Melestarikan Pancasila


378 view
Melestarikan Pancasila
Foto: Republika/Mardiah
Foto: Ilustrasi Pancasila
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memasukkan Pancasila sebagai mata pelajaran tersendiri pada kurikulum mendatang.

BPIP memandang Pancasila memiliki arti penting dalam pendidikan dan pembentukan karakter siswa.

“Masukan BPIP saat ini pendidikan Pancasila belum secara penuh masuk di kurikulum kita. Nanti itu kita bicarakan dalam konteks lebih lanjut untuk bisa mematangkan rencana ini,” kata Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Jumeri dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR, Kamis (28/1/2021).

Seperti diketahui saat ini Kemendikbud tengah menggodok Peta Jalan Pendidikan 2035 dan revisi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Peta Jalan Pendidikan itu rencananya akan disahkan menjadi peraturan presiden pada Mei-Oktober 2021. Peta ini mengatur langkah teknis dari implementasi revisi UU Sisdiknas yang rencananya diajukan pemerintah tahun ini.

Mengapa wacana tentang Pancasila jadi mata pelajaran di sekolah kembali dibicarakan? Bisa jadi karena perkembangan dan situasi masyarakat saat ini sangat membutuhkannya. Maraknya paham radikalisme, khilafah, sikap intoleransi dan melemahnya kebersamaan seperti budaya gotong royong di masyarakat dan lainnya sudah sangat mengkhawatirkan.

Apalagi di kalangan generasi muda, nilai-nilai ini mulai luntur akibat perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Anak muda lebih mengenal budaya luar yang lebih cenderung kapitalis dengan gaya hidup hedonisme. Sangat kurang mencintai keluarga, apalagi leluhurnya.

Dulu PMP (Pendidikan Moral Pancasila) merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sejak tahun 1975. PMP ketika itu menggantikan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang telah masuk dalam kurikulum sekolah di Indonesia sejak tahun 1968.

Pada Kurikulum tahun 1975 istilah Pendidikan Kewarganegaraan diubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang berisikan materi Pancasila yang merupakan uraian dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4. Pengubahan ini sejalan dengan misi pendidikan yang diamanatkan Tap. MPR II/MPR/1973.

Mata pelajaran PMP ini merupakan mata pelajaran wajib untuk SD, SMP, SMA, SPG dan Sekolah Kejuruan. Mata pelajaran PMP ini terus dipertahankan, baik istilah maupun isinya sampai berlakunya Kurikulum 1984 yang pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975 (Depdikbud: 1975 a, b, c dan 1976). PMP pada masa itu berorientasi pada "value inculcation" dengan muatan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Dengan berlakunya UU No 2 Pasal 39 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada tahun 1994 diakomodasikan misi baru pendidikan dengan memperkenalkan mata pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Sayangnya, pembelajarannya dianggap lebih condong tentang kewarganegaraan, sehingga pelajaran nilai-nilai Pancasila meluntur.

Bahkan belakangan yang ada tinggal Pendidikan Kewarganegaraan.

Dihapuskannya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila, seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama.

Padahal, nilai-nilai seperti itu kini sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan suatu bangsa yang pluralistis.

Ironisnya, meskipun berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 (Sisdiknas) pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, namun tidak terdapat mata pelajaran mengenai Pancasila di dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi.

Dengan perjalanan dan pengalaman tentang pendidikan Pancasila, sebaiknya wacana yang muncul ini segera ditampung dan dimasukkan kembali dalam Sisdiknas Tahun 2021. Namun pembelajarannya disesuaikan dengan kondisi terkini, masyarakat milenial.

Cara dan gaya pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan kondisi. Karena anak muda sekarang lebih cerdas, kreatif dan kritis, sehingga diperlukan teknik dan cara yang muda dan menarik pula.

Masa lalu merupakan ilmu terbaik yang bisa dipelajari dan diterapkan saat ini untuk kebaikan di masa depan. Pancasila sudah teruji sebagai dasar negara, tak akan luntur ditelan masa bila terus lestari. (***)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com