Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Keadilanku, Tuhan.!

* Pdt. Sunggul Pasaribu,MPAK
- Minggu, 24 April 2016 19:58 WIB
309 view
Keadilanku, Tuhan.!
Seorang pengemis menemukan sebuah dompet kulit yang jatuh di pusat keramaian. Ketika membukanya, ia menemukan dompet tersebut berisi seratus keping emas. Lalu ia mendengar seruan,: "Ada hadiah ! Hadiah bagi orang yang menemukan dompet kulit saya!".

Sebagai orang jujur, sang pengemis tampil dan menyerahkan dompetnya kepada sang pedagang sambil mengatakan, "ini dompet, tuan. Apa boleh saya mendapatkan hadiah sekarang?"

"Hadiah?" demikian sang pedagang mengejek, dengan tamak menghitung emasnya. "Sebelumnya, dompet saya berisi dua ratus keping emas. Engkau telah mencuri lebih banyak daripada hadiahnya! Pergilah. Kalau tidak, saya akan melaporkannya kepada polisi."

"Saya orang jujur." Jawab sang pengemis membela diri. "Mari kita mengajukan perkaranya ke pengadilan."

Di pengadilan sang hakim dengan sabar mendengarkan kedua sisi ceritanya lalu mengatakan, "Saya percaya kepada engkau berdua. Keadilan tetap dimungkinkan! Tuan pedagang, Anda menyatakan bahwa dompet Anda sebelumnya berisi dua ratus keping emas. Sayang sekali. Akan tetapi, dompet yang ditemukan pengemis ini hanya memuat seratus keping emas. Oleh karena itu, dompet ini tidak mungkin dompet Anda yang hilang itu.

Demikian sang hakim memberikan dompet dengan seluruhnya kepada sang pengemis. Padahal si pengemis tadi pun bukanlah pemilik dompet tersebut, namun berkat pertimbangan kedilan hukum maka ia menjadi orang yang beruntung. Bukankah seorang pengemis tidak mungkin memiliki emas yang berkeping-keping, namun karena kejujurannya mengakui maka keadilan hukum memihak dirinya. Sementara, si pedagang yang justru memiliki sekian ratus keping emas, namun karena ketamakannya maka ia kehilangan rejeki.

Di dunia ini sering kita mendengar, keadilan bisa dibengkokkan menurut keinginan jika kita memiliki kuasa - sebaliknya, keadilan seringkali menjadi komoditas bisnis bagi mereka yang berniat memperdagangkan hukum. Perkara orang salah menjadi benar karena kuasa, uang, jabatan, dan nepotisme. Perkara orang kuat, pejabat, dan konglomerat tidak bisa dihukum karena keadilan sudah dibeli. Dengan kata lain, hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul kepada pejabat, orang kuat, dan konglomerat.

Begitupun, jangan pernah berputus asa jika sedang mengalami jalan buntu. Jangan pernah merasa kecil hati ketika kita terpojok dan dipojokkan oleh mereka yang memusuhi kita. Jangan pernah berfikir sempit dan final di saat kita tidak mendapat sapaan yang menghibur dari mereka yang berhikmah.

Menurut pengalaman peMazmur, di saat musuh-musuhnya mengancam, mengincar nyawanya, sedang mengolok-oloknya, hingga jiwanya tertekan bathin. Bagaimanakah ia menghadapi mereka?   Pemazmur ingin menekankan bagi kita, seberat apapun masalah tetaplah hanya Allah satu-satunya penolong atas masalah yang dihadapinya. Hanya bersama Tuhan ada sukacita dan kegembiraan (Mazmur 43:4), betapapun pergumulan yang besar dihadapinya tidak akan merenggut sukacita dan kegembiraannya.

Sebab pemazmur yakin tidak ada yang dapat mengusik sukacitanya sebab Tuhanlah yang akan tampil dalam perkaranya. Maka dengan keyakinan yang teguh pemazmur mampu menyatakan "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Sepertinya kalimat ini adalah wujud kesedihan dan pergumulan hidup, tetapi ini adalah ungkapan keyakinan akan pertolongan Tuhan yang membangkitkan semangat mengadapi kesulitan bersama Tuhan. Percayalah, Tuhan yang mengendalikan segala sesuatu pasti akan mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Allah (Roma 8: 28).

Tuhanlah kekuatan kita, yang memberi kekuatan di atas kelemahan kita. Tanah, warisan tidak akan membuat jiwa kita bergembira, sebaliknya penderitaan sering membuat kita tertekan karena hak kita dirampas. Kalau Tuhan kekuatan kita, kitapun akan dikuatkan. Itu berarti kita akan keluar dari ketertekanan jiwa hanya karena ketidakbenaran yang dikatakan orang pada kita. Apakah orang mengatakan kita curang, sombong, sok suci, sok pintar atau sok lainnya, kita tidak akan tertekan dengan olok-olok itu karena kita percaya bahwa Tuhanlah keadilan, yang membela perkara kita terhadap pencemoh, curang, penjahat.
Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, jangan putus asa, serahkan semuanya kepada Tuhan.  Jangan buang waktu dan tenaga pada hal-hal yang membuat kita putus asa dan lemah.  Mari kita lebih lagi dekat kepada Tuhan, sebab Dia adil membela orang beriman. Percayalah. Amin.! (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru