"Warning" Bulutangkis Indonesia


190 view
(Shutterstock)
Ilustrasi badminton
Pecinta olahraga bulutangkis Indonesia bergembira ketika kompetisi tingkat dunia yang dinaungi Federasi Bulutangkis Dunia (WBF) dimulai lagi setelah "istirahat" hampir 10 bulan akibat terhalang pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, sejak dulu atlet dan prestasi bulutangkis Indonesia sudah sangat terkenal serta disegani di dunia. Sederet nama pebulutangkis antara lain Rudi Hartono, Tjun Tjun, Ade Chandra, Johan Wahyudi, Christian Hadinata, Liem Swe King, Verawaty Pajrin, Ivana Lie sampai zaman Susi Susanty dan Alan Budikesuma sudah melegenda.

Setelah itu ada masa-masa "surut" prestasi ketika masa regenerasi, di awal bergabungnya induk organisasi lain yakni IBF, dimana pebulutangkis China lumayan mendominasi. Namun masih ada pebulutangkis Indonesia yang sangat menonjol dan memiliki fans besar yakni Taufik Hidayat dan beberapa pemain ganda.

Apalagi ketika bulutangkis sudah dipertandingkan di Olympiade sejak tahun 1992, dunia terfokus pada cabang olahraga ini, sehingga semakin popular dan para pelatih Indonesia direkrut banyak negara di dunia. Akibatnya, kemampuan pebulutangkis sudah merata, tidak lagi didominasi China atau Indonesia. Lihat saja peringkat 1 tunggal putra dunia dipegang Jepang Momota. Begitu juga di tunggal putri peringkat 1 dunia Tai Tzu Ying dari Taiwan. Bahkan saat ini pebulutangkis terkenal berasal dari Spanyol Carolina Marin (tunggal putri) dan Viktor Axelsen (Denmark).

Lalu ke mana pebulutangkis Indonesia saat ini? Sejak gelaran Asian Games di Jakarta 2018 lalu, nama Jonathan Cristie, Anthony Ginting mulai terkenal mengikuti ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gideon, ganda campuran Lilyana Nasir/Tantowi Ahmad. Mereka ikut mendominasi raihan juara yang kompetisinya digelar sangat padat dan ketat. Bulutangkis sudah masuk era profesional. Hadiahnya pun tak tanggung, sampai miliaran rupiah.

Maret 2020, terakhir kompetisi digelar menghindari penularan Covid. Ketika itu Indonesia masih sangat disegani, para pebulutangkis hampir tidak pernah pulang tanpa gelar. Sektor ganda putra, ganda campuran, ganda putri dan tunggal putra masih diperhitungkan.
Semua berharap pebulutangkis Indonesia kembali jaya di awal kompetisi tahun 2021 yang dimulai di Thailand. Di Bangkok dipertandingkan kompetisi dua sesi masing-masing Toyota Thailand Open I dan II yang berkelas Super 1000 Super. Dilanjutkan dengan Final WBF yang saat ini sedang berlangsung. Final WBF diikuti peserta terbatas, hanya pemain yang memiliki poin tertinggi sesuai ketentuan WBF.

Sayangnya di tiga kejuaraan yang tak diikuti pebulutangkis ternama dari China dan Jepang (undur diri alasan pandemi), prestasi pebulutangkis Indonesia tak sesuai harapan. Mereka banyak gugur di babak awal seperti Jojo (Jonathan Cristie), Anthony Ginting, Praven Jordan/Melati Oktavianti dan lainnya. Cuma Gresya Polii/Apriyani Rahayu yang memetik juara. Namun di Final WBF Gresya/Rahayu tak disangka tumbang 2 set langsung dengan ganda putri tak terkenal Malaysia.

Pebulutangkis Korea, Taiwan, Thailand, Denmark, Spanyol bahkan Malaysia, Rusia dan Kanada unjuk gigi di tiga kompetisi ini. Indonesia yang mengirimkan pebulutangkis terbanyak malah paling sedikit yang masuk final.

Hal ini tentu sangat mengecewakan para pecinta bulutangkis Indonesia. Para nitizen mengkritik habis atlet dan pelatih. Bahkan pengurus baru PBSI ikut kena getah "amarah". Ada yang komen, mereka sedih bukan karena kekalahan, tetapi daya juang para atlet yang tidak ada. Pandemi dianggap tidak bisa jadi alasan, karena semua negara terimbas.

Kondisi ini membuat ketakutan akan terpuruknya lagi bulutangkis Indonesia, apalagi jelang gelaran Olympiade Tokyo pertengahan tahun ini. Semua berharap pengurus baru PBSI yang tanpa memilih lagi Susi Susanty sebagai Kabid Pembinaan Atlet, segera bergerak cepat membenahi atlet agar ketakutan terpuruk tidak terbukti.

Paling banyak disoroti soal mental atlet yang lemah bila dibanding pebulutangkis dari luar. Padahal diakui pebulutangkis kita memiliki banyak keistimewaan dengan pukulan dan teknik yang lengkap. Sementara pola permainan terkesan monoton, masih gaya lama, kurang variatif. Tak seimbang dengan permainan atlet luar yang sudah memiliki pola baru dan banyak mengejutkan.

Kritikan masyarakat terhadap PBSI merupakan bentuk kecintaan terhadap bulutangkis Indonesia. Cabang olahraga ini lah yang paling menonjol dan bisa mengharumkan nama bangsa. Karena kita tidak memiliki banyak olahraga terkenal, maka pelihara dan lestarikan prestasi bulutangkis. Kompetisi terakhir ini sebagai "warning" sebelum keharuman itu direnggut bangsa lain. (***)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com