Fahri Hamzah: BUMN Perlu Dirampingkan Jadi Dua Sektor Usaha


169 view
Fahri Hamzah: BUMN Perlu Dirampingkan Jadi Dua Sektor Usaha
Istimewa
Fahri Hamzah 
Jakarta (harianSIB.com)
Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menilai pemerintah perlu segera melakukan perampingan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi dua entitas sektor usaha, yakni sumber daya alam dan industri strategis.

"Sesuai amanat konstitusi pasal 33, BUMN perlu dilakukan perampingan menjadi dua, sumber daya alam dan industri stategis. Yang terkait sumber daya alam dan cabang-cabang produksinya disatukan dalam satu holding, dan satu holding industri strategis, sehingga negara tinggal mengontrol, tidak perlu semua bisnis diurusi," kata Wakil Ketua DPR RI ( periode 2014- 2019) Fahri Hamzah dalam Gelora Talk 'BUMN, Apa Masalah dan Solusinya?' di Jakarta, sebagaimana dilaporkan Jurnalis Koran SIB Jamida P Habeahan, Kamis (10/6/2021).

Dalam diskusi yang disiarkan live streaming di Gelora TV dan saluran kabel Transvision channel tersebut juga menghadirkan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga dan Komisaris PT Garuda Indonesia Peter F. Gontha .

Fahri Hamzah yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia ini mengatakan, dengan menyatukan dalam dua holding, maka pemerintah bisa memberikan akumulasi suntikan modal yang besar.

"Ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan industri strategis bagi rakyat, harus dikontrol negara. Tidak memerlukan bisnis lain, negara fokus saja pada penyelenggaraan demokrasi perekonomian. Berikan kepastian kepada market, swasta dan rakyat untuk berusaha," kata Fahri Hamzah sambil menambahkan, di luar negeri, BUMN umumnya difungsikan menjadi perusahaan berskala multinasional. Sebab, jika BUMN menjadi perusahaan multinasional dan bisa melakukan eksplorasi di negara lain, tentu akan menjadi kebanggaan bagi Indonesia.

Makanya, sesungguhnya BUMN tidak boleh bersaing dengan usaha rakyat sendiri dan saling makan. Pemerintah harusnya membuka market untuk rakyat.

Fahri berharap pemerintah segera mengevaluasi menyeluruh terhadap konsep keberadaan BUMN dan bagaimana manfaatnya ke depan, sehingga upaya perampingan bisa dilakukan secepatnya.

Konsepsi dari fungsi dan keberadaannya, dan berikutnya berefek pada konsespi pengelolaan. Karena itu, harus ada keberanian dari sekarang.

Menurut Fahri pendirian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertujuan untuk penguatan perekonomian negara, dalam beberapa tahun belakangan ini justru kontraproduktif dari tujuan awal pembentukannya.

Banyak BUMN bangkrut dan justru menjadi beban negara. Terakhir, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia yang diambang kebangkrutan karena harus menanggung beban biaya dan pengeluaran lebih besar dari pendapatannya.

Fahri hamzah yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, mengatakan untuk menyelamatkan keberadaan BUMN perlu evaluasi secara menyeluruh. Salah satunya, melakukan privatisasi dengan syarat kepemilikan BUMN strategis harus dimiliki oleh orang Indonesia yang telah mengenal seluk beluk dari satu BUMN.

“Menurut saya diprioritaskan, diprivatisasi, diambilalih oleh UMKM atau serikat karyawannya” ujar Fahri seraya meminta kehadiran negara harus dibatasi pada soal-soal yang memang tidak bisa dilakukan oleh negara. Sebab, negara tidak akan sanggup mengelola bisnis karena hingga saat ini masih menggunakan pendekatan kekuasaan dalam pengelolaannya.

Dalam penempatan direksi BUMN misalnya, selalu diprioritaskan orang-orang yang dianggap telah membantu atau berjasa ikut memenangkan dalam perebutan kekuasan saat Pemilu.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengatakan perampingan jumlah BUMN menjadi solusi terbaik agar pendirian perusahaan negara yang tujuannya untuk penguatan perekonomian tercapai.

Saat ini Kementerian BUMN terus memetakan mana saja BUMN yang dianggap perlu dibubarkan untuk mencapai jumlah ideal dari perusahaan negara. Arya menyebut dari 140-an BUMN, sudah dirampingkan menjadi 108 dan selanjutnya menjadi 80-an.

"Nanti kita targetkan hanya sekitar 42-43 BUMN saja. Memang akan ada perampingan lagi," kata Arya.

Komisaris PT Garuda Indonesia, Peter F. Gontha menampik sakitnya maskapai Garuda Indonesia hingga diambang kebangkutan karena by desain.

"By Desain? Saya rasa tidak ada yang merekayasa untuk merontokkan Garuda. Yang ada memang kejadian secara alami terjadi," kata Peter seraya menyebutkan, saat ini diperlukan penguatan peran negara untuk memperkuat daya saing, sehingga ancaman kebangkrutan seperti yang dialami Garuda tidak terjadi lagi.

"Kita masih perlu flag carrier dan pemerintah perlu menyelamatkan Garuda," harapnya. (*).

Editor
: bantors@hariansib.com
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com