Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Renungan

Hidupku adalah Kesaksianku (Bahan Bacaan :Yakobus 2:22)

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu,MPAK
- Minggu, 28 Februari 2016 15:37 WIB
6.015 view
Hidupku adalah Kesaksianku (Bahan Bacaan :Yakobus 2:22)
Sebagai orang Kristiani, kita sering dituntut untuk "tidak hanya bicara", tetapi "menjalankan ucapan kita". Nasihat yang sama juga diungkapkan dalam kata-kata berikut: Jangan biarkan tingkah laku Anda bertentangan dengan iman yang Anda percayai. Pada kesempatan lain kita diingatkan untuk memastikan bahwa hidup kita selaras dengan ucapan kita. Jika perilaku kita tidak selaras dengan pengakuan iman kita, maka ketidakselarasan itu akan menghapuskan kesaksian Injil yang kita sampaikan.

Seperti yang kita ketahui, Mahatma Gandhi tidak pernah menjadi orang kristiani. Namun, ia pernah membuat pernyataan bahwa kita, pengikut Yesus, harus memikirkan hidup dengan baik. Ketika orang Kristen meminta untuk menyampaikan pesan pendek, Mahatma Gandhi menjawab, "Hidupku adalah kesaksianku."

Memang kita perlu menjelaskan pesan Injil sejelas mungkin. Namun, penjelasan yang paling jelas sekalipun, belum tentu akan memenangkan hati yang mendengarnya bagi Tuhan, bila kasih-Nya tidak menyatu dalam hidup kita. Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korint 11:1, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." Karena ia menempatkan dirinya sebagai teladan, ia menulis dalam, "Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu" (Filipi 4:9).

Pada ayat sebelum pasal 2 ini digambarkan perbedaan antara penghakiman dan belas kasihan maka sekarang berubah menjadi perbedaan antara iman dan perbuatan. Bagian ini mendukung suatu pemikiran yang sangat meyakinkan. Hal itu mengungkapkan keyakinan penulis yang sangat kuat bahwa iman tanpa perbuatan adalah tidak berguna. Jelas bahwa dia menentang orang-orang yang menyangka dan berkata bahwa iman saja cukup untuk menyelamatkan seseorang.

Yakobus menekankan bahwa tidak ada pemisahan antara iman dan perbuatan. Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa dirinya memiliki iman jika tidak ada perbuatan yang membuktikannya. Iman yang sesungguhnya harus diungkapkan dalam perbuatan. Inilah keyakinan Yakobus dan salah satu pokok pikiran utama dalam suratnya.

Seluruh bagian ini disampaikan dalam bentuk tulisan tanya jawab.

Malah lebih jauh bahwa iman dan perbuatan itu harus menjadi bagian dari kehidupan, bagian dari kesaksian dan pengalaman orang percaya. Inilah yang dimaksudkan Yakobus bahwa hidupnya menjadi kesaksian. Mengapa?

Yakobus memberi jawaban yang tepat. Kalau kita mencoba mencari bukti dari iman seseorang, perhatikanlah perbuatannya. Apa yang diperbuat seseorang mencerminkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Jika tutur lakunya sama sekali tidak mencerminkan orang yang sudah diselamatkan, imannya patut dipertanyakan (ayat 15-17). Yakobus memberi contoh tentang Abraham dan Rahab. Kita tidak bisa membaca pikiran dan hati mereka, tetapi bisa melihat bahwa mereka memercayai Allah melalui perbuatan mereka. Abraham rela mempersembahkan anaknya kepada Allah, Rahab mempertaruhkan nyawa untuk menyembunyikan mata-mata umat Allah. 

Satu perbuatan jauh lebih berharga dari seribu kata-kata.  Setiap orang percaya dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah karena dituntut untuk membuktikan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekedar fasih mengucapkan firman.  Tuhan Yesus menuntut kita untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar!  Yakobus berkata,  "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu hakekatnya adalah mati."  (Yakobus 2:17).  Jadi, iman itu "...bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna."  (Yakobus 2:22).  Itulah iman yang diwujudkan melalui perbuatan nyata.

Ada orang hanya sedikit mengetahui jumlah ayat-ayat Alkitab, namun perbuatan dan hidupnya menjadi contoh dan teladan bagi banyak orang. Sebaliknya ada orang yang rajin menuruti peraturan agamanya, kaya dan berwawasan dalam pengetahuan namun imannya tidak bertumbuh dalam gereja dan masyarakat.

Agar kita disebut sebagai orang yang beriman maka jadilah pelaku dan teladan dalam perkataan dan perbuatan dengan demikian hidupmu menjadi kesaksian bagi sesama di dunia ini.  Amin.!  (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru