Peradaban manusia yang secara terus menerus bergerak ke arah kesempurnaan telah disambut oleh semua bangsa dan negara di berbagai belahan dunia dengan berbagai kondisi infrastruktur, suprastruktur dan substruktur yang berbeda-beda. Semuanya memiliki cita-cita dan tujuan yang sama yaitu peradaban yang absolute, yaitu manusia yang dapat mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya ke arah yang lebih baik yang saat ini kita kenal dengan globalisasi.
Globalisasi merupakan indikator peradaban manusia yang sangat sempurna sesuai dengan intensitas kebudayaannya masing-masing. Manusia yang sempurna adalah manusia yang mempunyai peradaban dan kebudayaan, dan peradaban yang sempurna itu akan sangat tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dunia saat ini bergerak dari pax americana menuju sebuah tatanan baru yang disebut pax consortis. Hal ini berarti bahwa tatanan dunia akan menjadi suatu fungsi dari negara-negara atau wilayah-wilayah utama untuk bekerja secara bersama-sama, bahkan sebuah istilah baru yaitu chindonesia telah diperkenalkan oleh Nicholas Cashmore, mengajak kita untuk melihat segitiga kekuatan global asia yang baru yang terdiri atas China, India dan Indonesia, yang merupakan tiga negara yang telah mencapai pertumbuhan ekonomi positif.
Peradaban globalisasi merupakan arah dan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap orang di berbagai belahan dunia, termasuk di dalamnya jemaat HKBP. HKBP sebagai suprastruktur dari bangsa dan negara Indonesia, tidak boleh tidak, harus sejalan dengan apa yang menjadi cita-cita seluruh masyarakat dunia sebagaimana yang terkandung dalam konvensi PBB dan terutama pada konstitusi negara RI, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan dasar dari dasar berpikir, bersikap dan bertindak dalam berbagai interaksi sosial baik dalam berbangsa dan bernegara maupun bergereja.
HKBP merupakan suprastruktur ketiga terbesar bidang keagamaan di Indonesia selain Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama. Bagi orang Batak khususnya Batak Toba, HKBP merupakan sosial kapital yang sarat makna dan arti, dan sangat strategis dalam membangun karakter kebatakan dalam kekristenan dan dalam keindonesiaan, sebagaimana dengan Muhammadiyah dan NU yang sekarang telah membangun dirinya dalam keindonesiaan melalui apa yang disebut dengan Islam Nusantara.
Perjalanan HKBP dalam membangun kebatakan dalam kekristenan telah berjalan satu setengah abad (154 tahun) dan merupakan waktu yang tidak singkat. Berbagai rintangan dan tantangan yang dihadapi merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga, dan memiliki added value bagi seluruh warga dan jemaat HKBP maupun bagi seluruh orang Batak Toba diberbagai tempat terutama dalam menghadapi kehidupan global yang semakin kompetitif. Perjalanan panjang tersebut telah mampu membangun kehidupan jemaat yang karakter Batak dan Kristen dalam keindonesiaan melalui HKBP yang tersebar di seluruh dunia.
Konsepsi HKBP secara terus menerus dan konsisten terus dikembangkan dalam rangka membangun karakter kebatakan dalam keindonesiaan seperti Tahun Anak pada tahun 2013, Tahun Remaja pada tahun 2014, Tahun Parompuan 2015, dan Pembangunan Sopo Marpikir di Jakarta (Think Tank) yang merupakan pusat kajian strategis serta penetapan tahun 2016 sebagai "Tahun Keluarga".
Kesemuanya itu mengandung arti dan sarat makna sebagaimana yang terkandung pada Profil Kristus Yesus sebagai Juruslamat dan kepala gereja.
