Mengenal 5G yang Disebut Belum Dibutuhkan di Indonesia


235 view
Foto: CNN Indonesia/Jonathan Patrick
Ilustrasi
Sebagian besar vendor berlomba menghadirkan smartphone dengan kemampuan 5G dalam beberapa tahun belakangan, meski teknologi itu disebut belum dibutuhkan di Indonesia.

Pasalnya, teknologi layanan internet nirkabel anyar itu belum diimplementasikan di Indonesia hingga saat ini. Meski demikian, sejumlah vendor ponsel seperti Oppo dan Samsung sudah meluncurkan ponsel 5G mereka.

Operator seluler pun ketika ditanya kesiapan untuk menggelar 5G di Indonesia selalu menyebut menunggu kesiapan pemerintah menggelar frekuensi untuk teknologi itu.

Baru-baru ini, pemerintah yang sudah menentukan pemenang lelang frekuensi untuk teknologi 5G pun membatalkan keputusan itu dan akan melakukan lelang ulang.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk memberi sejumlah alasan mengapa Indonesia belum perlu jaringan internet 5G dalam waktu dekat karena konsumsi data internet di tanah air masih relatif rendah. Bahkan, jauh tertinggal dari Korea Selatan.

Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah mencatat rata-rata konsumsi data internet di dalam negeri baru mencapai 10 Gigabyte (Gb) pada 2020. Sementara Korea Selatan sudah mencapai 200 sampai 300 GB.

Untuk itu, masyarakat negeri ginseng terbilang wajar bila sudah menggunakan jaringan internet 5G. Sebab, konsumsi mereka memang tinggi.

Selain karena pertimbangan rata-rata penggunaan data internet, Ririek mengatakan Indonesia belum perlu jaringan internet 5G karena keperluan dari sisi industri juga belum tinggi. Bahkan, secara keseluruhan kebutuhannya masih sangat bisa ditutup oleh jaringan internet 4G.

Apa itu 5G?
Melansir Qualcomm, teknologi 5G adalah jaringan seluler generasi ke-5. 5G dinilai sebagai standar nirkabel global baru setelah jaringan 1G, 2G, 3G, dan 4G.

Teknologi 5G dimaksudkan untuk memberikan kecepatan data puncak multi-Gbps yang lebih tinggi, latensi yang sangat rendah, keandalan yang lebih tinggi, kapasitas jaringan yang masif, ketersediaan yang ditingkatkan, dan pengalaman pengguna yang lebih seragam kepada lebih banyak pengguna.

Tidak jelas siapa penemu 5G. Namun, beberapa perusahaan dalam ekosistem seluler diklaim telah berkontribusi untuk menghidupkan 5G.

Teknologi 5G didasarkan pada OFDM (Orthogonal frequency-division multiplexing), metode memodulasi sinyal digital di beberapa saluran berbeda untuk mengurangi interferensi. 5G menggunakan interface udara 5G NR bersama OFDM, serta menggunakan teknologi bandwidth yang lebih luas seperti sub-6 GHz dan mmWave.

Seperti 4G, 5G beroperasi berdasarkan prinsip jaringan seluler yang sama. Namun, interface udara 5G dapat lebih meningkatkan fleksibilitas dan skalabilitas yang jauh lebih tinggi.

Adapun perbedaan atanta 5G dengan jaringan seluler generasi sebelumnya, yakni 1G menghadirkan suara analog; 2G memperkenalkan suara digital (misalnya CDMA - Code Division Multiple Access); 3G menghadirkan data seluler (misalnya CDMA2000); dan 4G LTE mengantarkan era broadband seluler.

Melansir Thales Group, penggunaan frekuensi yang lebih pendek, yakni dengan gelombang milimeter antara 30GHz dan 300GHz untuk jaringan 5G adalah alasan mengapa 5G bisa lebih cepat dari 4G.

Seberapa cepat 5G?
Kecepatan data 5G pun disebut bisa mencapai lebih dari 10Gbps atau 100 hingga 100 kali lebih cepat daripada yang bisa dapatkan dengan 4G.

Teknologi 5G menawarkan tingkat latensi yang sangat rendah, yakni penundaan antara pengiriman dan penerimaan informasi dari 200 milidetik ketika menggunakan 4G menjadi 1 milidetik (1ms). Milidetik sama dengan 1/1000 detik.

Melansir PC Mag, 5G menghadirkan tiga aspek baru, yakni saluran yang lebih besar (untuk mempercepat data), latensi lebih rendah (agar lebih responsif), dan kemampuan untuk menghubungkan lebih banyak perangkat sekaligus (untuk sensor dan perangkat pintar).

Saat ini, jaringan 5G menggunakan 4G untuk membangun koneksi awal. Namun, beberapa negara telah menguji coba jaringan mandiri untuk 5G.

Seperti jaringan seluler lainnya, jaringan 5G menggunakan sistem situs seluler yang membagi wilayah mereka menjadi beberapa sektor dan mengirim data yang dikodekan melalui gelombang radio. Setiap situs seluler harus terhubung ke backbone jaringan, baik melalui koneksi backhaul berkabel atau nirkabel.

Jaringan 5G menggunakan jenis pengkodean yang disebut OFDM, yang mirip dengan pengkodean yang digunakan 4G LTE.

Dengan gelombang udara yang sama dengan 4G, sistem radio 5G bisa mendapatkan kecepatan sekitar 30 persen lebih baik berkat pengkodean yang lebih efisien. Kecepatan gigabit yang fantastis adalah karena 5G dirancang untuk menggunakan saluran yang jauh lebih besar daripada 4G (CNNI/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com