Minggu, 21 Juli 2024

Refleksi Goncangan Gempa Cianjur, dan Toleransi Nurani Kebangsaan

Oleh: Dr Ferdinand Butarbutar SE MBA
Redaksi - Sabtu, 21 Januari 2023 19:39 WIB
1.700 view
Refleksi Goncangan  Gempa Cianjur, dan Toleransi Nurani Kebangsaan
Foto: Ist/harianSIB.com
Dr Ferdinand Butarbutar SE MBA

Gempa Cianjur tgl 21 November merupakan malapetaka dahsyat dimana gaungnya sangat nyaring sampai ke pelosok nusantara, khususnya bagi masyarakat Jawa Barat merupakan malapetaka, karena mengguncang 16 daerah Kecamantan, dan 169 Desa.

Tidak heran jumlah pengusi sampai 114.683 jiwa, korban akibat gempa cukup menggenaskan, rumah rusak berat ringan 35.801 unit, sarana pendidikan 518 unit, tempat ibadah 269 unit, fasilitas kesehatan 14 unit, gedung perkantoran 17 unit, berbagai fasilitas jalan jembatan lainnya terhempas akibat gempa.

Aktivitas transaksi ekonomi terbengkalai, hubungan sosial terabaikan dimana secara pisikologis jiwa masyarakat dipenuhi rasa khawatir dan ketakutan karena sudah mengalami tingkat stress yang menggenaskan melihat dan menyaksikan akibat gempa dimana penduduk sampai ratusan orang meninggal.

Catatan BMKG gempa susulan sudah terjadi 161 kali dari gempa utama di Cianjur hingga Rabu tgl 23 November pagi pukul 07.00 WIB.

Menurut Daryono, kepala BMKG, gempa sdh 14 kali terjadi di daerah Cianjur-Sukabumi, untuk pertama kali tercatat pada tahun 1844, 1879, 14 Januari 1900 s/d November 2022 dengan berbagai kerusakan yang timbul akibat gempa.

Memang gempa bumi merupakan salah satu bencana alam dan sulit dicegah karena penyebab terjadinya dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan lempengan yang bergerak ke satu arah atau bisa lebih.

Semakin lama kian membesar dan akhirnya tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempeng.

Tenaga-tenaga ahli dari Badan Geologi telah mencatat secara statistik dan memetakan wilayah-wilayah kegempaan di seluruh Indonesia, mereka berkesimpulan bahwa hampir seluruh wilayah Nusantara dari mulai Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua memiliki potensi tingkat kegempaan yang sama kecuali Pulau Kalimantan.

Tidak heran, gempa bumi Ciancur disusul kemudian oleh gempa Mamasa di Sulawesi Barat tgl 5 Desember pkl 05.42 WIB, pusat gempa berjarak 12 kilomeer dari sebelah timur laut Mamasa dengan kedalaman 10 kilometer.

Kemudian gempa bumi di Labuan Bajo 6 Desember pkl 00.14 WIB. Pusat gempa bumi berada di laut 67 kilometer barat daya Labuan Bajo, NTT, kedalaman pusat gempa 93 kilometer

Revitalisasi Pemukiman
Bila pemerintah sudah memetakaan alur gempa nasional: propinsi, kabupaten dan kecamatan, maka kewajiban pemangkukepentingan melakukan mitigasi dengan memperhatikan zona aman dan peraturan penggunaan lahan dalam hal alokasi perumahan penduduk, membangun rumah tahan gempa dengan teknik membangun di area rawan bencana harus benar-benar sesuai dengan standar, serta menyediakan peralatan modern untuk pemantauan proses-proses geologi yang harus lebih banyak disebar di beberapa wilayah rawan bencana.

Pemerintah bisa berkaca dengan melihat negara Jepang yang juga sering mengalami gempa tetapi bisa melakukan mitigasi untuk mengurangi tingkat risiko kerugian ekonomi dan korban jiwa.