Tahun Keluarga 2016 menurut hemat penulis memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan Tahun Remaja dan Tahun Parompuan, karena Keluarga memiliki philosophi yang sangat dalam bagi umat manusia khususnya orang Batak Toba yang memiliki struktur sosial Dalihan Na Tolu, terutama bagi keluarga yang mengenal Yesus dan menjadikan-Nya sebagai Juruslamatnya. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh keberadaan keluarga Kristen menunjukkan penghayatan dan pemahamannya pada ajaran Kristus. Keluarga Kristen bukan hanya sebuah label (trademark) atau sebuah catatan sensus penduduk, bukan juga atas frekuensi kehadiran keikutsertaan dalam ibadah, akan tetapi keluarga Kristen tampak melalui tampilan dan karakter tiap-tiap anggota keluarga melalui pola pikir, pola sikap dan pola tindak.
Tiga fungsi keluarga dalam peradaban manusia: pertama, mewakili Tuhan dalam mengelola alam semesta; kedua, menjadi institusi pendidikan pertama dan terutama; dan yang ketiga, menjadi wadah bagi anggota keluarga dalam mengekspresikan cinta, kesetiaan dan saling menghormati dan sebagai regenerasi. Dalam mewujudkan ketiga fungsi tersebut, tidaklah mudah bagi keluarga khususnya jemaat HKBP, jangan sampai ada keluarga yang memiliki one mission but different motivation. Kalau hal ini terjadi sangat berbahaya bagi masa depan dari semua anggota keluarga, idealnya one mission and same motivation.
Ketercapaian peradaban globalisasi dalam satu keluarga merupakan pekerjaan yang tidak mudah bagi keluarga pada era keterbukaan informasi, komunikasi dan teknologi informasi, dan transportasi yang sangat cepat. Konsistensi dan komitmen yang sama dalam mengartikan kehidupan globalisasi menjadi sangat penting atau boleh dikatakan sebagai kata kunci. Tata kelola keluarga saat ini merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar dan bukanlah pekerjaan ringan, setiap kepala keluarga harus mampu memainkan perannya baik sebagai pilar keluarga, dan matahari keluarga bahkan sebagai nahkoda yang dapat menggerakkan semua subsistem yang ada dalam keluarga.
Ama (kepala keluarga) yang tangguh, perkasa, yang siap dalam menghadapi berbagai persoalan hidup baik sosial budaya, ekonomi maupun ketahanan keluarga (family resilience) menjadi yang utama dan terutama dalam menjawab berbagai tantangan dalam kehidupan. Ama merupakan panggilan yang bukan main besarnya, setiap Ama membutuhkan hikmat yang dari Tuhan dalam membangun keluarga (Amsal 22: 6), oleh karena itu sosok Ama yang dinanti-nantikan keluarga baik lembaga maupun pemerintah khususnya HKBP adalah Ama na Marbako Kristiani, sebab keluarga Kristen adalah "jemaat kecil" atau miniatur gereja yang berpusat pada Tuhan dan Firman-Nya sebagai dasar dan pedoman kehidupan (Buku Panduan Tahun Keluarga HKBP 2016).
Dr Darwin Lumbantobing mengatakan bapaklah yang lebih berperan dalam pelaksanaan Tahun Keluarga ini, yaitu sebagai tuan rumah atau yang manghasuhutton. Oleh karena itu, sosok Bapak yang kekinian menjadi sangat penting atau sangat dibutuhkan dalam tata kelola rumah tangga dalam menghadapi berbagai fenomena kehidupan globalisasi yang semakin canggih saat ini (SIB 18 Januari 2016). Dia harus cakap, dan cerdas dalam membaca berbagai fenomena kehidupan baik internal maupun eksternal. Ama sebagai pusat perhatian dan pembaharu atau center of excellent dari waktu ke waktu sebagaimana falsapah Batak mengatakan "Jolo Sian Jabu do Asa Tu Alaman".
