Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
RENUNGAN

Bapa Yang Murah Hati

* Luk 15:1-3.11-32 Fr. Damianus F. Tilman, OFMCap
- Minggu, 06 Maret 2016 16:31 WIB
1.006 view
Bapa Yang Murah Hati
Di sebuah mall, seorang anak kecil melepaskan diri dari pegangan ibunya. Si anak begitu asyik melihat bermacam-macam permainan yang menarik hatinya. Ada boneka yang lucu. Ada kendaraan yang digerakkan secara digital, ada permainan cahaya yang berkilauan, ada air mancur yang menari. Dia terbawa hanyut oleh apa yang dilihatnya, dan melepaskan tangannya dari pegangan ibunya karena terpesona oleh barang-barang di hadapannya dan mau lebih dekat dengan barang-barang yang dikaguminya. Ibunya membiarkannya tetapi mengamati dan mengikutinya dengan cermat. Tetapi tiba-tiba saja dia menangis karena menyadari bahwa sudah sendirian dan tanpa keberadaan ibu. Ibunya mengulurkan tangan dan mendekap sang anak penuh kasih.

Injil hari ini ada hal yang menarik dari perumpamaan yang dipakai Yesus untuk menjawab, mengajar bahkan untuk mengingatkan kita. Perumpamaan kali ini Yesus pakai untuk menjawab pertanyaan atau bahkan cemoohan dari ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Perumpamaan yang menarik ini sampai pada hari ini saya yakini bahkan ribuan tahun yang akan datang tetap menjadi inspirasi bagi iman kita.

Injil hari ini menyimpang banyak pengalaman yang terselubung diungkapkan bagi mereka yang mencari kehendak Tuhan. Satu hal yang menarik cerita tentang anak sulung dan anak bungsu tentu tentang Bapak yang bijaksana. Suatu pertanyaan bagi saya mengapa, ada tiga ayat pertama disertakan dalam bacaan Injil yaitu ayat tentang orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersunggut-sunggut karena Yesus menerima pemungut cukai dan orang berdosa. 

Rupanya orang Farisi dan ahli Taurat itulah yang diumpamakan sebagai si sulung. Si sulung yang menggangap dirinya benar. Dan adiknya bersalah. Ia mudah salahkan orang lain bahkan bapaknya dipersalahkan. Dia lupa bersyukur bahwa kedekatannya dengan bapaknya selama ini bahkan harta bapaknya dinikmati sekian lama membuat dia tidak bersyukur karena hatinya tidak dengan suka rela bersama bapaknya. Ada sikap iri hati, dengki. Dengan sifat itu sulitlah menerima situasi yang terjadi bahkan tidak bersukacita bersama adiknya yang kembali setelah pergi jauh. Bagaimana dengan si bungsu, ia memisahkan dirinya dari kasih dan kuasa Allah. Pergi Jauh dari bapaknya. Hidup dari dosa dan jadi budak dosa, menikmati dirinya dengan hal-hal duniawi yang sementara. Akhirnya dalam kesendirian dan tidak punya apa-apa, saat itulah ia menyadari keadaannya dengan rendah hati ia mengakui tidak layak menjadi anak bapaknya. Ia berdosa kepada surga dan bapaknya. Ia harus kembali kepada bapaknya bahkan menjadi budakpun ia mau. Bapaknya menerima dan merangkulnya dengan penuh kasih dan bijaksana. Kebijaksanaan bapa mengandung belaskasihan. Kebijaksanaan itu penuh pengampunan dan penerimaan. Penerimaan itu disambut dengan sukacita.

Saudara-saudari seiman, kemilauan, daya tarik dan kenikmatan dunia ini memang menawan. Maka prestise yang mengarah pada kompetisi sangat lazim. Uang dan milik dikejar sampai ke ujung dunia. Sampai kesehatan mental dan spiritual pun sering dilalaikan. Terlepas dari diri dan Tuhan adalah gejala di mana-mana. Dunia memang nikmat, tetapi tidak penuh. Allah seperti seorang ibu membiarkan. Barulah sesudah kita sampai pada kesadaran atas keterbatasan dari keelokan dunia, kita sadar bahwa kasih Allah seperti kasih seorang terhadap anaknya membuat orang tersentak, seperti pada perumpamaan anak yang hilang yang kita dengan Injil hari ini.

Mari kita merenungkan hidup keberimanan kita saat demi saat. Seperti ungkapan, hidup yang tidak disadari adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani. Kunci pertobatan adalah kesadaran. Banyak peristiwa yang menimpa kita, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan berlalu begitu saja, dan tidak membawa pengaruh apa-apa pada hidup kita. Tetapi, bila kita menyadari apa yang sedang terjadi, peristiwa itu menjadi tempat perwahyuan Allah dan inilah yang membarui hidup kita.

Pertobatan anak bungsu dalam Injil hari ini bersumber pada kesadaran. Dia menyadari apa yang sedang menimpa dirinya, siapa dia dan siapa bapanya. Kesadaran diri dan kerendahan hati itulah yang menggerakkan hati Bapa. Maka yang lari bukan si anak bungsu, tetapi Bapa yang baik hati. Dia lari menyambutnya karena Dia melihat hati dan kebutuhan anak-Nya. Dia tidak minta apa-apa bahkan janji penyesalan pun tidak. Sebaliknya, Dia malah memberi baju baru, sepatu baru, cincin dan mengadakan pesta untuknya. Bangga bahwa kita memiliki Allah Bapa yang murah hati dan berbelaskasih. (d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru