Berpikir Sempit Menyebabkan Ketertinggalan


136 view
(istimewa)
Wakil Presiden, Ma'ruf Amin 
Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan bahwa cara berpikir adalah kunci utama dari maju mundurnya suatu peradaban. Dia juga mengungkap bahwa penyebab negara mayoritas berpenduduk Islam mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun ilmu pengetahuan dan teknologi adalah cara berpikir masyarakat dan para da'i yang masih sempit.

Ma'ruf Amin tentu punya alasan mengungkapkannya, apalagi beliau merupakan salah seorang tokoh terkemuka di NU yang juga mantan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia). Tentu dia juga bukan bermaksud menjelekkan atau merendahkan negara yang mayoritas berpenduduk Islam, termasuk di dalamnya Indonesia dibanding negara lainnya.

Diyakini dimaksudkan untuk menggugah dan mengingatkan bahwa berpikir sempit itu tidak baik dan cenderung sejalan seiring dengan berpikiran negatif yang harus dirobah jika bangsa ini mau lebih maju ke depan. Menurutnya, cara berpikir sempit bisa menyebabkan sikap egosentris, tidak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog. Pokoknya merasa diri sendiri yang benar, sehingga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama. Bahkan bisa menjadi radikal, sehingga dapat menjurus pada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Beberapa contoh berpikir sempit disebutkannya seperti yang terjadi saat ini. Jutaan orang sudah terpapar Covid-19, bahkan ratusan ribu sudah meninggal, tetapi masih ada yang belum percaya dan menganggap virus itu teori konspirasi. Masih banyak contoh lainnya, seperti adanya upaya-upaya menakut-nakuti masyarakat terkait vaksin dengan tujuan menggagalkan vaksinasi. Padahal vaksin sudah teruji, sehingga Presiden Jokowi rela menjadi yang pertama divaksin.

Anehnya, meskipun aparat pemerintah khususnya dari jajaran Kemenkes dan Tim Penanganan Covid sudah sosialisasi secara terus-menerus, tetapi masih ada juga masyarakat yang lebih percaya dengan berita-berita hoax. Ini juga merupakan salah satu ciri berpikir sempit dan negatif, yaitu lebih percaya gosip dan hoax dibanding informasi yang akurat.

Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam mayoritas tentu tidak bisa berdiam diri menghadapi ketertinggalan akibat cara berpikir sempit ini. Pembinaan sumber daya manusia sudah harus dibenahi sejak dini, baik sebelum usia sekolah dalam keluarga juga setelah sekolah secara formal maupun non formal yang selama ini banyak mempengaruhi cara berpikir peserta didik.

Negara melalui UU No.20 tahun 2003 telah menetapkan bahwa tujuan pendidikan itu agar peserta didik beriman dan menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, yang demokratis dan bertanggungjawab. Selain berwawasan luas maka peserta didik juga harus beriman dan bertakwa.

Namun dalam pelaksanaannya, sejak dini (sebelum sekolah) hingga perguruan tinggi, masalah iman dan takwa terasa mendominasi. Anak-anak dijejali dengan pendidikan iman dan takwa. Anak-anak tidak diajak dan diberi ruang berfikir rasional. Akhirnya tujuan mencerdaskan anak bangsa seperti dinomorduakan. Akibatnya, meskipun sudah lulusan perguruan tinggi, tetapi masih banyak yang berpikiran sempit dan cenderung radikal.

Padahal Pemerintahan Jokowi sudah menetapkan visi Indonesia Maju tahun 2045, yaitu menjadi negara maju berpendapatan tinggi dengan produk domestik bruto terbesar ke-4 di dunia. Hal itu dapat terwujud dengan mengubah paradikma ekonomi dari yang berbasis sumber daya alam (SDA) menjadi berbasis inovasi.

Menurut Menristek Bambang Bojonegoro, untuk merealisasikannya maka dibutuhkan teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan nilai tambah dan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), serta menjadi subsitusi impor. Dalam kaitan inilah dibutuhkan sumber daya manusia yang cerdas, kreatif dan berwawasan luas, bukan hanya yang beriman dan takwa.

Masyarakat juga harus mendukung dengan cara pikir yang rasional. Kemajuan bangsa tidak akan bisa dicapai dengan cara berpikir sempit, dengan saling menjatuhkan. Jika berpikiran sempit, maka apa yang dilakukan pemerintah akan selalu dinilai salah dan bila perlu harus digagalkan. Jika cara-cara seperti ini tidak dihentikan maka jangan mimpi negara ini semakin maju, bertahan saja sudah syukur, bahkan bisa mundur menuju kehancuran.

Dalam kaitan ini, maka sistem pendidikan harus dibenahi, mulai dari keluarga hingga perguruan tinggi. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu, tetapi kejarlah ilmu setinggi-tingginya. Sehingga sumber daya manusia Indonesia menjadi cerdas dan beriman.
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com