Bagaimana dengan keluarga yang tidak memiliki seorang Bapak? Hal ini tidaklah masalah sebab dapat digantikan oleh Ibu yang kita kenal dengan single parent. Secara faktual bagi kehidupan kita selama ini telah cukup banyak keluarga yang berhasil dan sukses dibawah pimpinan seorang Ibu (janda) atau kita sebut dengan namabalu (inahanna). Margaret Teacher seorang wanita yang bertangan besi dapat membangun ekonomi Inggris pada puncak kejayaannya bahkan dapat memimpin perang dengan Argentina (Pulau Vakland). Demikian juga dengan Indira Ghandi yang berhati mulia, dan tulus, juga mampu membangun India dalam meletakkan dasar pembangunan India menuju kejayaannya, dan banyak lagi wanita-wanita lain yang berkarakter dan berintegritas mampu membangun keluarga menuju kejayaan, seperti Ibu Abraham Samad mantan ketua KPK, TB Silalahi, dan banyak sekali wanita Batak (Namabalu "Inahanna") dengan kesendiriannya dapat membangun keluarga pada puncak kejayaannya.
Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata, MA mengatakan bahwa Tahun Keluarga dimana Bapak (Ama) sebagai malim, teladan, sebagai pemimpin harus mampu membentuk karakter keluarga, karakter anak sebagai generasi penerus, membentuk rumah tangga sioloi Debata. Ephorus menekankan bahwa kaum Bapak sebagai malim harus berani mengatakan kebenaran, karena kebenaran mengatakan "alai anggo ahu dohot donganku sajabu, ingkon Jahowa do oloannami" (Josua 24:15b). Ingkon tangkas do Ama dohot pangisina manyuarahon hata ni Debata di taon na imbaru on, juga harus mampu untuk menciptakan generasi muda sioloi Debata. Gabe malim di tonga-tonga ni keluarga, sebab keluarga adalah gereja yang pertama kita jumpai. Seorang anak harus mendapat didikan kehidupan di dalam keluarga. Didikan kasih sayang, didikan moral dan pembentukan karakter. Ama gabe malim na mangajarhon patik ni Debata, jala mangolu di bagasan pangoloion ni Debata Jahowa.
Fenomena lain yang berkembang bagi keluarga Batak Toba yang harus diwaspadai di wilayah Tapanuli mungkin juga di luar Tapanuli dalam globalisasi saat ini, terjadinya degradasi kekerabatan (holong) sebagaimana yang terkandung dalam struktur sosial "Dalihan Na Tolu". Sebagaimana diketahui bahwa “Dalihan Natolu†yang terajut berdasarkan genealogi (parmudaron); dongan tubu, hula-hula dan boru, yang dalam interaksi sosialnya didasari atas "holong" (mudar); dongan tubu dengan dongan tubu, atau dongan sabutuha, hula-hula dengan boru maupun sebaliknya. Saat ini interaksi sosialnya cenderung atas dasar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, padahal Dalihan Na Tolu seharusnya dapat berfungsi sebagai pendorong aspek kehidupan secara profesional dan proporsional akan tetapi saat ini hanya berfungsi sebagai instrumen upacara adat baik pernikahan, maupun kematian (pasidung ari-ari) atau upacara adat lainnya.
Bagi HKBP maupun Pemerintah di wilayah Tapanuli khususnya Sumatera Utara, penetapan Tahun 2016 menjadi Tahun Keluarga, merupakan momentum yang sangat strategis dalam menyiapkan para generasi muda Batak yang cerdas, berkarakter dan berintegritas. Tahun keluarga ini harus dijadikan milik bersama setiap anggota jemaat (orang Batak) tanpa kecuali, semua pihak diminta segera merespon dan memulainya dari diri sendiri, jangan sampai menunggu pihak lain atau orang lain untuk melakukannya, semua pihak diminta untuk bekerja bersama-sama bukan sama-sama kerja. Saling mengisi dan bergandengan tangan dalam menata dan membangun keluarga agar dapat menjadi sosok yang dapat menjadi matahari dalam interaksi sosial khususnya dalam berbangsa dan bernegara, mulai dari pola pikir, sikap, dan pola tindak.