Resep mitigasi adalah memproteksi diri dari pada menghadapi bencana yang memporak porandakan kehidupan masyarakat.

Dalam hal ini pemerintah perlu bijak, tegas, dan disiplin, memonitor peta wilayah dan ruang yang nyaman bagi penduduk untuk tempat tinggal keluarga. Karena tidak mungkin penduduk dari Sumatra, Jawa, NTT, Sulawesi dan Papua akan melakukan transmigrasi ke Kalimantan hanya untuk menghindar dari gempa bumi.

Sekarang waktu yang tepat memasukkan materi pembelajaran menghadapi gempa bumi di kurikulum sekolah, seminar di Mesjid, Gereja, Wihara dan Kuil karena hal itu merupakan tanggungjawab bersama memberikan pengetahuan, dan cara mengurangi resiko untuk menjaga keteduhan.

Penulis teringat pada waktu masih di Berriens-Spring Mischigan thn 1980, Para guru memberikan pembelajaran bagi siswa untuk menghidari risiko dari angin taifun TORNADO.

Bilamana Tornado datang pada waktu siswa masih di dalam kampus atau di ruangan kelas, mereka sudah tau menghindar dari reruntuhan bangunan, sudah paham melindungi dirinya bila waktu berjalan pulang ke rumah di tengah-tengah badai.

Pada waktu berada di ruangan kantor, gedung bertingkat, atau bila sedang mengendarai mobil, sehingga tidak mati konyol bila taifun datang tiba-tiba, pembelajaran memperkecil risiko itu sangat penting.[br]


Toleransi Nurani Kebangsaan
Gempa bumi Cianjur merupakan salah satu model pembelajaran penting bagi masyarakat pluralisme. Sebahagian warga bangsa terketuk hati dan naluri kemanusiaannya lalu terpanggil mengumpulkan berbagai donasi untuk meringankan penderitaan mereka. Apa yang bisa disaksikan dalam hal penyaluran donasi?

Menarik untuk diperbincangkan: karena dalam situasi yang tidak menyenangkan muncul para pecundang yaitu sebahagian kelompok menolak bantuan kemanusiaan dengan alasan, bahwa bantuan bisa diterima dengan syarat “ label” si pemberi donasi harus dicabut, karena identitas sipemberi berbeda dengan masyarakat Cianjur.

Memang benar Gubernur Jawa Barat cepat tanggap mengatasi kepanikan ini. Tetapi patut disimak, bagaimana warga bisa menolak ketulusan nurani donator yang terpanggil memikirkan penderitaan orang lain dan turut berpartisipasi karena mengerti paham “kebangsaan”.

Dimana solidaritas warga bangsanya? Sesungguhnya era reformasi dengan berbagai sarana media sosial sdh harus lebih mudah mendewasakan masyarakat, karena bisa mendapat akses pengetahuan seluas-luasnya dari berbagai sumber dengan bantuan sarana teknologi komunikasi

Sungguh miris hati melihat masyarakat mengejar kemajuan ekonomi dan teknologi, bersaing di pentas globalisasi untuk meningkat kemakmuran supaya bisa sejajar dengan negara maju lainnya, tetapi sebahagian warga NKRI masih bergelut memperbincangkan “identitas” dan latar belakang masyarakat sebangsanya.

Apa yang terjadi dengan berita intoleransi di kota Cilegon Oktober yang lalu? Rencana pembangunan gereja di tanah milik Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Maranatha di lingkungan Cikuasa, Kelurahan Gerem, Kec. Grogol, Kota Cilegon mendapatkan penolakan dari sejumlah elemen masyarakat hingga perangkat Daerah/Wali Kota Cilegon bersikukuh tak mengeluarkan izin hanya karena berbeda keyakinan.

Pada hal data resmi negara tahun 2019 mencatat ada 382 mesjid dan 287 musalla di Cilegon, tanpa ada satu pun gereja, pura, maupun vihara, tentu mereka membutuhkan juga tempat ibadah.

