Langkah Awal Geliat Industri Hiburan


626 view
Langkah Awal Geliat Industri Hiburan
Foto: net
Ilustrasi Century FOX.

Ada kabar baik bagi penikmat film di Indonesia. Sebentar lagi pemerintah segera mengizinkan bioskop dibuka kembali, setelah lebih setengah tahun ditutup akibat pandemi Covid-19.

Semenjak bioskop ditutup, industri hiburan Indonesia terganggu dengan dihentikannya pembuatan film. Sehingga banyak tenaga kerja yang terlibat di dalamnya dirumahkan. Belum lagi ribuan tenaga kerja di ratusan bioskop tanah air terpaksa menganggur. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekononi kita di kuartal II tumbuh negatif 5,32 persen.

Seperti diketahui, beberapa tahun lalu perfilman Indonesia sempat lesu karena kalah bersaing dengan dunia televisi. Masyarakat lebih memilih nonton murah meriah di rumah ketimbang di bioskop, karena tontonan yang disajikan di televisi lebih variatif dan menarik.

Namun seiring berjalannya waktu muncul industri bioskop yang mampu menarik perhatian masyarakat. PT Nusantara Sejahtera Raya hadir beroperasi sebagai Cineplex 21 Group, sebuah jaringan bioskop dan pelopor jaringan cineplex di Indonesia. Jaringan bioskop ini tersebar di beberapa kota besar di seluruh Indonesia dan sebagian besar di antaranya terletak di dalam pusat perbelanjaan, dengan film-film Hollywood dan Indonesia sebagai menu utama, didukung teknologi tata suara dolby digital, THX dan yang terbaru dolby atmos.

Hingga saat ini Cineplex 21 sudah memiliki lebih 2.000 layar dan tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Minat masyarakat menonton di bioskop juga tinggi.

Kementerian Pendidikan dan kebudayaan mencatat ada 16 juta penonton pada 2015. Jumlah itu terus meningkat menjadi 36 juta pada 2016, 42 juta pada 2017 dan 48 juta pada 2018.

Jumlah penonton ini berkorelasi dengan pertambahan jumlah bioskop. Pada 2008, Indonesia memiliki 134 bioskop dan bertambah menjadi 279 bioskop pada 2017 dan 333 bioskop pada 2018.

Sampai 13 Mei 2019 bertambah 20 bioskop menjadi 353 bioskop, atau empat bioskop baru dibuka setiap bulannya.

Jaringan Cinema 21 masih menjadi pemilik bioskop terbanyak. Pada 2019, Cinema 21 memiliki 54,9 persen dari total 353 bioskop atau setara dengan 194 bioskop. Sisa 159 bioskop dimiliki oleh Cinemaxx, CGV Blitz dan teater-teater independen.

Kalau nilai investasi satu bioskop sekitar Rp30 miliar sampai Rp50 miliar. Nilai itu bisa berubah bergantung dengan jumlah layar dalam bioskop, luas bioskop dan lokasi.

Indonesia sendiri menurut laporan Motion Pictures Association of America (MPAA) sudah tergolong sebagai pasar film internasional yang besar.

Menurut laporan MPAA pada 2018, Indonesia berhasil membukukan pendapatan sebesar sekitar US$400 juta sehingga kembali menempati posisi 15 besar di pasar internasional.

Capaian tersebut bertambah sekitar US$100 juta atau Rp1,4 triliun dibandingkan pada 2017, yang saat itu Indonesia menempati posisi ke-16 dalam 20 besar dalam pasar internasional.

Nilai pasar yang tinggi ini pula menjadi penyebab mengapa pemerintah memperhatikan sektor industri hiburan untuk mendongkrak perekonomian nasional yang di ambang jurang resesi. Sehingga mau tidak mau kebijakan ini harus didukung semua pihak demi menyelematkan ekonomi.

Namun di sisi lain masih tingginya kasus positif Covid-19 menjadi pertimbangan lain supaya pihak pengusaha bioskop dan masyarakat dengan ketat melaksanakan protokol kesehatan. Karena areal bioskop sangat rentan menjadi kluster baru penularan virus. Pengusaha harus menjual tiket secara daring, menjaga jarak penonton dan lainnya. Soal jaga jarak, berarti pengusaha harus rela memangkas setengah kapasitas bioskop yang harus dijual.

Keputusan membuka bioskop di tengah tingginya kasus positif Covid sebagai kebijakan berani. Bisa jadi ini sebagai langkah awal menggeliatnya kembali industri hiburan tanah air. Pengusaha dan masyarakat harus memanfaatkannya sebaik mungkin dengan menerapkan peraturan yang ada, sehingga upaya menyelamatkan ekonomi dan memberi hiburan ke masyarakat bisa sejalan tanpa menimbulkan bahaya keselamatan jiwa. (***)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com