Tahun Keluarga HKBP 2016 diarahkan pada elemen warganya dalam membentuk keluarga fungsional, membangun keluarga sejahtera bukan semata ekonomi akan tetapi etika dan moralitas yang disebut mamora dijolma, mamora di roha, mamora di pangalaho dan mamora di parbinotoan sebagai capital social dalam landscape peradaban dunia yang terus bergerak menuju kesempurnaan. Oleh karena itu HKBP harus mempersiapkan setiap keluarga agar mampu menghadapi berbagai tantangan, seperti menghadapi anak yang sulit beradaptasi, putus sekolah, narkoba, pergaulan bebas, seks bebas, perselisihan suami-istri (perceraian), dan kekerasan dalam rumah tangga.
Konsepsi Tahun Keluarga bukan semata-mata kegiatan rutinitas atau seremonial akan tetapi Tahun Keluarga 2016 menjadi arah dan strategi dalam membangun jemaat berkarakter "Bakko Kristiani", atas dasar konsepsional yang aktual dan faktual. Sebagaimana juga arah dan strategi Sun Tzu dalam menyiapkan seluruh personilnya dalam medan perang dimana Sun Tzu mengajarkan dua tataran seni perang, yaitu tataran strategi dan tataran taktik. Tataran strategi lebih berupa fondasi untuk memenangkan persaingan, sedangkan tataran praktis membahas bagaimana respon kita terhadap situasi yang berbeda, bagaimana respon kita memanfaatkan kesempatan (opportunity) atau ancaman yang tiba-tiba muncul, melalui tiga prinsip strategi, yakni commitment, observation dan preparation. Demikian halnya dengan HKBP, strategi dan tataran taktik dalam menjawab peradaban globalisasi harus terus dikembangkan.
Buku panduan Tahun Keluarga 2016, telah memberikan arah target yang dicapai, namun secara substansial masih sangat dibutuhkan arah dan strateginya sebab tahun keluarga ini bukan hanya dibutuhkan di tahun 2016 saja, akan tetapi sepajang masa. Rumusan arah dan strategi dalam menyatukan derap langkah komitmen, persiapan dan konsistensi serta kesinambungan, menjadi hal yang sangat urgen terutama dalam menjadikan HKBP mampu menjadi penyuara, ikut memperdengarkan keadilan, menghargai bumi serta keutuhan ciptaan-Nya, serta terbangunnya kerjasama antara pemerintah dan HKBP secara equel. HKBP sepatutnya menjaga keutuhan ciptaan-Nya, atas kesewenang-wenangan dalam bahasa Batak disebut marlolomo, korupsi, kolusi, nepotisme dan pengundulan hutan dan lain-lain. HKBP harus mampu berdialog, membuka semacam diskusi, dengan para pelaku "atik tung angka ruas HKBP do akkai".
Sejalan dengan berbagai fenomena yang diuraikan diatas dalam rangka menyikapi landscape dan turbelensi dalam proses peradaban yang absolute beberapa upaya dan strategi yang ditawarkan penulis adalah sebagai berikut :
Pertama, dengan kondisi Ama saat ini, khususnya di wilayah Tapanuli, dimana tingkat presentasi kehadiran sangat rendah dibandingkan dengan Parompuan, baik pada ibadah minggu, keluarga maupun pesta adat, masalah ini apakah akibat kemalasan atau tingkat pendapatan yang rendah? atau mungkin juga akibat ketidak percayaan terhadap simbol-simbol negara atau gereja atau hal lain? HKBP dan Pemerintah harus segera menemukan metoda dan strategi baru dalam mengembangkan profil moralitas Ama yang dapat menjawab kekinian, sebagaimana hombar jabutta seperti: Masjid, Pure, dan Kuil, yang kebanyakan didominasi oleh kaum laki-laki (Ama) yang datang dibandingkan dengan perempuan bahkan Ama telah berperan sebagai imam. HKBP bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan terutama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Samosir, Dairi, Pakpak Barat, Simalungun, Kota Siantar, Sibolga dan Medan, untuk merumuskan arah dan strategi dalam meningkatkan profil moralitas "Ama" sebagai "engine" (motor) di tengah-tengah keluarga dan lingkungannya dalam membangun kehidupan yang berkarakter dan berintegritas.
