Mengembangkan Sikap Toleransi


293 view
http://www.lespimous.com
Ilustrasi toleransi
Masalah intoleransi kini marak lagi diperbincangkan, setelah terungkap persoalan aturan wajib menggunakan jilbab bagi semua siswi di salah satu sekolah negeri di Padang Sumbar, baru-baru ini.

Sebelumnya, viral di media sosial video memperlihatkan percakapan antara Elianu Hia (orangtua salah satu siswi yang beragama non-Islam) dan pihak SMK Negeri 2 Padang. Menurut pengakuan Elianu, ia dipanggil pihak sekolah karena anaknya, berinisial JCH, tidak mengenakan jilbab/kerudung saat bersekolah.

Di situ terlihat Elianu menjelaskan bahwa anaknya nonmuslim, sehingga cukup terganggu dengan keharusan untuk mengenakan jilbab. Pihak sekolah menyebut penggunaan jilbab merupakan aturan sekolah. Pasalnya, di awal masuk sekolah, orangtua dan anak sudah sepakat untuk mematuhi peraturan sekolah.

Menanggapi itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti, menilai kasus itu merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Aturan sekolah seharusnya berprinsip pada penghormatan terhadap HAM dan menjunjung nilai-nilai kebangsaan, apalagi di sekolah negeri. Melarang peserta didik berjilbab jelas melanggar HAM. Namun, memaksa peserta didik berjilbab juga melanggar HAM.

Sebenarnya masalah seperti ini tidak hanya terjadi di Padang saja, tetapi ada juga di beberapa daerah Indonesia. Cuma kasus-kasus serupa tidak sempat viral atau para orangtua dan anak tidak berani protes, karena takut menjadi masalah bagi anaknya. Padahal mereka paham tindakan pihak sekolah itu tidak benar.

Menindaklanjuti kasus ini, Mendikbud Nadiem Makarim memerintahkan memberikan sanksi kepada pihak yang terlibat dalam kasus aturan siswi diwajibkan memakai jilbab itu. Menurutnya, perkara intoleransi atas keberagaman tidak bisa ditoleransi. Karena tidak hanya sudah melanggar undang-undang, namun juga nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Aturan berseragam di sekolah seharusnya mengacu pada Pasal 3 ayat 4 Peraturan Mendikbud No. 45 Tahun 2014 yang menyatakan sekolah wajib memperhatikan hak setiap warga negara untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing dalam berpakaian.
Sikap dan tindakan intoleransi saat ini sepertinya semakin meluas, seiring berkembangnya teknologi informasi, khususnya media sosial (medsos). Parahnya, hal ini dilakukan tidak hanya di kalangan atau kelompok masyarakat kecil, tetapi juga institusi lebih besar seperti di perusahaan swasta maupun pemerintahan.

Sikap-sikap intoleransi ini tidak hanya merugikan kelompok minoritas, tetapi juga pihak mayoritas. Banyak juga sikap intoleransi yang merugikan pemeluk agama Islam dengan pelarangan menggunakan jilbab. Begitu juga dengan pemeluk agama lainnya, semua dirugikan dengan sikap intoleransi ini. Artinya, siapa pun yang bertindak intoleransi, itu tidak bisa dibenarkan dan sama-sama harus dihindarkan. Selain melanggar HAM, bisa jadi sumber perpecahan bangsa.

Meski kita sudah memiliki ideologi Pancasila yang disepakati sebagai dasar negara Indonesia, namun masih banyak orang-orang tak paham atau sengaja menyampingkannya demi kepentingan pribadi atau kelompok. Bagi pribadi tak paham, umumnya masyarakat yang berwawasan sempit salah dalam menafsirkan ajaran agama. Mereka menganggap dirinya paling benar dan orang lain harus bersikap seperti dirinya. Mereka ini mudah tersusupi ajaran yang salah bersumber dari medsos atau komunitas.

Mereka-mereka inilah yang dimanfaatkan orang-orang atau golongan pintar yang ingin merusak persatuan bangsa untuk kepentingannya. Dari masalah kecil mereka membangun intoleransi sampai berkembang, sehingga mudah memecah belah bangsa. Ini sudah terlihat beberapa tahun belakangan dalam isu-isu nasional, termasuk dalam isu politik.

Terungkapnya kasus di Padang bisa jadi momen agar bangsa ini semakin berhati-hati dengan berkembangnya intoleransi di masyarakat. Semua pihak harus menyadari dan berbuat supaya bisa mengembangkan sikap toleransi untuk memperkuat persatuan bangsa. Perkuat pelajaran Pancasila maupun pelajaran karakter, etika atau psikologi di sekolah. Hadirkan tenaga pendidik yang berwawasan luas dan memahami pentingnya persatuan.

Tempatkan pemimpin atau pejabat yang memiliki jiwa nasionalis tinggi, cinta tanah air, tidak sukuisme apalagi fanatik konservatif. Pemimpin berkualitas dan berwawasan luas tentu tidak akan membuat sekat atau kelompok baginya berdasarkan keyakinan atau asal usul.

Ingat, dalam agama apapun, pemeluknya diajarkan untuk menghargai orang lain, karena Tuhan memang menciptakan makhluknya beragam. Warna-warni itu indah, apalagi bila semuanya bersatu saling mengasihi untuk kesejahteraan bersama. (***)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com