V-12, Helikopter Terbesar Didunia yang Lebih Panjang dari Boeing 737


249 view
Kredit: Wikipedia
V-12. 
Tidak banyak helikopter yang dirancang dengan ukuran besar seperti V-12 milik Uni Soviet. Meskipun helikopter ini gagal diproduksi secara serius, sampai sekarang belum ada helikopter yang bisa melampaui kapasitasnya.

Salah satu helikopter yang disebut terbesar di dunia adalah Mi-16 Halo yang bisa mengangkut 90 prajurit tempur atau 63 warga sipil dengan posisi duduk. Jumlah tersebut masih belum bisa mengimbangi V-12 yang sanggup mengangkut hingga 196 penumpang.

Melansir Popular Mechanics, pada Senin, 21 September 2020, V-12 dirancang untuk mengangkut rudal balistik antar benua (ICBM) milik Soviet ke pangkalan jarak jauh tanpa diketahui musuh. Proyek tersebut tidak terlepas dari buruknya sistem kereta api milik Soviet, misalnya ketika membangun jaringan pangkalan nuklir pada 1950-1960.

Pada pembangunan jaringan pangkalan nuklir itu, rel kereta api yang dibuat sebagai bagian dari jaringan operasional ternyata membantu musuh mengetahui posisi pangkalan nuklir Soviet tersebut. Dengan kemampuan yang dimiliki V-12, Soviet berharap posisi pangkalan nuklirnya bisa disamarkan, khususnya dari pesawat intai U-2 milik Amerika Serikat.

Helikopter yang lebih panjang dari Boeing 737 ini mulai dikerjakan pada tahun 1962 dan sukses uji terbang perdana pada tahun 1968. Meskipun bukan helikopter twin-rotor pertama di dunia, V-12 menjadi pesawat pertama yang menggunakan teknologi side-by-side rotor. Kedua rotor dan dan mesin didapat dari helikopter Mi-6 dan membuatnya mencapai kapasitas angkat dua kali lipat.

Saking besarnya, V-12 memiliki bobot sekitar 40 ton dan mampu membawa 196 penumpang. Bagian kargonya memiliki panjang sekitar 28 meter dengan lebar sekitar 4,3 meter. Dengan luas kargo tersebut, V-12 mampu membawa bus kota dengan mudah. Pada bagian pengoperasian, helikopter ini membutuhkan enam awak termasuk teknisi listrik.

Meskipun menjadi proyek gagal, V-12 sempat melakukan debut internasional di Paris Air Show, pada 1971. Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) kala itu sempat khawatir dan mengira helikopter tersebut akan digunakan mengangkut kendaraan lapis baja untuk mendukung serangan helikopter Soviet. Sayangnya, jangankan mengangkut kendaraan lapis baja, helikopter ini justru tidak diproduksi. Hanya ada dua V-12 yang berhasil diselesaikan, itu pun sebagai contoh.

Ada beberapa kemungkinan yang membuat helikopter ini gagal diproduksi lebih lanjut. Pertama, Amerika Serikat berhasil memetakan wilayah Soviet yang lebih luas menggunakan satelit mata-matanya. Selain itu, seiring perkembangan teknologi, ICBM bisa diproduksi dengan berat yang lebih ringan sehingga bisa diangkut dengan truk membawa rudal balistik.

Munculnya teknologi multiple independently targetable reentry vechile (MIRV) juga disinyalir membuat proyek V-12 tidak menarik lagi. Teknologi tersebut memungkinkan rudal balistik diisi banyak hulu ledak sehingga memiliki daya ledak yang lebih besar. selain itu, penggunaan MIRV juga mengurangi kebergantungan militer pada pangkalan rudal tetap maupun angkutan rudal udara. (T/c)