Jangan “Lestarikan” Perjudian


114 view
Istimewa
Ilustrasi judi

Masyarakat kembali main hakim sendiri terhadap aksi perjudian di Kota Medan dan sekitarnya. Rabu (31/3) malam, puluhan warga Lingkungan 15, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan yang didominasi ibu rumah tangga, menggerebek sejumlah lokasi diduga sebagai tempat permainan judi tembak ikan dan ding dong.

Mereka beramai-ramai secara emosi mengeluarkan mesin judi tembak ikan dan ding dong dari sejumlah lokasi, lalu menghancurkan mesin judi tersebut dengan menggunakan benda keras.

Salah seorang warga, Ihsan yang ditanyai wartawan mengatakan, sedikitnya ada empat unit mesin judi tembak ikan dan ding dong yang dirusak massa.

Bahkan satu unit yang sempat dibawa kabur dan disembunyikan di semak-semak oleh pengelolanya berhasil ditemukan warga. Kemudian, supaya tidak dapat digunakan kembali, mesin judi itu dirusak warga.

Menurut sejumlah warga, keberadaan mesin judi dengan jumlah cukup banyak di sekitar Lingkungan 15 Kelurahan Terjun tersebut sudah sangat meresahkan. Karena banyak anak maupun orangtua terlibat bermain judi tembak ikan.

Sejak beroperasinya permaninan judi itu, aksi pencurian di sana semakin sering terjadi. Pelakunya diduga warga merupakan anak-anak yang sudah kecanduan bermain judi tembak ikan maupun ding dong.

Aksi massa yang didominasi kaum ibu ini menurut catatan SIB sudah terjadi tiga kali dalam beberapa bulan terakhir ini. Menunjukkan betapa kondisi lingkungan yang sudah sangat meresahkan, namun tidak ada tindakan atau perhatian pemerintah, khususnya aparat keamanan.

Sebenarnya tindakan main hakim sendiri tidak dibenarkan dari segi hukum. Namun ketika ada pelanggaran hukum di depan mata tak tersentuh hukum, tindakan menghentikan pelanggaran hukum menjadi pembenaran oleh masyarakat. Dan masyarakat luas (publik) pun sepertinya mendukung tindakan main hakim sendiri oleh warga itu.

Dengan kejadian ini seharusnya aparat penegak hukum malu, karena tugasnya diambil alih masyarakat. Padahal masyarakat lah yang membayar gaji mereka. Lagi pula, kejadian seperti ini sudah terjadi berulang kali. Aneh rasanya kalau aparat tidak berbuat, malah seperti membiarkan perjudian yang merusak moral masyarakat, khususnya generasi muda.

Kita tak ingin citra terhadap aparat keamanan menjadi tak baik di mata masyarakat. Apalagi Kapolri, Kapolda dan jajarannya sedang gencar menaikkan citra positif, setelah dalam dekade ini (menurut berbagai survei) kepercayaan masyarakat terhadap polisi dinilai rendah dibanding institusi lain di negeri ini.

Memang Kecamatan Marelan, Medan Labuhan dan Belawan sangat kecil dibanding luasnya wilayah Indonesia, namun teknologi informasi dengan mudahnya menyampaikan keadaan ini ke seluruh pelosok negeri. Dengan pemberitaan atau masalah yang dianggap kecil ini, tentu sangat mungkin membuat opini negatif bagi keseluruhan institusi Polri.

Untuk itu kita mengharapkan keseriusan aparat keamanan menangani permasalahan judi di wilayah bagian utara Kota Medan. Jangan sampai aksi massa main hakim sendiri sampai terulang lagi. Mungkin saja, kalau perjudian masih dibiarkan setelah kejadian ini, akan ada aksi massa lebih besar dan meluas ke daerah lain. Jangan sepele dengan api, kecil jadi kawan besar jadi lawan.

Kini masyarakat menunggu tindakan tegas aparat keamanan terhadap maraknya perjudian di kawasan Kota Medan. Jangan "lestarikan" pelanggaran hukum yang akan bisa menumbuhkan hukum rimba di negeri tercinta. Selaras dengan kata bijak Nazwa Shihab: Rakyat perlu para penegak yang berwibawa, bekerja lurus demi keadilan dengan bangga. Karena kita tidak membayar seragam mereka, hanya untuk menegakkan hukum rimba.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:perjudian
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com