Samakan Nada Suara dan Detak Hati


134 view
Internet
Ilustrasi
Bruk! Loly memukul keras meja dengan besi dari balik pintu. Seketika Sisca terbangun.

“Ampuuun, Bu. Ampuuuun,” ujarnya sambil mengaduh. Soalnya saat bersamaaan Loly menarik telinga kawannya.

Kelas jadi riuh karena hampir seluruh isi ruangan tertawa. Setelah sadar bahwa Loly korban prank, ia marah tapi kadung rekan-rekannya menyoraki. Ia melampiaskan kesal pada Sisca.

Loly memang suka tidur di kelas. Pakai ngorok. Tetapi, uniknya, tetap saja jadi idola cowok-cowok. Kalau gak di sekolah dari kelas lain, cowok dari sekolah lain.

Loly memang cantik, tapi kalau pemalas, cuek dan lainnya kenapa masih di sukai cowok. Ia bahkan seperti cewek antisosial. Maksudnya, jika kegiatan terkait sekolah, langsung membentengi diri. Tak mau berpartisipasi. Sebaliknya, jika untuk acara ketawa-ketawa, ia paling aktif.

Konon, Roni suka pada Loly karena sifat riangnya hingga bila tak ada perempuan bertubuh gempal mulus itu, tak ramai. Putus dari Roni, cepat sekali Loly menjalin asmara dengan Dave.

Dave itu sepanter dengan Roni. Ganteng dan tampan. Anak orang tajir. Suka ntraktir. Baru lagi hot-hotnya hubungan dengan Dave, tiba-tiba dengar kabar Loly sudah gandengan Robby.

“Aku sih tidak sakit hati. Yang kukhawatirkan Loly lepas kendali dan entah kenapa-kenapa,” ujar Robby yang membuat Sisca tekejut. “Sebenarnya Loly itu perempuan baik, sangat baik tapi kurang perhatian!”

“Jadi, kamu masih mau memerhatikan?”

Robby terdiam. Ia mendongak menatap serius pada Sisca. Mau jujur, takut diejek. Mau bilang tak ada lagi perhatian karena sudah sakit hati ditinggal Loly, ntar dibilang masih berharap. Eh, ia memang masih ingin kembali merajut kebersamaan dengan perempuan penceria tersebut.

“Hayo jawab!”

“Hmm... mau yang jujur?”

“Aku gak suka kaubohong!”

Robby terkejut. Kok Sisca serius banget soal Loly. Ia jadi teringat ketika jalan-jalan sebelum semilockdown. Saat itu Loly bersama cowok dari sekolah lain. Namanya Akmal.

Ganteng, tampan, perhatian... lengkap. Cewek-cewek yang ikut pasti memandangnya dan membicarakan cowok asing yang ikut dalam rombongan. Begitu hampir sempurnanya Akmal, tapi masih kurang lengkap bagi Loly.

Sisca membandingkan Akmal dengan Robby. Di matanya Robby lebih sempurna ketimbang Akmal yang membuat keduanya terdiam dalam saling pandang.

Robby menangkap keanehan di jatungnya tapi tak berani mengutarakan pada Sisca. Cewek berlesung pipi itu pun demikian hingga malam hening tersebut terlewat begitu saja.

Pulang camping, Sisca terus menghubungi Robby. Chat biasa tapi kelihatan pedulinya. Robby sih datar-datar saja. Soalnya ia khawatir dengan status Sisca.

Robby tahu Sisca menjalin hubungan dengan Ferry. LDR sih tapi sangat tak baik jika menggunjingkan hubungan orang lain. Apalagi Ferry itu kawannya sejak kecil. Sesusngguhnya ia ingin tahu posisi sebenarnya tapi sungkan.

Kasihan sih sama Sisca yang terus sendiri. Apalagi malam Minggu. Kawan-kawannya heboh mau kencan, tapi Sisca cuma pengembira. Padahal Loly sudah selalu mengejak. Menjodohkan Sisca dengan Robby tapi keduanya tak juga menyatu.
“Nikmati hidup mumpung muda,” teriaknya. “Jangan sampai keburu nikah, menyesal...”

Sisca mengaku pasrah dengan jodohnya. Robby diam saja kalau bicara calon pasangan. Tetapi, kali ini ia sangat serius tentang nasibnya.

Malu juga pada adiknya yang sudah mendesaknya untuk segera memilih calon pasangan. Adiknya mengaku tak mau melangkahi Robby karena tak punya uang membayar syarat.

Robby nekat mengajak Sisca jalan-jalan dan disambut hangat. Begitu ketemu, ia jadi ragu-ragu. Sisca datang tak biasa. Luar biasa cantiknya. Pakai gaun lengkap dengan aksesorisnya tapi bersama rekannya, Nita.

Ingatan Robby langsung ke tiga tahun lalu ketika masih menjadi kekasih Nita. Hubungan itu putus karena Nita jalan dengan Ferry yang sekarang kekasih Sisca. Hanya saja, tak seorang pun tahu kasusnya.

Robby jadi diam tak berani berterus terang pada Sisca. Malam itu pun berlalu tanpa kesan. (a)
Penulis
: Nola Alethia Peranginangin