Menghindari Perceraian


535 view
Menghindari Perceraian
image.wisdompetals.com
Ilustrasi.
Pandemi Covid-19 memang benar-benar luar biasa, meluluhlantakkan hampir semua sendi kehidupan manusia. Bahkan gegara virus berbahaya ini, rumah tangga pun menjadi ikut berantakan. Ini terbukti dengan tingginya angka perceraian antara suami istri hampir di seluruh daerah Indonesia.

Diberitakan, angka Perceraian di Pulau Jawa meningkat akibat pandemi Covid-19. Direktorat Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung Republik Indonesia (Dirjen Badilag MARI) Aco Nur menduga hal itu dilatarbelakangi faktor ekonomi.

Mayoritas penggugat cerai yang masuk dalam daftar pengadilan agama adalah istri, yang dilandasi faktor ekonomi.
Penggugat perceraian umumnya di Pulau Jawa, khususnya di Provinsi Jawa Barat, kemudian di Kota Semarang dan Surabaya.

Aco memaparkan saat awal penerapan PSBB pada April dan Mei 2020, perceraian di Indonesia di bawah 20 ribu kasus.
Namun, pada Juni dan Juli 2020, jumlah perceraian meningkat menjadi 57 ribu kasus.

Sementara itu, sejak pandemi Covid-19 melanda tanah air, angka perceraian di Pengadilan Agama Kota Medan meningkat hingga 70 persen. Angka itu tercatat dalam lima bulan belakangan ini.

Dari data yang diberikan Panitera Muda Husna Ulfa, ada 1.934 gugatan cerai yang masuk di Pengadilan Agama sejak Januari hingga Agustus 2020. Dalam setahun gugatan perceraian tak lebih dari 2.000 gugatan. Namun pada tahun ini, sebelum akhir tahun sudah mencapai 1.934 perkara.

Sehingga, dalam sehari Pengadilan Agama yang biasa menyidangkan hanya 15 perkara, kini bertambah hingga bisa 25 perkara. Agustus ini sudah ada 255 laporan. Artinya, bila ditarik rata-rata terdapat 10 gugatan masuk dalam sehari. Hampir semua perkara yang masuk tentang faktor ekonomi.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI, dr H Hasto Wardoyo SpOG (K) menyatakan, pandemi virus corona, patut diduga menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik dalam keluarga.

Mengapa? Karena hampir sekitar 28 persen problem perceraian sumbernya masalah ekonomi, meskipun lebih dari 50 persen karena percekcokan berulang-ulang dalam waktu cukup lama.

Ketika ada pandemi maka persoalan ekonomi semakin berat, sehingga memicu terjadinya perselisihan dalam keluarga.

Sungguh miris melihat kondisi ini. Ekonomi menjadi penyebab utama perceraian di tengah pandemi Covid-19. Padahal dalam sebuah pernikahan sudah ada komitmen hidup bersama dalam suka maupun duka. Seharusnya tali suci pernikahan tidak bisa putus hanya karena ujian pandemi yang bisa datang dan menghilang pada masa tertentu.

Seharusnya suami dan istri menyadari bahwa anak menjadi korban akibat perceraian itu. Menjadikan proses kehidupan yang sulit, bahkan menjadi torehan sejarah kelam bagi kehidupannya kelak. Artinya, para orangtua harusnya berpikir seribu kali bila ingin bercerai. Karena anak lah yang akan menjadi korban sesungguhnya.

Dalam hal ini pemerintah tidak bisa tinggal diam. Lakukan pencerahan dengan berbagai penyuluhan. Manfaatkan mitra seperti penceramah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan sebagainya demi menghindari korban perceraian lebih banyak. Sadarkan masyarakat, jangan kalah dengan Covid-19, karena Tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuan umatnya.

Hakim di Pengadilan Agama juga harus sungguh-sungguh bekerja dan memiliki "PR" tambahan di masa pandemi ini. Para wakil Tuhan tidak boleh sekadar memutus perkara, tetapi lakukan mediasi kepada suami istri yang hendak bercerai, terutama menyangkut faktor ekonomi tadi. Berikan pandangan bahwa kesulitan ekonomi akan bisa diatasi bersama bila kita sungguh-sungguh mau berusaha dan berdoa. Bukan ujuk-ujuk bercerai yang memang tidak disukai Tuhan.

Bagi pasagan suami istri yang tidak ingin bercerai bisa mengikuti beberapa tips;

Saling mendengarkan satu sama lain. Ini merupakan hal dasar yang wajib dilakukan pasangan suami istri, karena komunikasi yang bermasalah, seringkali menjadi penyebab akar masalah dari suatu hubungan, sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik agar pernikahan langgeng.

Selain itu kita juga harus mampu untuk mengungkapkan perasaan, sehingga pasangan dapat memahami sudut pandang kita.

Kemampuan untuk mendegarkan perasaan orang lain dan mengutarakan perasaan sendiri akan menjadi hal yang sangat berguna ketika kita dihadapkan dengan perceraian. Kemudian mau berkompromi, karena setiap hubungan apapun, kompromi memainkan peran besar dalam keberhasilan atau kegagalan rumah tangga. Baiknya, bicarakan berdua, dan terima kenyataaan bahwa tidak semua harapan berjalan sesuai kehendak. Dengan lebih ikhlas dan menerima, niscaya pernikahan akan jauh dari kata perceraian.

Hal sangat penting juga, belajar memaafkan dan melupakan. Semua orang di muka bumi pasti pernah membuat kesalahan. Tetapi belum tentu semua orang bisa belajar untuk memaafkan dan melupakan. Dalam rumah tangga yang ideal, hal ini perlu dilakukan agar tidak ada rasa bersalah dan dendam menyelimuti batin satu sama lain.

Kemudian bangun dan temukan goals sendiri. Cobalah menemukan suatu pencapaian atau tujuan saat berumah tangga. Jangan hanya saat berpacaran saja hal itu dikejar. Ketika menikah, kita juga harus punya tujuan sendiri selain mencapai kebahagiaan yang hakiki. (***)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com