Kedua, eksistensi laki-laki yang secara otomatis menjadi pemimpin, sekecil-kecilnya pemimpin (kepala) keluarga, oleh karena itu otoritas laki-laki atas perempuan dan anak harus dibangun atas dasar moralitas seperti :
1. Moralitas dan akuntabilitas individual, yaitu taqwa kepada Tuhan Debata Jahowa dan Kristus Jesus, berwawasan Iptek, memiliki etika dan nilai personal yang jelas (adil, tidak adil, baik buruk), memiliki kondisi kesehatan prima baik jasmania maupun rohaniah, memiliki nilai kejujuran dan integritas yang tinggi termasuk integritas dan kejujuran intelektual yang selalu berusaha menyampaikan kebenaran dan bukan pembenaran, dapat di percaya, memiliki kecakapan dan kemampuan serta berani secara terukur, memiliki tingkat kecerdasan yang memadai dan berpendidikan yang cukup, sehingga mampu dan yakin untuk berpikir strategis dalam pengambilan keputusan, mampu menyampaikan pemikiran secara jernih.
2. Moralitas dan akuntabilitas sosial, yaitu mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara baik dengan lingkungan sekitarnya, dalam rangka penyerapan aspirasi, dapat membangun simpati dan dapat diterima oleh masyarakat dilingkungannya.
3. Moralitas dan akuntabilitas institusional, yaitu selalu taat pada tata gereja, peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku, transparan, akuntabel dan responsif.
4. Moralitas dan akuntabilitas global, seperti memiliki wawasan regional dan global dengan semangat membangun kebersamaan dan kerjasama yang baik, selalu menjaga semangat kemitraan dengan menghormati keragaman budaya, etnis dan memiliki kesadaran akan bahaya dan keamanan yang komprehensif yang membahayakan umat manusia khusus ketahanan keluarga (family resilience). (Indeks Kepemimpinan, Lemhannas RI, 2008)
Ketiga, HKBP sebagai suprastruktur keagamaan ketiga terbesar setelah Muhamadyah dan NU, harus mampu memainkan perannya dalam membangun keindonesiaan sebagaimana dikatakan oleh Pastor Amandus, bahwa "wilayah pemerintah adalah seluruh aktivitas untuk mensejahterakan rakyat, khususnya aktivitas sosial politik budaya, hak asasi manusia, keamanan nasional. Sedangkan wilayah gereja, utamanya adalah wilayah moral, karena pemerintah belum mampu, maka kadang gereja harus ikut serta dan terlibat dalam urusan sosial ekonomi. Gereja adalah penjaga gawang moral: keadilan, kebenaran, kejujuran dan lain-lain. Saat ada politik kotor, saat ada korupsi, saat ada pemutarbalikan kebenaran oleh oknum pemerintah, baik eksekutif, legislatif, yudikatif dan oknum politisi, gereja bersuara. Gereja tetap terlibat dalam politik dengan arti mendampingi umatnya, memberi pencerahan kepada umat awam. Pendampingan kepada umat awam agar terlibat dalam dunia politik yang adalah wilayah kaum awam. Mengkritisi gejala kotor di masyarakat, dimana wilayah moralnya diinjak-injak, sehingga umat yang kurang paham dan kurang sadar dapat bangkit dan berjuang bersama hirarki gereja demi membela keadilan, kebenaran dan kejujuran" (http://www.papuaanigou.com).
Keempat, HKBP harus mampu menjalankan perannya secara fundamental dalam tata kelola berbangsa dan bernegara khususnya dalam menjalankan pemerintahan di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara khususnya Pemerintah Kabupaten/Kota yang mayoritas penduduknya warga Batak, khususnya yang beragama Kristen dalam menjawab arti negara bagi warga negara. Sebagaimana yang dikatakan oleh Socrates akan arti sebuah negara bagi warga negara, yaitu bahwa negara bukanlah organisasi yang dapat dibuat oleh manusia untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi merupakan jalan susunan objektif berdasarkan pada hakikat manusia sehingga bertugas menjalankan peraturan-peraturan yang objektif, mengandung keadilan dan kebaikan bersama atau umum, tidak hanya melayani kebutuhan penguasa yang berganti-ganti orangnya.
Kelima, membangun Kolaborasi secara permanen dan equel antara HKBP dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten/Kota seperti Medan, Sibolga, Pematang Siantar, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Pakpak Barat dan Simalungun, atas dasar kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan atas dasar kepentingan yang transaksional akan tetapi berdasarkan konsepsi strategis dalam membangun kebatakan dalam keindonesiaan, sebagaimana amanat Bapak Presiden Republik Indonesia dalam membangun Indonesia dimulai dari desa.
Keenam, Tahun Keluarga 2016 merupakan momentum HKBP dalam meletakkan fondasi dasar dalam menjawab setiap keluarga HKBP terutama orang Batak Toba diberbagai belahan dunia untuk mampu berdiri setara dengan berbagai masyarakat dunia dalam berbagai even, oleh karena itu Rancang Bangun (Rencana Induk) Pembangunan HKBP 2012-2061 harus membuat strategi dan kebijakan yang substansial atas dasar perubahan landscape dan turbelensi globalisasi yang tidak mengenal tapal batas dan budaya serta agama. Rancang Bangun tersebut menjadi arah atau sebagai kompas bagi setiap orang Batak Toba dalam menjawab hidup kekinian khususnya para stakeholder HKBP pada masa yang akan datang.
Ketujuh, Universitas HKBP dan Sopo Marpikir dapat berfungsi lebih produktif sebagai think tank yang dapat menghasilkan kajian-kajian strategis aktual dan faktual sebagai bahan rumusan dalam penentuan kebijakan pucuk pimpinan HKBP baik bergereja maupun berbangsa dan bernegara.
Dengan berbagai olah pikir yang disampaikan penulis diatas diharapkan akan mampu membentengi berbagai tantangan, hambatan dan rintangan yang silih berganti, walaupun kegaduhan dalam kepemimpinan dari waktu ke waktu terjadi, adalah merupakan sebuah proses pendewasaan sebagaimana philosofi Batak mengatakan "purpar dorpi lam tu dipposna"; melalui strategi Nomensen dengan platfomnya yang telah terkristalisasi bagi seluruh orang Batak Toba diberbagai belahan dunia, yaitu kebatakan dalam kekristenan telah mewarnai jati diri setiap orang Batak Toba yang transparan, berpikir logik dan rasional, harus terus digaungkan dan dapat dijadikan doktrin dalam membangun jemaat.
Arah dan strategi konsepsi HKBP yang sistemik menjadi salah satu jawaban dan merupakan hal yang paling dahsyat dalam mensukseskan Tahun Keluarga yang Bakko Kristiani yang sangat ampuh dalam menghadapi turbelensi kehidupan sosial, baik sosial budaya dan ekonomi maupun politik. Sekaligus dalam rangka membangun kebersamaan atas kebhinekaan secara demokratis berdasarkan UUD Negara RI 1945.
HKBP sebagai suprastruktur keagamaan ketiga terbesar di Indonesia, secara terus menerus, harus mengembangkan dirinya dalam menjadikan HKBP tetap eksis dalam membangun bangsa dan negara. Tahun 2016 sebagai Tahun Keluarga bukanlah target akhir, akan tetapi menjadi embrio dalam membangun karakter kebatakan dalam keindonesiaan dan dalam kekristenan, dalam rangka menghasilkan generasi muda HKBP yang memiliki branding "Bakko Kristiani" yang kelak tidak ditelan oleh perubahan akan tetapi mampu mewarnai proses peradaban manusia, baik berbangsa dan bernegara dalam membangun keindonesiaan itu serta/ataupun mampu mewarnai kehidupan global.
Bravo, bravo HKBP dan terima kasih untukmu, engkau telah membuka mata kami dan membangun karakter dan integritas orang Batak yang di sebut dengan kebatakan dalam kekristenan dalam keindonesiaan. (Penulis adalah Mantan Direktur Pengkajian Internasional Lemhannas RI dan saat ini sebagai Wakil Bupati Tapanuli Utara/c)