Marwa Elselehdar

Kapten Kapal Perempuan Pertama Mesir yang Disalahkan dalam Insiden Terusan Suez


201 view
(Tangkapan Layar Instagram @marwa.elselehda)
Foto: Marwa Elselehdar 
Kairo (SIB)
Beberapa waktu lalu, seorang kapten kapal perempuan di Mesir, Marwa Elselehdar, menjadi sasaran kabar hoaks yang menyalahkannya atas kemacetan di Terusan Suez. Terusan Suez macet akibat sebuah kapal kontainar raksasa Ever Given menyangkut di kanal tersebut pada 23 Maret.

Padahal saat itu, Elselehdar sedang berada di kapal Aida IV yang sedang berada di Alexandria, ratusan kilometer jauhnya dari Terusan Suez. Fitnah yang menerpa Elselehdar atas kemacetan di Terusan Suez berasal dari tangkapan layar dari berita palsu yang seolah-olah diterbitkan oleh Arab News. Padahal, tangkapan layar tersebut merupakan hasil editan. Berita aslinya di Arab News menceritakan perjalanan Elselehdar menjadi kapten kapal. Elselehdar lantas dengan keras membantah berita bohong tersebut dan dia tidak mengetahui siapa yang menyebarkan kabar hoaks tersebut.

Lantas siapa sebenarnya Elselehdar? Melansir Arab News, Marwa Elselehdar merupakan seorang wanita pertama yang bekerja sebagai kapten kapal di Mesir. Dari kecil, Elselehdar rupanya sudah mencintai laut dan suka berenang. Ketika remaja, dia mendaftar di Akademi Sains, Teknologi, dan Transportasi Maritim Arab (AASTMT) di Mesir dan diterima di Departemen Transportasi dan Logistik Internasional. Namun, dia lebih tertarik pada kurikulum yang diajarkan kepada saudara laki-lakinya di Departemen Transportasi dan Teknologi Maritim yang terbatas hanya untuk laki-laki.

Elselehdar berkeras dan masih mengajukan lamaran untuk bergabung dengan Departemen Transportasi dan Teknologi Maritim. Hingga akhirnya, dia diterima dan menjadi wanita Mesir pertama yang belajar di departemen tersebut.

Kakak dan ibu Elselehdar mendukung mimpinya menjadi kapten wanita pertama di Mesir. Ayahnya juga tidak keberatan dengan studinya. Dia kemudian memulai formalitas untuk bergabung dengan departemen. Presiden akademi lantas meminta penelitian hukum maritim untuk memverifikasi kemungkinan memberikan lisensi kapten kepadanya.

Setelah memastikan bahwa undang-undang tidak memberikan batasan, pemeriksaan dimulai. Elselehdar rupanya lulus melewati tes fisik, tes medis, serta wawancara pribadi. Kelulusan berbagai macam tes tersebut membuktikan kemampuannya untuk mengendalikan dan mengelola berbagai situasi. Elselehdar akhirnya bergabung dengan departemen seperti mahasiswa lainnya.

“Saya menghadapi kesulitan dalam beradaptasi, terutama selama tahun pertama. Tetapi dorongan dari orang-orang di sekitar saya, dan kemampuan saya sendiri untuk percaya pada mimpi saya membantu saya mengatasi tantangan ini,” kata Elselehdar.

Setelah lulus, Elselehdar bergabung dengan awak kapal Aida IV dengan pangkat Perwira II. Menjelang upacara pembukaan Terusan Suez yang baru, dia melamar untuk mendaftar sebagai bagian dari kru yang akan memimpin Aida IV dalam perayaan tersebut. Permintaannya diterima dan dia bersiap dengan rekan-rekannya untuk upacara tersebut. Dalam upacara tersebut, dia memimpin Aida IV sebagai kapal pertama yang melintasi rute pengiriman baru tersebut. Selain itu, dia juga menjadi kapten wanita termuda dan pertama Mesir yang menyeberangi Terusan Suez.

Elselehdar telah bekerja di lapangan selama 10 tahun. Dia menjelaskan bahwa persentase wanita di posisi maritim yang sama tidak melebihi 2 persen di seluruh dunia. Menjadi wanita Mesir pertama dalam hal ini merupakan kehormatan besar baginya. Dia juga senang bahwa banyak gadis yang mengikuti jejaknya. Pada 2017, Elselehdar diberi penghormatan pada Hari Perempuan oleh Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi. Dia merasa bangga atas penghormatan yang diterimanya.

Penghormatan itu dilihatnya tak hanya sebagai bentuk penghargaan dari negara atas apa yang telah dia lakukan, tetapi juga sebagai bentuk minat negara dalam memberdayakan perempuan Mesir. “Awalnya agak sulit, tapi kami kemudian menjadi satu tim, dan kami membagi tugas secara merata. Dan karena lamanya perjalanan ini, kami semua menjadi seperti saudara,” tambah Elselehdar. Kini, dalam usia 29 tahun, Elselehdar bermimpi bisa meraih gelar master dan doktor. Dia pun berharap, pernikahan dan berkeluarga tidak akan menghalangi kariernya. (kps/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com