.co.id/Metro TV/d)

Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com