Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Pembekalan Parhalado HKBP

Pdt Dr Deonal Sinaga: Pelayan Harus Terampil Ciptakan Perjumpaan Kreatif

- Minggu, 13 Maret 2016 16:50 WIB
1.495 view
Pdt Dr Deonal Sinaga: Pelayan Harus Terampil Ciptakan Perjumpaan Kreatif
SIB/Arjuna Bakkara
Pdt Dr Deonal Sinaga di hadapan puluhan parhalado, saat menjadi narasumber dalam seminar pembekalan parhalado HKBP yang digelar di HKBP Resort Medan Kota di Jl Uskup Agung Medan, Rabu (9/3).
Medan (SIB)- Parhalado (pelayan gereja) dan jemaat perlu sekali memahami dan mampu menerapkan perjumpaan kreatif. Karena hal itu menjadi kunci menuju masa depan. Setiap perjumpaan kita dengan orang lain memengaruhi masa depan kita.

Demikian disampaikan Pendeta Dr. Deonal Sinaga, di hadapan puluhan parhalado, saat menjadi narasumber dalam seminar Pembekalan Parhalado HKBP Se-Resort Medan Kota di Jalan Uskup Agung Medan, Rabu (9/3).

Lebih jauh pendeta resort HKBP Cinta Damai Medan Sunggal itu mengatakan, kita berjumpa setiap hari, baik dengan keluarga, kolega, sahabat dan banyak orang lain dan perjumpaan itu memengaruhi hidup kita. Ketika perjumpaan itu saling membangun, saling menolong, saling menginspirasi tentunya ini menjadi modal kita bagi masa depan.

Karena itu, kemampuan untuk menciptakan pertemuan kreatif perlu dimiliki parhalado. "Apalagi, parhalado ini yang terjun langsung dengan masyarakat, Jika mereka tidak terlatih menerapkan perjumpaan kreatif, mereka sulit untuk melayani, menyampaikan kabar baik bagi masyarakat dan tentunya mereka sulit diterima masyarakat," terangnya.

Kualifikasi untuk menciptakan perjumpaan kreatif, menurut pendeta yang pernah berkiprah di Afrika itu, ada lima, pertama, visioner (punya pandangan yang jauh ke masa depan, menerobos batas-batas umum). Kedua, kualitas keterbukaan. Seorang pelayan dan pemimpin harus terbuka akan banyak informasi bagi jemaat dan siap menerima masukan dan kritik dari orang lain. Seorang pelayan tidak boleh merasa eksklusif. Parhalado bukanlah mahluk yang serba kudus dan khusus yang tidak bisa disentuh jemaat.

Kualitas lainnya, harus ramah. Orang yang bertemu dengan parhalado mesti merasa senang dan terberkati. Selanjutnya, punya rasa ingin tahu. Parhalado perlu sekali proaktif mencari tahu kondisi jemaatnya, sebab dengan begitulah is disebut sebagai pelayan.

Lebih jauh, Deonal mengatakan, kualitas parhalado itu tak lepas dari teladan pimpinannya. Pada umumnya, parhalado mengikuti atau meneladani sikap dan pola pikir pelayan penuh waktu di tempatnya melayani, dan biasanya itu pendeta atau pendeta resort. Jadi hidup keseharian dan pola pikir pendeta masih menjadi cerminan bagi para parhalado. Karena itu, pendeta juga harus terbuka dengan segala penilaian parhalado dan jemaat. Dalam zaman yang serba terbuka ini, pendeta harus tampil percaya diri dan transparan.

Menurut pendeta lulusan sekolah dari Hongkong itu, pembinaan kepada parhalado perlu sekali dilakukan secara kontiniu. Pembinaan ini bisa dilakukan secara kreatif dan inovatif. Minimal sekali setahun, karena hal itu sangat bermanfaat untuk memperlengkapi parhalado sebagai pelayan di tengah-tengah jemaat. Pembinaan bisa dengan banyak metode kreatif. Dengan begitu, mutu pelayanan gereja juga akan lebih terjamin.

Sementara peserta seminar lainnya yang juga merupakan calon Parhalado R Siburian mengatakan, melalui seminar perjumpaan kreatif itu, hendaknya seluruh Parhalado dapat mengemban tugas dan fungsi pokoknya masing-masing sebagai pelayan Gerejawi. Diyakininya, melalui perjumpaan yang terus menerus dilakukan, akan tercipta komunikasi yang baik antar sesama jemaat Gereja.

Baginya, seorang parhalado juga arus siap dan terbuka untuk melayani siapa saja. Tidak ada pengklasifikasian kelas sosial di tubuh gereja. Diharapkannya, ke depan Parhalado sebagai pelayan gereja agar lebih baik. (A22/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru