Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Pembinaan Majelis GMI Distrik 2 Wilayah 1

Jadilah Majelis yang Menghasilkan Buah Positif

- Minggu, 13 Maret 2016 16:47 WIB
949 view
Medan (SIB)- Gereja Methodist Indonesia sejak tahun 2013 telah menetapkan visi yakni Gereja bertumbuh memberkati semua ciptaan. Namun pada saat ini Gereja sulit bertumbuh karena adanya beberapa orang yang berusaha "mengotori" Gereja  dengan memberikan buah-buah yang negatif.

"Suatu Gereja baru bisa dikatakan bertumbuh jika semua unsur-unsur di dalam Gereja melakukan evaluasi. Majelis dan pimpinan jemaat harus mengevaluasi  bentuk pelayanannya dan membangun pola pikir yang positif agar menghasilkan buah-buah positif juga," ujar Bishop GMI Darwis Manurung STh MPsi dalam arahan dan bimbingannya pada pembinaan Majelis GMI Distrik 2 Wilayah di PKMI 1 Medan, Sabtu (27/2).

Pembinaan yang diikuti utusan dari 43 Gereja Methodist diawali ibadah dan khotbah yang dibawakan pimpinan distrik 2 GMI Wilayah 1 DS Pdt Alpin Purba STh MM dan menampilkan dua orang narasumber yakni Pdt Dr Sahat Lumbantobing MTh dari STT GMI Bandar Baru dan Pdt Bahagia Tarigan MTh.

Lebih lanjut Bishop Darwis Manurung menerangkan bahwa bertumbuh juga menuntut agar kita memberkati semua ciptaan Tuhan dan mengalirkan berkat yang diperoleh dari Tuhan. Akan tetapi manusia pada zaman ini menggunakan tiga jenis kacamata yakni kacamata kuda, kacamata hitam dan kacamata tukang jam.
"Orang yang menggunakan ketiga kacamata ini merupakan orang yang selalu membicarakan atau mencari kesalahan orang lain untuk menutupi dosa-dosanya," jelasnya.

Pdt Alpin Purba mengatakan Yesus Kristus memerintahkan murid-muridNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. "Perintah ini juga berlaku bagi kita baik sebagai majelis maupun pendeta untuk mencari mereka yang belum mengenal Yesus dan juga mereka yang sudah  mengenal Yesus tapi keluar dari persekutuan," jelasnya.

"Tapi di dalam proses pencarian ini, kita tidak boleh menggunakan unsur-unsur kekerasan," katanya seraya  mengharapkan pembinaan ini bisa membantu para majelis dalam menjalankan tugas-tugas pelayanannya sehingga Gereja bisa bertumbuh.

Pdt Sahat Lumbantobing  MTh dalam ceramahnya berjudul "Panggilan dan Tugas Majelis di GMI" menjelaskan panggilan menjadi seorang majelis harus lahir dari sebuah hubungan yang absolut seseorang dengan Allah sehingga mendorong seseorang untuk mau melayani. "Seseorang yang dipanggil menjadi majelis, maka ada tugas yang diemban berdasarkan kesukarelaan. Bukan dalam arti kalau suka dikerjakan, kalau tidak suka tidak dikerjakan," jelasnya.

Dikatakannya seorang majelis harus menyediakan waktu dan talenta serta sepenuhnya  mendukung program-program Gereja. John Wesley menjelaskan bahwa melayani secara sukarela berarti mengutamakan pelayanan gereja tanpa pamrih, tanpa meminta bayaran apalagi mementingkan kepentingan pribadi. "Jika kita mengklaim diri sebagai seorang majelis tanpa didasarkan kepada keinginan melayani secara sukarela, maka dapat dipastikan kita sedang mempermainkan makna panggilan Allah," jelasnya.

"Karena  itu  hentikan konflik-konflik internal yang bisa mengganggu pelayanan kita. Gereja tugasnya bukan untuk dirinya sendiri namun menyatakan bahwa Allah sangat mencintai kehidupan manusia," imbaunya.

Sementara Pdt Bahagia Tarigan mengatakan di dalam memberikan pelayanan, konseling pastoral juga merupakan hal yang penting. Konseling pastoral berfungsi untuk menyembuhkan, membantu/menopang, membimbing, mendamaikan dan memelihara. Konseling pastoral juga bisa berfungsi agar seseorang mengakui dosa-dosanya di hadapan Tuhan sehingga mendapat pengampunan dan memulai kehidupan yang baru.

Seorang konselor harus bisa menjadi pendengar yang baik, mampu menjaga rahasia, memiliki kemampuan menerima, memiliki empati dan terutama mempunyai kerohanian yang baik. "Di dalam memberikan pelayanan konseling, seorang konselor harus bisa menciptakan suasana yang kondusif, fokus pada pembicaraan dan mencari akar permasalahan," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya pelayanan konseling dilakukan tanpa paksaan sehingga konsele (orang yang diberikan konseling) akan lebih leluasa mengungkapkan permasalahannya. "Bangunlah kepercayaan antara konsele dan konselor serta jangan memberikan nasihat," jelasnya. (R16/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru