Jakarta (SIB)- Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) di kawasan Kalijodo menyimpan keunikan tersendiri di antara bangunan lainnya. Jika bangunan yang lain sarat dengan bir, alkohol dan perempuan, bangunan ini tetap setia berdiri melayani umat Kristiani untuk beribadah setiap hari Minggu.
Bangunan seluas 600 meter persegi itu mampu menampung lebih dari 50 jemaat di pelayanan hari Minggu biasa. Bahkan gereja kecil ini sanggup menampung 100 orang di hari-hari besar seperti Natal dan Paskah. Rata-rata jemaat di situ adalah warga sekitar Jalan Kepanduan II Jakarta Utara bahkan beberapa di antara mereka adalah pekerja seks komersial (PSK) Kalijodo yang setiap malam mangkal.
“Mereka (PSK) datang dan pergi di gereja ini. Tidak ada yang menetap (beribadah). Biasanya mereka akan pergi beribadah di wilayah lain. Kadang-kadang ada PSK yang pakai kalung salib,†kata Gembala Sidang Jemaat GBI Kalijodo Pendeta Timotius Sutomo dalam keterangan persnya usai melayani jemaat di Jalan Kepanduan II Jakarta Utara, hari Minggu (28/2).
Timotius juga mengungkapkan gereja tersebut melayani konseling bagi mereka yang membutuhkan teman untuk berbagi. Sejauh ini, kata dia, pelayanan tersebut masih berupa penguatan rohani dan pelayanan kesehatan gratis.
Sebelumnya, Jalan Kepanduan II tidak ramai dengan bangunan-bangunan yang berisi PSK. Namun, setelah ada pembangunan tol bandara pada tahun 1990, lokalisasi tersebut pindah ke Jalan Kepanduan II. Timotius menjelaskan gereja ini ada sebelum wilayah tersebut ramai dengan cafe remang-remang.
Relasi dengan warga sekitar, mucikari hingga PSK pun terjalin dengan baik. Mereka bahkan menyegani gereja tersebut dan ikut datang meramaikan acara yang diselenggarakan oleh gereja seperti acara Natal, Paskah maupun perayaan kemerdekaan.
“Kami kalau ada ibadah malam suaranya campur baur dengan tetangga sebelah. Mereka pasang musik dangdut, kami bernyanyi memuji Tuhan. Tapi tetap suara kami kalah karena tetangga samping kanan dan kiri pasang musik keras-keras. Itulah suka-dukanya,†kata dia.
Hingga saat ini, Timotius mengaku belum ada pembicaraan resmi dengan pemerintah kota Jakarta Utara terkait relokasi gereja. Namun, untuk ibadah, pihaknya akan meminjam tempat milik Asosiasi Pendeta di daerah Tubagus Angke Jakarta Utara.
Ibadah Terakhir, Tetap Sukacita
Sekitar 50 Jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang berada di kawasan Kalijodo, Minggu (28/2) masih antusias dan bersukacita meskipun hari ini adalah ibadah terakhir mereka.
“Terima kasih sudah datang. Ini ibadah terakhir kita sebelum pembongkaran Kalijodo,†kata Timotius Sutomo.
Suasana kali ini memang berbeda dari biasanya. Semua kursi sudah diangkut dari ruangan. Jemaat duduk di lantai beralaskan tikar dan koran bekas.
Tidak ada alat musik lengkap yang biasanya mengiringi mereka untuk memuji dan menyembah Tuhan. Hanya dua buah gitar akustik yang dipakai untuk melayani jemaat.
Selain alat musik dan kursi yang sudah tidak ada di ruangan tersebut, lampu juga sudah tak dipasang. Jadi, jemaat beribadah tanpa menggunakan alat penerangan.
“Seadanya ya. Listrik di dalam sudah dicabut dan kursi sudah dipindahkan,†kata Timotius.
Jangan Marah Sama Tuhan
Tanpa pengeras suara, Pdt Timotius dalam khotbahnya, meminta jemaat agar terus beribadah dan jangan marah kepada Tuhan karena bangunan gereja tersebut akan segera diratakan dengan tanah.
“Pada hari ini sebelum bangunan ini tidak ada lagi tapi kita masih punya satu kali kesempatan (beribadah). Kita masih punya iman bahwa Tuhan masih menyediakan tempat. Keadaan boleh berubah tapi kita enggak selesai disini, kita enggak berakhir disini. Kita diarahkan Tuhan untuk melangkah ke arah selanjutnya. Kita enggak boleh marah sama Tuhan,†kata dia.
Timotius kemudian mengumpamakan gereja tersebut sedang berada dalam fase metamorphosis tak sempurna yang dialami kepompong ketika hendak menjadi kupu-kupu. Mengapa tak sempurna? Karena rupanya saat kepompong tersebut sedang membentuk diri, ada anak kecil yang penasaran dengan proses yang dialami oleh kepompong itu. Anak kecil itu, lanjut dia, kemudian menggunting badan kepompong dan tidak sabar ingin melihat kupu-kupu yang indah itu lepas dari badan kepompong.
Kepompong tersebut mengeluarkan zat-zat yang seharusnya membuat dia menjadi kupu-kupu yang indah. Apa yang terjadi? Kepompong itu mati.
Timotius tidak ingin hal serupa tidak terjadi pada jemaatnya yang kini tak punya gedung gereja untuk beribadah. Dia mengimbau kepada jemaat agar tetap terus bertekun dalam Tuhan supaya rencana Tuhan tetap digenapi dalam kehidupan jemaatnya. Kemudian, dia mengambil dua kisah dari Alkitab yaitu Yusuf dan Ayub. Yusuf yang semula adalah anak kesayangan bapaknya tiba-tiba dibuang oleh saudara-saudaranya menjadi budak di Mesir.
“Ada Roh Tuhan dalam dia. Dia tetap beribadah di dalam saat-saat kesesakan menjadi budak. Tapi Tuhan mengajarnya enggak cukup di situ. Yusuf lalu mengalami pencobaan lagi yaitu dimasukkan ke dalam penjara. Tapi dia tetap bersyukur, percaya dan berharap sama Tuhan. Karunia Tuhan enggak hilang dalam dia karena dia tetap terus di dalam Dia.â€
Menutup khotbahnya, dia berpesan kepada jemaat untuk bersyukur dalam waktu 48 tahun bisa beribadah dan menjalani masa kepompong. Dia juga meyakinkan jemaat bahwa yang terjadi saat ini akan menjadi kebaikan di kemudian hari.
“Apa yang buruk di luar sana, Tuhan sanggup menjadikannya menjadi suatu kebaikan,†kata dia.
Khotbah tersebut kemudian ditutup dengan lagu Tangan Tuhan (Pelangi KasihNya) sebagai ucapan syukur dan langkah iman jemaat GBI Kalijodo. Tak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata karena sedih dan terharu melepas bangunan gereja yang telah menampung mereka selama 48 tahun tersebut.
“Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia. Saatnya kan tiba nanti kau lihat pelangi kasihNya,†demikian kutipan pujian yang mereka senandungkan sambil berlinang air mata. (sh.com/d)