Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Renungan

Dosa Kesombongan Religius (Yoh 8:1-11)

* Fr. Damianus F. Tilman, OFMCap
- Minggu, 13 Maret 2016 16:32 WIB
2.427 view
Dosa Kesombongan Religius (Yoh 8:1-11)
Menghakimi adalah tindakan yang gampang dilakukan oleh orang terhadap sesamanya. Rasanya nikmat dan enak menghakimi orang lain baik melalui perkataan pun lewat perbuatan. Hal ini mencerminkan bahwa cinta kasih sudah mulai pudar dan persaudaraan sudah mulai terkikis dalam kehidupan kita. Injil ini mengisahkan bagaimana orang-orang Farisi mencobai Yesus dengan membawa perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka ingin tahu tindakan apa yang akan diambil Yesus terhadap perempuan berdosa itu. Sebenarnya terselip maksud tersembunyi dari orang Farisi untuk menjebak Yesus. Namun Yesus lebih bijak dan pintar dari orang Farisi itu. Dia mengatakan "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Semua diam, terkejut, terpaku dan seorang pun tidak berani melempar batu kepada perempuan itu karena semua merasa diri berdosa.

Saudara seiman, Kaum Farisi merasa diri paling benar dan tidak pernah merasa diri berdosa, merasa dirinya saleh, sudah hidup baik dan benar di hadapan Tuhan sehingga mudah menghakimi orang lain. Mereka sulit untuk dapat mentoleransi situasi hidup orang-orang yang salah jalan dan tidak taat pada hukum agama. Hati mereka menjadi keji dan jahat terhadap sesama yang dianggap berdosa di hadapan Allah. Inilah yang disebut dosa kesombongan religius. Di antara semua dosa yang ada, dosa yang satu ini justru yang paling berbahaya, sebab yang bersangkutan malah mengira kesalahan yang dilakukannya itu justru suatu tindakan mulia, atau bisa juga dia merasa orang yang paling benar, tidak pernah salah tetapi memiliki kecenderungan menghakimi orang lain. Setiap manusia, betapapun baik kehidupan yang sudah dijalaninya, ia tetap membutuhkan rahmat Tuhan dan pengampunan. Oleh karena itu, meskipun kita berusaha menjadi orang baik di hadapan Tuhan, namun kita juga harus memiliki jiwa seorang pendosa yang selalu merendahkan diri, merasa tidak pantas, sehingga juga tidak mudah menghakimi orang lain. Dengan memiliki jiwa seorang pendosa, kita dapat terhindar dari apa yang disebut dosa karena kesombongan religius ini.

Menghukum orang yang kedapatan bersalah seperti perempuan yang berzinah dan dibawa kepada Yesus, adalah suatu perbuatan yang tidak mengenakkan hati. Karena kita berlaku sebagai hakim atas orang yang bersalah. Lalu apa hak kita menghukum orang yang bersalah? Tidak gampang karena kita mengambil alih tugas dan kewenangan Tuhan sebagai hakim dalam menghukum orang. Suatu tindakan yang salah kalau kita main hakim sendiri atas orang yang bersalah, bahkan ada yang bertindak brutal terhadap orang yang bersalah. Mengapa? Karena kita bukanlah Tuhan yang memiliki hak menghakimi. Yesus saja tidak serta merta memberikan atau melakukan hukuman kepada perempuan yang dihadapkan kepadanya karena kedapatan berzinah. Yesus menerima keadaan perempuan yang berdosa itu dan mulai memberikan penyadaran. Perempuan itu akhirnya sadar akan dosanya dan memohon pengampunan dari Yesus, dan Tuhan Yesuspun mengampuni. "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yesus menunjukkan hormat besar terhadap orang berdosa dan menolak untuk menghukum perempuan itu, sebagaimana lazim dilakukan oleh manusia, apakah itu karena Yesus menganggap perbuatan perempuan itu bukan dosa yang berat? tidak, Yesus mengampuninya, karena Allah menggunakan cara-cara yang berbeda dengan cara manusia untuk mempertobatkan orang-orang berdosa dan untuk memurnikan mereka lewat penderitaan. Dapat dibayangkan betapa menyesalnya perempuan itu atas perbuatannya, karena dia diselamatkan dari hukuman rajam, dan malahan dosanya diampuni karena belas kasih Yesus, tentunya perempuan itu merasa lega luar biasa.

Yesus tidak mengajarkan kita untuk menghakimi sesama. Kalau Yesus mengampuni orang berdosa, itu berarti kita juga sanggup mengampuni sesama kita yang berdosa. Pengampunan adalah jalan untuk mengarahkan diri kepada Tuhan. Sadar akan keberdosaan kita, marilah kita saling mengasihi satu dengan yang lain. Itulah ajaran Yesus bagi kita untuk tetap saling mengasihi. Cinta dan kasih Tuhan Yesus tidak diukur dan bahkan ditukar oleh apapun juga. Cinta dan kasih-Nya begitu besar, tinggi dan dalam, karena besar cinta-Nya sehingga Kristus menjadi kurban penghapus dosa kita. Salib, itulah tanda cinta-Nya. Maka Yesus mengajari kita untuk saling mengampuni dan saling mengasihi. Karena kunci sejati kepada kemenangan dalam kehidupan Kristiani adalah cinta yang mau mengampuni, meskipun kepada musuhnya sendiri. "Tetapi Aku berkata kepadamu:Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.(Mat 5:44." Semoga ajaran Yesus ini kita tampilkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bangga bahwa kita mempunyai Tuhan Yesus yang selalu mengampuni dosa kita. (c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru