Beban Bertambah di Masa Pandemi, Perempuan Mampu Beradaptasi


313 view
Dok Pribadi
Dra Ria Manurung MSi
Pandemi Covid-19 menambah beban bagi perempuan. Kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga kini lebih banyak melakukan pekerjaan rumah dan mengurus keluarga. Tugas ini ditambah lagi mendampingi anak belajar dari rumah (BDR) sejak pemerintah memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sejak pandemi melanda Indonesia pada pertengahan Maret 2020.

"Kondisi ini membuat banyak perempuan stres. Kesehatan mental dan fisik mereka juga terganggu," kata Sosiolog Universitas Sumatera Utara (USU), Dra Ria Manurung MSi kepada SIB melalui telepon, Kamis (10/12).

Menurut Ria, beban paling berat dirasakan para ibu rumah tangga yang suaminya kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Dalam situasi tidak memiliki simpanan (tabungan), para ibu rumah tangga ini mau tidak mau harus mencari cara memenuhi kebutuhan makan keluarga sehari-hari. Beban ini ditambah lagi harus mengurus pekerjaan rumah tangga dan anak.

"Apalagi ibu-ibu rumah tangga ini tidak bisa langsung menjadi kreatif mencari uang. Bisa karena tidak memiliki kemampuan, mungkin juga harus mendampingi anak-anaknya belajar di rumah," kata Ria.

Berbeda dengan kaum perempuan pekerja. Menurut Ria, kalangan perempuan ini sudah terbiasa dengan banyak pekerjaan dan tekanan. Sehingga ketika para perempuan ini kehilangan pekerjaan dan harus di rumah, mereka bisa mencari solusi.

"Beban ini paling dirasakan kaum perempuan di perkotaan. Kalau perempuan di pedesaan daerah pertanian, mereka sudah terbiasa melakukan banyak pekerjaan," kata Ria.

Ria sependapat perempuan ibu rumah tangga maupun wanita pekerja, sama-sama menghadapi beban yang bertambah di masa pandemi Covid-19 ini. Pandemi, katanya, membuat jam kerja perempuan semakin panjang sehingga waktu istirahat mereka berkurang.

"Di masa pandemi ini kita membatasi orang lain masuk ke rumah, sehingga mau tidak mau ibu harus mengolah sendiri makanan untuk keluarganya dan mengerjakan tugas domestik lainnya," tutur Ria.

Meski beban bertambah, Ria mengatakan, kaum perempuan bisa beradaptasi. Di awal pandemi, diakuinya banyak yang bingung harus melakukan apa. Seiring berjalannya waktu dan masyarakat sudah terbiasa dengan situasi pandemi, kaum perempuan ini juga mulai bangkit. Mereka mulai memanfaatkan media sosial untuk bisnis.

"Kita liat sekarang di media sosial, banyak yang jualan kue-kue kering, hasil kerajinan tangan, makanan dan lainnya. Ini membuktikan kaum perempuan itu punya potensi dan mampu beradaptasi dengan keadaan," kata dosen FISIP USU ini.

Wanita yang sedang mengambil program Doktor ini juga memuji kebijakan pemerintah yang menggelontorkan bantuan-bantuan kepada masyarakatnya. Bantuan-bantuan tersebut, menurut Ria, sangat membantu masyarakat beradaptasi di tengah situasi pandemi ini.

"Sudah tepat pemerintah memberikan bantuan setahun ini. Setelah itu, kita sudah terbiasa karena sudah beradaptasi dengan situasi yang ada," kata Ria.

Ria juga mengatakan pandemi tidak melulu mengakibatkan kesulitan. Di tengah pandemi ini, banyak warga yang menjadi kreatif dan menciptakan usaha-usaha baru termasuk dilakukan kaum perempuan.

"Saya optimis kaum perempuan mampu beradaptasi dengan situasi yang ada. Kita lihat sekarang banyak muncul usaha-usaha baru yang dilakukan kaum perempuan termasuk ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak kreatif," tutup Ria. (R17/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib Edisi Cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com