Cerpen

Perempuan Seragam Merah Putih

Karya : Tarizky Adinda Siregar - SMAN 2 Rantau Selatan

280 view
tokopedia
Ilustrasi
Lama-kelamaan Ida paham juga. Nama itu seperti doa. Tengoklah Kezia Michaellah Retno Palupiningsih. Seindah namanya, wajahnya pun ayu dan cantik.

Ketika ada seleksi anggota pengibar bendera, Ida ngotot ikut karena punya pengalaman ikut Pramuka. Sejak SD ia aktif dalam kegiatan Praja Muda Karana. Itu sebabnya ketika OSIS membuka pendataran penggerek bendera, ia mendaftar dengan kepercayaan tinggi.

Yang bersedia melewati jumlah kuota hingga dilakukan seleksi. Ida merasa nilainya paling tinggi dari semua peserta. Apalagi penilaian dari baris-berbaris.

Benar, ketika diumumkan, Ida yang pertama kali dinyatakan lolos dan diikuti enam belas lain. Sahabat dekatnya, Kezia di nomor sekian. Saat pendadaran dan latihan dilakukan, Ida merasa mampu. Tetapi, karena pandemi Covid-19 diumumkan jadi bencana, upacara bendera sudah tak lagi diadakan.

Jangankan baris-berbaris, belajar pun dari rumah. Jadi, mau bagaimana upacara. Kawan-kawannya yang sudah ditetapkan menjadi tim pengibar bendera, jadi malas latihan. Untuk apa terus memantapkan diri toh tampilnya entah kapan.

Ia pun jadi malas bicara Paskibra. Meski pembelajaran jarak jauh, bersama kawan-kawan dekatnya tetap ngumpul. Minimal, sepekan dua kali ngumpul. Yang pertama untuk ekstra kurikuler.

Ida dan kawan-kawan memilih ke kolam renang karena yakin olahraga berat tersebut dapat mem buat bentuk tubuh ideal. Yang ketua berkumpul wajib di sekolah dalam jumlah terbatas.

Meski terbatas dan jaga karak plus mengindahkan protokol kesehatan, tetap saja ketawa-ketawa dan berlama-lama.

Ia sudah mengubur keinginan menjadi anggota Paskibra. Perasaan serupa pun diutarakan kawan-kawannya. Tetapi, bila mendengar lagu-lagu kebangsaan diperdengarkan, hatinya berdebar juga.

Teringat ketika di Pramuka dan tahun-tahun sebelumnya. Setelah upacara di sekolah, ramai-ramai ke Lapangan Merdeka untuk mengikuti kegiatan peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang paling difavoritkannya adalah kelompok Paskibra yang tiga orang. Dua penggerek dan satu pembawa Dwiwarna.

Selebihnya memfavoritkan kelompok pengawal yang biasanya diisi perwira muda dari ragam kesatuan. Tetapi ya itu tadi... karen masih pandemi, semua berantakan.

Belum ada pengumuman resmi tapi Ida melihat gejala-gejala upacara kenaikan bendera dibatalkan. Sudahlah...
Menutup kekecewaan, Ida mengusulkan jalan-jalan. Apalagi 17 Agustus tahun ini didahului hari libur. Ada yang mengusulkan kamping tapi karena gunung favorit masih memuntahkan lahar, tujuan dialihkan ke tempat lain. Ke laut saja.

Tak hanya ingin refreshing tapi tetap memeringati hari paling bersejarah dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Ia ingat bagaimana tim pasukan elit mengibarkan bendera di dasar laut.

Jika mungkin, tidak usah di dasar tapi menaikkan bendera di bibir pantai dengan ombak besar pun sebagai tantangan yang mendatangkan sensasi.

Semua rencana dimatangkan dan tim kamping ditetapkan. Ida kebagian seksi konsumsi. Kawan-kawan bilang karena Ida jago masak. Padahal, sesungguhnya karena suka makan.

Ketika sampai di tujuan, saat rombongan mengemasi barang dan menyiapkan tenda, Ida justru membongkar bahan makanan. Santai diambilnya nasi dan sambal teri kacang berhias petai yang dibawanya.

Baru selesai menata tempat, Ridho dapat telepon dari Guru BP. Isinya, seluruh tim harus pulang karena Upacara 17 Agustus diadakan hingga harus latihan.

Aduh... meski geram tapi kabar itu membahagiakan. Rombongan pulang dan ke sekolah untuk beroleh pengarahan. Karena upacara dengan peserta terbatas, tim Paskibra tidak semuanya dilibatkan.

Dilakukan pengurangan. Hanya tiga orang. Kali ini, Ida tak terpilih karena pihak sekolah menetapkan Kezia. Ida kesal tapi lama-kelamaan diterimanya.

Sesuai namanya yang indah, Kezia lebih ayu darinya. Meski berseragam merah-putih tapi Ida di posisi pengganti.
Penulis
: redaksisib