Jangan Abaikan TBC


127 view
Shutterstock
Ilustrasi Tuberkulosis atau TBC.
Munculnya pandemi Covid-19 menghebohkan dunia, sehingga mengabaikan penyakit lain yang lebih mematikan. Hari Tuberkulosis Dunia atau World Tuberculosis Day (TB), biasa disingkat TBC, yang jatuh pada 24 Maret mengingatkan kita bahwa TBC merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Sehingga diharapkan, bangsa ini harus tetap serius menanggulangi, karena Indonesia salah satu negara dengan pengidap TBC terbanyak di dunia.

Peringatan tahunan juga dimaksud untuk meningkatkan kesadaran global akan bahayanya tuberkulosis. Tanggal ini bertepatan dengan pengumuman yang dilakukan dokter Jerman dan ahli bakteriologi, Robert Koch pada tahun 1882 tentang penemuan mycobacterium tuberculosis, basil yang menyebabkan penyakit TBC ini.

Hari TB sedunia pertama kali diadakan pada 1982. Pada tahun 1980-an, kejadian TB sedang meningkat di seluruh dunia. Peningkatan ini terjadi setelah hampir 20 tahun penyakit tersebut berada di titik terendah sepanjang masa di negara maju, seperti AS dan Inggris.

Hal ini terjadi akibat dari peningkatan global dalam perjalanan dan migrasi serta upaya penurunan terhadap risiko terpaparnya infeksi TB di masyarakat dunia saat itu.

WHO kemudian menetapkan Hari TB Sedunia. Peringatan tahunan ini berfungsi untuk menarik perhatian para peneliti, lembaga pendanaan, dan publik untuk perang global melawan TBC.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI Wiendra Waworuntu mengatakan, TBC merupakan penyakit serius. Bahkan, tercatat ada 13 orang meninggal per jam karena TBC di Indonesia.

Ketua Dewan Pembina Stop TBC Partnership Indonesia, Arifin Panigoro mengungkapkan hal yang sama. Dia menyebut, dalam setahun tercatat ada 100.000 orang Indonesia meninggal karena TBC. Saat ini, Indonesia menduduki posisi ketiga dengan jumlah kasus TBC terbesar di dunia. Indonesia berada di bawah India dan China. Jika membandingkan tingginya temuan kasus TBC dengan jumlah penduduk, Indonesia sebetulnya menduduki ranking satu di dunia.

Setelah Covid-19 masuk Indonesia, penanganan terhadap TBC semakin terabaikan. Padahal untuk Indonesia kasus ini sangat serius. Kalau 100.000 orang per tahun, bila dibandingkan TBC, Covid tidak ada apa-apanya dari jumlah orang yang meninggal. Virus corona memiliki tingkat kematian yang rendah sekitar 3-4 persen saja. Dibandingkan dengan TBC, corona tidak memiliki daya bunuh yang tinggi.

Ketua IDI Daeng M Faqih mengatakan, sebaiknya kita jangan hanya terfokus dengan corona, sementara penyakit lain terabaikan. Dia mengatakan, kasus kematian pasien terjangkit corona tidak semata karena virus tersebut, melainkan, karena penyakit bawaan.
Seperti diketahui, TBC merupakan penyakit menular yang merusak jaringan paru-paru. Penyebab tuberkulosis adalah bakteri mycobacterium tuberculosis.

Salah satu cara mencegah TBC dengan menghentikan penularan TBC dari satu orang ke orang lain. Ini bisa dilakukan dengan mengidentifikasi penderita TBC, kemudian merawat, dan memberikan pengobatan. Vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) efektif untuk mencegah TBC sampai seseorang berusia 35 tahun. Efektivitas BCG bisa meningkat bila tidak ada pengidap TBC di lingkungan tempat tinggal. Vaksin ini pertama dikembangkan tahun 1920-an dan paling banyak digunakan untuk memvaksin hampir 80% bayi baru lahir di seluruh dunia.

Pencegahan penyebaran TBC akan efektif bila dilakukan diagnosis dan pengobatan sejak dini. Seseorang dengan penyakit TBC dapat menularkan bakteri kepada 10-15 orang setiap tahunnya. Bisa dibayangkan bagaimana penyebarannya bila tidak dilakukan pengobatan.

TBC penyakit yang menular melalui udara saat penderita TBC bersin atau batuk. Risiko infeksi bisa dikurangi dengan membuat sistem sirkulasi udara atau ventilasi yang bagus di rumah. Bakteri TBC dapat mengendap lebih lama dalam rumah apabila sistem ventilasi tidak bagus. Berikan juga pencahayaan yang cukup bagi rumah. Sinar UV dari matahari mampu membunuh bakteri TBC. Jadi pastikan rumah mendapatkan pencahayaan yang cukup.

Kemudian, sistem imun bisa ditingkatkan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga. Sistem imun yang baik membantu terhindar dari berbagai macam penyakit, termasuk bakteri penyebab TBC ini.

Sebagai penyakit yang mematikan, jangan abaikan pencegahan dan penanggulangan TBC gegara munculnya pandemi Covid-19.

Kita tak ingin ada "diskriminasi" terhadap pengobatan penyakit yang dianggap hanya "menyerang" masyarakat kelas bawah. Harus diingat, setiap orang hanya memiliki satu nyawa tanpa membedakan status sosial, dan nyawa tidak bisa dibeli dengan apapun. (***)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com