Berkaca Dari Tragedi Lapas Tangerang, Kita Harus Mawas Diri


407 view
Berkaca Dari Tragedi Lapas Tangerang, Kita Harus Mawas Diri
THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi sel tahanan.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan Negara (Rutan) di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, acap kali dirundung masalah. Jika sebelumnya ada kasus kerusuhan dan lainnya, kemarin, Rabu, 8 September 2021, insiden kebakaran terjadi di Lapas Tangerang yang menewaskan 41 orang narapidana.

Penyebabnya masih dalam penyelidikan polisi, tidak tertutup kemungkinan ada kesalahan atau kelalaian yang mengarah pada tindak pidana. Kita tunggu saja hasilnya.

Tetapi bagi saya, bukan soal ada unsur pidananya atau tidak, yang paling penting sebenarnya bagaimana kita mengurai masalah di Lapas maupun Rutan di Indonesia, kemudian mencari solusinya sehingga kasus serupa tidak terulang lagi.

Permasalahan Lapas tidaklah berdiri sendiri, tidak juga tanggungjawabnya hanya berada di pundak mereka. Semua punya sumbangsih, mulai masyarakat biasa hingga pemerintah, termasuk aparat penegak hukumnya. Kasus Lapas Tangerang, setahu saya yang terburuk, hingga puluhan narapidana terjebak hingga meninggal.

Sulit membayangkan betapa naasnya para korban saat musibah terjadi. Dalam keadaan terkurung, mereka tidak bisa berlari untuk menyelamatkan diri, kecuali berteriak minta tolong, dan akhirnya meninggal.

Lapas maupun Rutan, harusnya sudah menjadi perhatian serius para stakeholder negara ini sejak dulu. Tidak lagi bertindak alon-alon, setengah setengah, apalagi lengah. Tetapi sebaliknya harus lebih serius mengingat masalahnya sudah extraordinary, meski sebagian menganggapnya klasik, yakni over kapasitas.

Saya pernah membaca cerita seorang mantan narapidana yang mengungkapkan peliknya kelebihan kapasitas di salah satu Rutan di Indonesia yang pernah ia dihuni. Saat itu, dia berada di ruang penampungan yang berisi 420 orang narapidana, hanya tersedia dua toilet.

Toilet dimaksud digunakan narapidana untuk mandi, cuci baju, cuci piring dan buang air besar. "Ibarat mengungsi dalam situasi perang, berdesak desakan, sangat darurat," kata mantan napi itu.

Selain itu, ada satu masa ia harus tidur miring dan kakinya harus menekuk kayak udang karena ruangan sudah tidak mampu lagi menampung narapidana. Mendengar cerita ini, berarti bila permasalahan tersebut tidak ditangani dengan cepat, entah apa yang bakal terjadi kemudian, saya pikir akan menjadi bom waktu.

Menkumham RI Yasonna Laoli mengakui over kapasitas itu, yang seharusnya dihuni 900 orang menjadi 2.000 lebih. Yasonna juga menyebutkan narapidana narkoba menjadi yang terbanyak, mencapai 50 persen penghuni Lapas. Salah satu solusi yang ditawarkan menteri adalah mengajukan revisi undang-undang narkotika.

Saya sendiri mendukung usulan revisi UU Narkotika itu, karena pada tafsirnya tidak mampu memisahkan dengan jelas dan tegas antara pengguna, pemilik dan pengedar narkoba.

Saran saya, kalau hanya pengguna tidak perlu harus masuk penjara, tetapi bukan berarti bebas begitu saja. Banyak bentuk penghukuman alternatif selain penjara, seperti kerja sosial, denda, rehabilitasi dan rawat jalan. Bahkan bila dalam assessment dimungkinkan kumulasi hukuman, denda dan kerja sosial, tidak ada masalah.

Memang, revisi UU Narkotika tidak menjadi jaminan dalam mengurai over kapasitas, tetapi setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya dalam mengatasi kelebihan kapasitas. Setelah narkotika selesai, akan sangat baik pula melangkah untuk membuat regulasi tentang kasus perjudian, penghinaan, perbuatan tidak menyenangkan dalam ITE dan lainnya, yang perlu dievaluasi.

Seperti penulis togel yang kerap ditangkap dan masuk penjara. Penulis ditangkap, namun bandar atau agen, bebas berkeliaran. Kadang kita geli mendengarnya. Namun itu fakta. Dalam suatu waktu saya pernah mengobrol dengan penulis togel, lalu saya tanya apa tidak takut sama aparat? Jawabnya sederhana saja, nggak ada kerjaan, supaya bisa makan, uang sekolah anak, dan lainnya.

Menurut saya, penulis togel tidak perlu ditahan, tetapi masuk dalam hukuman alternatif yang lain. Bahkan era Kapolri Sutanto, judi total berhenti, dan tidak ada yang sembunyi-sembunyi.

Begitu juga dengan pemain judi bermain kartu joker, ditangkap dan dipenjara, meski yang menyediakan tempat tidak turut diamankan. Pokoknya macam-macamlah. Maksud saya tindak pidana seperti ini mulailah kita evaluasi tanpa harus tahanan badan.

Tentunya harapan kita kasus Lapas Tangerang menjadi yang terakhir, dan jangan terulang lagi. Tragedi tersebut harus membuat kita mawas diri, memaksa kita, tanpa terkecuali, untuk bertindak dan introspeksi.

Tidak perlu saling menyalahkan, tuding - menuding, menyalahkan undang undangnya, pembuatnya, penegak hukumnya, pemerintahnya, dan masyarakatnya.

Yang perlu adalah mari kita berbenah, bertindak, dan langsung bekerja supaya hal serupa yang terjadi di Lapas Tangerang dan yang terjadi sebelumnya di berbagai Lapas di Indonesia tidak terulang lagi

Mengapa penjara di Belanda tidak berpenghuni, bahkan beberapa penjaranya terpaksa ditutup dan disewakan. Mengapa mereka bisa, mengapa kita tidak bisa. Setidaknya itu juga menjadi bahan rujukan kita.(*)

pendapat
Penulis:
Editor:
Foto ilustrasi

tag:
Penulis
: Helman Tambunan
Editor
: Bantors
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com