4 Inovasi Alat Kesehatan Covid-19 dari Bandung yang Diproduksi Massal


113 view
Kredit: Unpad
Alat tes cepat Covid-19 berbasis antigen CepAD. 
Kalangan akademisi dan peneliti di Bandung menghasilkan beragam inovasi riset terkait pandemi Covid-19. Hasilnya telah digunakan dan diproduksi massal dari belasan hingga puluhan ribu unit.

“Pandemi menggerakkan semua pihak sehingga mempercepat hasil riset,” kata Yusuf, peneliti dari Universitas Padjadjaran, Selasa (9/3).

Timnya yang membuat alat tes cepat Covid-19 berbasis Antigen bernama CePAD, baru selesai melakukan transfer teknologi selama dua bulan ke mitra perusahaan. Tujuannya untuk meningkatkan skala produksi hingga 1 juta unit alat tes. “Permintaannya meluas, jasa transportasi juga perlu banyak,” kata Yusuf.

Hasil riset lain yang digenjot produksinya yaitu viral transport medium (VTM) garapan tim dari Laboratorium Bio Safety Level-2 Rumah Sakit Pendidikan Unpad. Mereka membuat tiga jenis alat pengangkut virus Covid-19 untuk pemeriksaan metode PCR di laboratorium tanpa perlu kotak pendingin. “Kapasitas produksinya dari 20 ribu menjadi 200 ribu per bulan,” kata Hesti Lina Wiraswati, Senin.

Selama ini kebutuhan alat itu dipasok oleh barang impor. Adapun kebutuhan selama pandemi di Indonesia berkisar 20-60 ribu per hari. Tabung VTM yang terbuat dari plastik hasil produksi mitra perusahaan lokal, sementara tim meracik larutan kimianya yang bahan bakunya masih harus impor karena belum ada pembuatnya.

Kolaborasi tim peneliti dari Telkom University dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menghasilkan Autonomous UVC Mobile Robot (AUMR) juga telah diproduksi komersial oleh mitra startup. Jumlahnya menurut tim riset Angga Kusdinar masih terbatas. “Total robot yang beredar 17 unit,” katanya, Selasa.

Robot itu berfungsi membersihkan ruangan dari virus dengan memancarkan sinar dari lampu ultraviolet jenis C atau UVC. Harganya menurut Angga masih berkisar Rp 190 juta. Tim kini tengah mengembangkan robot dengan ukuran lebih ramping agar bisa dipakai di kendaraan umum seperti kereta api dan pesawat udara.

Ventilator Portable Indonesia (Vent-I) punya kesempatan lebih besar untuk diproduksi massal. Alat bantu pernafasan buatan tim peneliti dan akademisi dari ITB, Unpad, dan Masjid Salman itu lisensinya telah dipegang tiga perusahaan dari swasta dan BUMN. Sebelumnya Vent-I telah diproduksi sendiri dengan jumlah 1000 unit dari hasil donasi.

Beragam alat hasil inovasi itu telah lolos uji dan mengantongi izin edar. Pemerintah lewat beberapa kementerian juga menyokong pendanaan riset dan pengembangan hingga penggunaan alat oleh berbagai pihak. (T/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com