Pintu masuk awal perbecahan bangsa adalah bila sdh mengutik-utik perbedaan dan melupakan toleransi kebangsaan.

Bila kondisi tidak bisa dikendalikan, penulis khawatir negara ini bisa tercabik-cabik dan bangsa lain yang akan menikmati manfaatnya.

Bukankah Sumpah Pemuda Oktober 1928 sudah berikrar dan di wakili oleh hampir semua puak,suku bangsa dgn latar belakang identitas yang berbeda-beda? Apakah “marwah dan roh persatuan” sdh terkikis karena identitas agama? Era reformasi memberikan keleluasaan mengeluarkan pendapat dan berserikat, tetapi harus dalam bingkai persatuan.

Nampaknya kebebasan memberikan pendapat sudah melampaui kewajaran hak azasi, karena seolah-olah kelompok majoritas bisa mendikte penguasa dan memaksakan kemauannya untuk menghambat kebutuhan orang lain.

Salah satu pemikiran strategis perlu dilaksanakan segera, yaitu:

a). merubah pola pikir (mind set) mulai dari Rumah Tangga materi toleransi dalam kehidupan pluralisme wajib dieksposisi melalui perilaku orant tua yang mengukir visi bagi anak-anaknya.

Jangan sampai tersekat-sekat karena perbedaan cara berpakaian, atau karena beda ras dan golongan setelah masuk Sekolah Dasar.

Hal ini sangat penting, karena satu hari kelak mereka akan menjadi pimpinan di berbagai bidang.organissasi.

b). menghidupkan kembali pembelajaran Pancasila.

Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila wajib diaktifkan kembali seperti zaman Orde Baru, Badan ini bertanggungjawab melakukan seminar kpd berbagai unsur, sehingga paham keterikatan masyarakat pluralisme.[br]


Kualitas SDM akan mumpuni, setiap kelompok masyarakat akan mendahulukan persatuan dalam “marwah kebangsaan”. Khusus para Dosen/Guru wajib hukumnya harus paham butir persatuan, c).

Membangun dialog kebangsaan-Konflik sesungguh adalah habitat umat manusia karena berbagai faktor. Tetapi pergunjingan karena beda keyakinan patut diperhatikan secara khusus.

Dalam hal ini pemerintah bisa membuat kebijakan bagi para pembicara/pembawa ceramah/seminar agar materi benar-benar mengalirkan kesejukan yang mempererat kesatuan berbangsa dan bernegara.

Dialog antar umat perlu di inisiasi untuk saling bisa mengerti dan memahami keunikan pluralisme Penulis khawatir, bila sebahagian besar kelompok masyarakat NKRI masih bergumul mencari titik temu toleransi persaudaraan, sementara negara tetangga sudah berpadu memikirkan, dan mengejar kemajuan ekonomi, akibatnya negri ini akan terpuruk karena kualitas SDM tidak bisa mengikuti irama kemajuan global. Jangan sampai terjadi pemisahan wilayah/daerah karena perbedaan indentitas, yang membuat negara NKRI tercabik-cabik.

Mari, kita jaga “marwah persatuan” bangsa pluralisme dengan teguh. Bravo. (Penulis adalah mantan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pelita Harapan)



Editor
: Bantors Sihombing
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Jatuh dari Panggung, Tantri Kotak Akui Badannya Baru Terasa Sakit
Peru Diguncang Gempa M 7,2, Picu Peringatan Tsunami
61 Kejadian Gempa Bumi Susulan Terjadi di Samosir
Data BMKG, Sejak Kemarin Sudah 51 Kali Samosir Diguncang Gempa
Samosir Dua Kali Diguncang Gempa Bumi, Berpusat di Darat
Gempa M 5,7 Guncang Nias Selatan
komentar
beritaTerbaru