FSGI Minta Kemendikbud Ikut Sertakan Guru dan Orangtua Jika Ubah Kurikulum


295 view
ANTARA
Kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.
Medan (SIB)
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengingatkan Kemendikbud tidak mengabaikan peran serta guru, orangtua dan tokoh masyarakat jika akan merubah Kurikulum 2013. Hal ini dikatakannya mengingat beredarnya penyusunan draf perubahan Kurikulum 2013 dalam pesan berantai WhatsApp.

Dikatakan, apabila draf tersebut benar berasal dari Kemendikbud, maka hal tersebut sangat disayangkan dan disesalkan, sebab tidak melibatkan sama sekali para pemangku kepentingan pendidikan.

"Harusnya jika ingin mengubah draf kurikulum, Kemendikbud harus melibatkan semua pihak, seperti organisasi profesi guru, asosiasi guru mata pelajaran serta LPTP (Lembaga Pendidik Tenaga Pendidikan). Apalagi sebenarnya FSGI sendiri sudah melakukan kajian bahkan telah bersuara sejak adanya rencana perubahan kurikulum pada tahun 2013 lalu.

Artinya apa yang kita suarakan pada saat itu, sama dengan saat ini, di mana rencana pemerintah melakukan perubahan pada 2021. Jadi baiknya perubahan ini harus dilakukan dengan terencana dan terukur," kata Satriwan kepada SIB, Sabtu (19/9).

Hal senada disampaikan Wasekjen FSGI Fahriza Tanjung, menyarankan agar baiknya yang dilakukan pemerintah yaitu menyampaikan sejauh mana evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum 2013, apakah berhasil atau tidak. Sehingga ketika diputuskan untuk melakukan perubahan, publik dapat memahaminya.

"Bukankah ketika perubahan kurikulum 2006 ke kurikulum 2013, disampaikan bahwa kurikulum 2013 adalah yang terbaik yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan akan mampu meningkatkan peringkat Indonesia pada penilaian PISA (Program for International Student Assessment) atau program penilaian pelajar internasional. Karena nyatanya peringkat Indonesia tidak kunjung membaik, tetap berada pada peringkat bawah," tegasnya.

Lanjutnya, perubahan kurikulum memang diperlukan, mengingat kurikulum yang ada saat ini sangat memberatkan bagi siswa. Bahkan ini sudah diingatkan ketika pembahasan dan uji publik kurikulum 2013. Tetapi Kemendikbud tidak menghiraukannya, dimana perubahan pada saat itu lebih berfokus pada perubahan KI/ KD, model pembelajaran dan penilaiannya.

"Karenanya, seluruh stakeholder pendidikan harus dilibatkan untuk melakukan penyederhanaan kurikulum ini. Alangkah lebih baik jika dilakukan integrasi antar mata pelajaran (Mapel) bukan menghapus salah satu atau beberapa Mapel," katanya.

Ditambahkannya, bagi FSGI sendiri perubahan kurikulum bukanlah hal yang mendesak, ada baiknya Kemendikbud untuk fokus pada peningkatan kualitas guru terlebih dahulu. Karena sebagus apapun kurikulum yang dibuat, jika guru yang mengimplementasikannya di lapangan kualitasnya rendah maka kurikulumnya tidak akan jalan.

"Maka jangan heran ketika di depan kelas, walaupun kurikulumnya berubah-ubah terus, gaya mengajar guru tetap saja sama tidak berubah juga. Harus ada pelatihan guru berbasiskan kompetensi yang dimiliki guru, sesuai dengan kebutuhannya, tidak sporadis atau disamaratakan,"katanya. (M20/d)