Perjalanan Panjang Raja Bonaran Situmeang, Hingga Wafat Sebagai Narapidana

Catatan : Helman Tambunan SH, Jurnalis HarianSIB.com

3.319 view
Perjalanan Panjang Raja Bonaran Situmeang, Hingga Wafat Sebagai Narapidana
©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
Raja Bonaran Situmeang.
Mantan Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang, meninggal dunia pasca menjalani perobatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan dan Rumah Sakit Metta Medika Sibolga, Jumat (22/10/2011). Dia meninggal dalam status sebagai warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sibolga.

Eks pengacara yang lahir di Desa Gotting Mahe, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, 7 Desember 1962 itu masuk penjara atas tuduhan penipuan dan pencucian uang yang kemudian divonis bersalah di Pengadilan Negeri (PN) Sibolga. Riwayat Raja Bonaran Situmeang dipenjara, cukup panjang. Dia ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 7 Oktober 2014 dari pengembangan kasus Akil Mochtar, dengan tuduhan memberi suap yang kemudian divonis bersalah.

Namun, belum bebas dari Lapas Suka Miskin, dia kembali ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana penipuan yang dilaporkan Heppi Rosnani. Sehingga begitu bebas dari Lapas Suka Miskin, Raja Bonaran langsung dijemput dan ditahan di Polda Sumatera Utara, sekira 16 Oktober 2018. Istilahnya bebas tampung. Dia divonis 5 tahun penjara, denda Rp 1 miliar.

Berlapis
Selain kasus penyuapan dan penipuan yang menjeratnya, masih banyak lagi kasus yang sedang mengancam, dan sudah dilaporkan ke Polda Sumut serta Polres Tapteng. Satu kasus sudah berproses terkait tindak pidana penipuan yang dilaporkan Efendi Marpaung. Dalam kasus itu penyidik sudah menetapkan Raja Bonaran sebagai tersangka.

Kasus lainnya tinggal menunggu proses, apakah ia juga akan ditetapkan sebagai tersangka atau tidak. Semua laporan tindak pidana yang mengancam Raja Bonaran Situmeang terjadi dalam rentang waktu sekira 3 tahun masa kepemimpinannya sebagai Bupati Tapanuli Tengah Periode 2011-2014. Jika saja dia tidak menghembuskan nafas terakhir, mungkin dia akan menjalani penjara kurang lebih seumur hidup.

Terhadap kasus yang menimpanya, Bonaran terus berjuang membela diri. Memohon perlindungan hukum kepada Presiden Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, namun belum terlihat ada respon. Ia hanya dapat bertahan dan bertahan menunggu pertolongan yang belum tahu dari mana datangnya.

Pada sesi wawancara di depan banyak wartawan di Pengadilan Negeri Sibolga, sekira 2 Juli 2019, Bonaran pernah berkata, “Sejahat Inikah saya?”. Kata-kata yang keluar dari hati kecil seseorang. Bila disimak maka artinya kalau pun Bonaran jahat, tetapi tidak sejahat yang dituduhkan. Ungkapan tersebut menandakan perasaan psikologi seseorang berada pada titik perundungan.

Pengampunan

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah berita pengampunan dari seseorang yang nyawanya terancam. Seorang remaja, Rian Cushing (15) melempar batu besar ke kaca mobil yang sedang melaju cepat dikemudikan Victoria Ruvolo (44).

Selain kaca mobil hancur, Victoria mengalami patah di bagian kaki karena mobil terguling dan menciderainya. Victoria kemudian dirawat di rumah sakit berbulan bulan lamanya supaya kesehatannya kembali normal.

Jika memahami dan membayangkan peristiwa itu maka kita akan mengatakan tindakan pelaku sangat keterlaluan, dan patut dihukum penjara seumur hidup. Tetapi apa yang terjadi, Victoria Ruvolo seorang mantan manajer perusahaan penagih utang, lebih tertarik dengan penyelamatan nyawa si pelaku, Ryan Cushing, daripada menuntut balas dalam bentuk apa pun.

Ryan akhirnya dijatuhi hukuman enam bulan penjara di Pengadilan Negeri dan akan berada dalam masa percobaan selama 5 tahun jika dia mengulangi perbuatannya. Tindakan Victoria sungguh menakjubkan semua orang. Pelaku selanjutnya dengan hati-hati dan ragu-ragu melangkah menuju tempat duduk Victoria di ruang sidang dan dengan air mata menetes membisikkan kata-kata maaf. “Saya minta maaf untuk semua yang saya lakukan kepada Anda,”ucap Ryan.

Victoria lalu berdiri, dan berpelukan dengan pelaku, mereka sama- sama menangis. Dia membelai kepalanya dan menepuk punggungnya saat dia menangis, ‘Tidak apa-apa. Saya hanya ingin membuat kehidupan Anda menjadi yang terbaik,”balas Victoria. Para jaksa, pengacara dan wartawan yang menyaksikan moment itu terharu dan menitikkan air mata.

Saya tahu hal yang saya bicarakan ini lembut dan sensitif, namun soal pengampunan sudah banyak contohnya. Ada para penjahat ulung yang mungkin harus dipenjarakan. Ada kejahatan yang amat buruk, misalnya pembunuhan dan pemerkosaan dengan sengaja, yang harus dihukum berat.

Namun ada beberapa orang yang patut diselamatkan dari tahun-tahun panjang yang melemahkan di dalam penjara karena tindakan yang tak disengaja atau bodoh. Bagaimanapun juga pengampunan dengan mengingat perbuatannya yang baik bisa menolongnya.

Bagaimana pun Bonaran Situmeang selama menjadi Bupati Tapanuli Tengah Tahun 2011-2014 pernah melakukan yang baik bagi masyarakat secara pribadi maupun secara umum.

Bonaran ditangkap KPK bukan karena korupsi uang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (ABPD), melainkan karena “hasutan” orang supaya memberi suap ke Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar untuk memenangkan gugatan, dan yang memberikan suap bukan dia.

Bonaran hanya berkata, “Sejahat Inikah saya?”. Bila pun ada kesalahan yang diperbuat, dan sebagai manusia kita menyadari itu bahwa tidak ada yang sempurna. Terlepas soal besar kecilnya kesalahan yang ada, namun alangkah baiknya kalau kita juga mengingat kebaikannya.

Kiranya Raja Bonaran Situmeang mendapat tempat di sisi kanan Allah Bapa di Sorga. Selamat jalan saudaraku. Semoga!!!

Editor
: Bantors
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com