Rumah Sakit Penang Unggul Menembus Pasar Indonesia, Apa Daya Tarik dan Rahasia Pelayanannya?


1.157 view
Rumah Sakit Penang Unggul Menembus  Pasar Indonesia, Apa  Daya Tarik dan Rahasia Pelayanannya?
Foto: Ist/harianSIB.com
Dr Ferdinand Butarbutar SE MBA

Oleh: Dr Ferdinand Butarbutar SE MBA

Pulau Penang salah satu negara bagian administrasi pemerintahan Malaysia ibu kotanya Georange Town, populasi tahun 2020 tercatat 1.740.405 jiwa dihuni oleh etnis Tionghoa 41,28%; Melayu 40,67%; India 8,93%, Non-Malaysia 8.08%, lainnya 1,04%. Bahasa yang digunakan sehari-hari: Melayu, Mandarin, Inggris, dan Tamil. Status penilaian Kehidupan Indeks Pembangunan Manusia-IPM di Malaysia menurut data statistik tahun 2021/2022 mencapai ranking 0.805 dari 199 negara dunia dimana nilai paling tinggi 0.962 dicapai oleh Switzerland.

Data IPM memberikan informasi bahwa akses pendidikan mudah diperoleh untuk mencari jenjang pekerjaan, rentang kesehatan dan hidup berkelanjutan lebih terjamin dengan pendapatan per kapita sebesar USD12,364, Indonesia baru mencapai USD4,795. Menurut Direktur Asosiasi Rumah Sakit Penang Dr. Chan Kok Ewe, yang tercatat di Edge Financial Daily, rumah sakit yang dikunjungi pasien, antara lain KPJ Penang Hospital; Subway Medical Center; Island Hospital; Gleneagles Hospital; Loh Guan Lye, Lam Wah Ee, Penang Adventist Hospital-PAH.

Pasien yang berkunjung tahun lalu diperkirakan 400,000 orang, pendatang dari Indonesia 75% (300,000 orang), lainnya dari USA, Eropah dan sebagian kecil dari Malaysia. Pendapatan dari layanan jasa rumah sakit tercatat RM380 juta sama dengan Rp1.254.000.000.000 (dengan kurs Rp3.300/RM). Kontribusi pendapatan rumah sakit dari pasien Indonesia sebesar Rp940.500.000.000 ( Rp1.254.000.000.000 x 0.75). Demikian juga tiket pesawat pulang pergi dari Indonesia ke Penang; 50 persen pasien dari Medan 50% x 300.000 x Rp900.000, pasien Jakarta 37% x 300.000 x Rp1,600,000, dan Surabaya 13% x Rp1.800.000, maka biaya tiket pesawat mencapai Rp383.200.000.000.

Bila diperhitungkan biaya pendamping pasien, penginapan, dan biaya lainnya sebesar 15 persen, maka total keseluruhan pendapatan Rumah Sakit Penang dari pasien Indonesia mencapai Rp 1.381.140.000.000 (Rp940.000.000.000+Rp 440.640.000.000). Aktivitas ekonomi Penang cukup menggiurkan, karena menarik devisa dari layanan rumah sakit. Tidak heran Asosiasi Rumah Sakit Penang memperkenalkan motto “WISATA KESEHATAN”. Terminologi wisata adalah tempat hiburan yang menarik untuk kunjungan individu, keluarga, atau kelompok, Secara finansial bisa dipenuhi, akses mudah dicari.

Tidak heran wisata kesehatan dipromosikan secara internasional karena rumah sakit menjamin kualitas layanan kesehatan dengan menyediakan fasilitas dan teknologi canggih, dokter professional di bidang keilmuan masing-masing, tangkas, berpengalaman, dengan sikap keramahan. Dimana pelayanan setiap rumah sakit benar-benar saling mendukung satu sama lain tanpa melakukan kanibal terhadap rumah sakit lain.

Dari teori ekonomi pembangunan, negara makmur biasanya membantu negara berkembang, akan tetapi dalam kasus “Wisata Kesehatan” dalil itu tidak relevan. Sesungguhnya pendapatan per kapita Indonesia lebih rendah dari Malaysia, tetapi populasi orang Indonesialah yang dominan berkunjung ke Penang. Penulis menginap selama 10 hari di Jln. Brown no.5, bertemu dengan 30 pasien Indonesia (50 persen dari Medan, 37 persen Jakarta, 13 persen Surabaya), angka ini baru hanya dari satu penginapan. Disekitar rumah sakit Penang Adventist Hospital-PAH misalnya, cukup banyak penginapan, apartemen, hotel, homestay, penghuninya pasien Indonesia. Pertanyaan muncul: mengapa pasien Indonesia harus datang mencari pengobatan ke Penang?

Apa sesungguhnya keunggulan dan daya saing yang ditawarkan rumah sakit Penang? Setelah mengikuti proses medis juga wawancara dengan pasien dan dokter, penulis memberikan kesimpulan, sebagai berikut: Faktor 1). Layanan Medis; a). Kualifikasi dokter, sungguh kompeten dibidang masing-masing, misalnya Rumah Sakit PAH terdiri dari 87 spesialis dan memperoleh sertifikasi dari luar Malaysia, antara lain Singapore, Australia, India USA, UK. b). Hasil pemeriksaan laboratorium relatif singkat, c). Zadwal dokter secara regular praktek di rumah sakit Senin s.d. Jumat 08.00-17.00 sore. d). Komunikasi dokter dengan pasien lancar karena bisa menggunakan bahasa Melayu, Inggris, Mandarin dan Tamil, e). Dokter tidak bisa buka praktek di tempat lain, khususnya bagi dokter rumah sakit swasta. f). Hasil konsultasi dokter dengan pasien terintegrasi.

Faktor berikut, 2). Layanan Non-Medis; a). Rumah sakit mempersiapkan petunjuk dengan jelas untuk memudahkan pasien berkunjung; b). Menyediakan jemputan dari bandara ke tempat peginapan tanpa biaya; c). Kerja sama antara rumah sakit dengan penginapan, hotel, apartemen; d). Biaya di Penang 30 persen lebih murah dari perawatan Singapura, karena perbedaan kurs.

Faktor nomor 3). Simbioses Mutualistis antar Asosiasi Rumah Sakit: a). Ada tujuh rumah sakit membentuk asosiasi kerja sama, artinya setiap rumah sakit mempunyai keunggulan masing-masing dalam hal kompotensi dokter dan kelengkapan alat yang digunakan, sehingga setiap rumah sakit membuka diri menerima pasien rujukan tanpa kesulitan administratif. Misalnya; Ibu dari Pulo Mas, Jakarta Timur dioperasi kanker di Gleneagles Hospital.

Pada waktu mau kontrol ke rumah sakit, Ibu tersebut dirujuk ke Rumah Sakit Advent (PAH), karena ada alat canggih yang dimiliki PAH untuk kontrol. Demikian juga pasien Ibu Aty dari Sunter Hijau, Jakarta Utara, awalnya diperiksa di rumah sakit PAH, dengan diagnose gondok, tetapi dia memilih tindakan operasi di Rumah Sakit Lam Wah Ee, dan berjalan lancar. Ini membuktikan bahwa kerjasama antara ketujuh rumah sakit terpadu dan promosi sebagai “WISATA KESEHATAN” bisa sukses .dan menembus pasar Internasional.

Editor
: Bantors
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com