Peraturan Covid Tidak Main-main


166 view
(Shutterstock)
Ilustrasi virus corona
Kegagalan tim bulu tangkis Indonesia bertanding di arena All England 2021 Inggris sangat disesalkan. Sangat mengecewakan, apalagi arena All England sudah tidak asing lagi bagi Indonesia. Atlet bulu tangkis Indonesia hampir tidak pernah absen mengikuti kejuaraan itu dan selalu membawa harum nama Indonesia. Namun kali ini harus kalah WO sebelum bertanding.

Banyak pelajaran berharga yang harus dipetik dari kejadian ini. Tidak perlu saling menyalahkan, tetapi harus saling koreksi diri, baik pihak penyelenggara, maupun otoritas pemerintahan tuan rumah dan otoritas pemerintahan Indonesia.

Namun hal ini diharapkan jangan sampai melemahkan semangat para atlet bulu tangkis kita. Segeralah berbenah diri kembali, karena masih banyak kejuaraan lainnya yang harus diperjuangkan untuk membawa keharuman nama bangsa di dunia internasional.

Sesuai kronologis kejadian, tim bulu tangkis Indonesia dipaksa mundur dari All England akibat berada satu pesawat dengan orang yang terkontaminasi positif dalam penerbangan dari Istanbul, Turki, ke Birmingham, Inggris. Sesuai ketentuan Badan Layanan Kesehatan (NHS), Inggris, maka tim bulu tangkis kita wajib menjalani isolasi mandiri selama 10 hari, akhirnya tidak bisa ikut bertanding.

Hal yang sama bukan hanya diberlakukan bagi pemain Indonesia, tetapi juga bagi penumpang yang satu pesawat dengan orang yang positif Covid-19. Selain tim Indonesia, atlet Turki Neslihan Yigit, yang kebetulan satu pesawat dalam penerbangan transit dari Istanbul itu juga ikut kena getahnya. Sehingga jangan sampai ada dugaan bahwa kejadian itu sengaja diberlakukan hanya bagi atlet Indonesia saja.

Lebih menyakitkan lagi, selain dipaksa mundur dari pertandingan pada Kamis (18/3/2021), maka status seluruh pemain Indonesia menjadi kalah WO. Padahal, tiga wakil Indonesia yang sudah berlaga di babak pertama pada Rabu (17/3/2021) sudah memastikan tiket ke fase 16 besar. Itupun tetap dianggap kalah WO.

Begitulah ketatnya peraturan di negara Margaret Thatcher ini, sehingga tim Indonesia bagaikan jatuh tertimpa tangga lagi. Sudah tidak ikut bertanding, tetapi tetap wajib isolasi, sehingga mereka tidak boleh langsung pulang ke tanah air. Padahal mereka tidak terpapar Covid.

Soal ketatnya peraturan terkait Covid ini harus bisa kita maklumi. Hal ini sebagai upaya mereka menjaga warganya jangan sampai tertular dari warga asing yang berkunjung. Dengan peraturan ketat saja, penularan masih sangat tinggi di Inggris, yaitu mencapai 3,75 juta kasus dengan korban meninggal dunia di atas 100.000 jiwa. Lebih gawat lagi, mutasi virus B117 yang sudah mulai menyebar di Indonesia malah ditemukan pertama kali di Inggris.

Mereka tidak setengah hati dalam mengatasi Covid, sehingga lockdown juga sudah dilakukan. Berbeda dengan kondisi di dalam negeri, kesadaran untuk mematuhi protokol kesehatan saja sangat sulit. Bahkan hasil rapid test pun ada yang dipalsukan untuk kebutuhan penerbangan sebagaimana dikeluhkan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi belum lama ini.

Namun patut dipertanyakan, apakah PBSI, Dubes RI di Inggris, Kemenpora dan Kemenlu tidak tahu bagaimana peraturan terkait Covid-19 di Inggris sebelum memberangkatkan tim bulu tangkis kita ke All England ? Jika tahu, tentu banyak cara untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi WO, di antaranya mencarter pesawat khusus atau mempercepat pengiriman pemain ke Inggris.

Jadi siapa sebenarnya yang abai dan patut disesalkan ? Pemerintah Inggris kah atau pemerintah kita dan jajarannya? Jangan-jangan pejabat kita bermimpi bisa mempermain-mainkan peraturan di Inggris. Kejadian ini merupakan pelajaran berharga. Jangan sampai menganggap pemberlakuan peraturan di Inggris itu sama seperti pemberlakuan aturan di Indonesia. (*)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com