Simon, apakah engkau melihat perempuan itu?
Simon. Itulah namanya. Ia seorang farisi yang agak moderat. Ia terbuka akan suatu pandangan religius baru. Hal itu, misalnya, nyata dari niat baiknya mengundang Yesus ke rumahnya. Ia menyadari sikap Yesus yang sering tak kenal kompromi, tak dapat diprediksi. Sebenarnya hal semacam itu cukup riskan untuk agama mereka. Yesus begitu menggugat status quo dan formalisme agama Yahudi. Dengan Yesus, apa pun mungkin saja terjadi.
Awalnya, perjamuan berjalan sesuai dengan tradisi yang terpelihara rapi. Tiba-tiba suasana berubah menjadi kepanikan. Seorang perempuan, yang dikenal di seluruh kota sebagai penjaja diri, nyelonong masuk ruang perjamuan dan berhenti persis di belakang tamu utama. Kehadiran yang sangat tak diharapkan itu menjijikkan mata. Perempuan itu menangis, membasahi kaki Yesus dengan air matanya, lalu menyekanya dengan rambutnya. Ia mencium kaki Yesus dan menuangkan beberapa tetes minyak dari botol parfum. Sebuah adegan yang tak layak dipamerkan di hadapan para petinggi agama dan penjaga gawang moralitas. Mereka risih dengan sikap dan rayuan tanpa seni itu. Yesus saja sama sekali tidak gelisah. Ia tidak merasa malu atas hal yang tidak sopan, tidak juga jengkel atas hal yang tak pada tempatnya. Mereka mempertanyakan kualitas kenabian Yesus, yang semestinya tahu wanita jenis apa yang sedang menjamah-Nya: perempuan pendosa tulen.
Yesus seakan membaca kegundahan dan kegelisahan hati mereka. Ia berpaling pada tuan rumah katanya, "Simon ada yang hendak Kukatakan kepadamu." "Bicaralah, Guru!", sahut Simon. Yesus seakan mengajak Simon berdiskusi mengenai hal yang abstrak sementara malapetaka nyata sedang terjadi di depan hidung dan menghancurkan perjamuan malam.
Lalu Yesus berbalik ke arah perempuan itu dan tiba-tiba bertanya pada Simon, "Apakah engkau melihat perempuan ini?" Sebuah pertanyaan retoris. Bukankah dari tadi Simon memperhatikan pemandangan yang tak pantas itu? Simon belum harus disokong oleh kacamata minus supaya dapat melihat. Yesus mengajak Simon dan tamu lainnya untuk melihat perempuan itu dengan kacamata lain, mencermati kedalaman hati tamu tak diundang itu, yang terungkap lewat tindakannya yang polos. Perempuan itu memperlihatkan cinta yang sedemikian besar, karena ia sudah diampuni. Orang yang diampuni sedikit, akan memperlihatkan sedikit cinta. Yesus lalu menatap perempuan itu katanya, "Dosamu sudah diampuni. Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!". Pembebasan dari vonis yang menjerat perempuan itu, menggelisahkan orang farisi.
Reaksi Yesus sendiri. Nah, ini perlu kita renungkan dalam-dalam. Dugaan Simon ternyata meleset. Ternyata Yesus sungguh-sungguh Maha Tahu. Ternyata Tuhan Yesus menunjukkan kepekaan seorang nabi; Ia tahu apa yang ada di benak Simon dan hal ini sangat mengejutkan Simon. Ironisnya, Tuhan Yesus tidak menanggapi pertanyaan tersebut, Ia malah memberikan contoh ilustrasi tentang dua orang yang berhutang dan kedua-duanya dibebaskan dari hutang. Menarik sekali, Simon sebenarnya tahu jawabannya tapi ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut; ia enggan menjawab namun ia tahu pertanyaan itu harus dijawab.
Yesus langsung memberikan tiga perbandingan, (1) Perempuan itu membasuh kaki Yesus dengan air mata sedang Simon tidak, (2) Perempuan itu menciumi kaki Yesus dengan tiada henti-hentinya sedang Simon tidak, (3) Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi sedang Simon tidak meminyaki kepala Yesus bahkan dengan minyak biasa. Yesus memberikan cara pandang yang seharusnya orang lakukan, bila mengaku bertobat, bila sungguh-sungguh sebagai orang beragama atau orang terhormat. Terhormat dalam pandangan Allah Yang Maha tahu, tentu saja!
Simon, seorang farisi, terkatung-katung di antara tradisionalisme dan keterbukaan horizon, memperluas wawasan, membuka jendela mata lebih lebar, dengan resiko mendatangkan nista dan kehinaan di dalam rumahnya sendiri. Yesus menantang Simon untuk melihat pribadi perempuan itu daripada dosanya, untuk memahami perhatiannya, tidak sebagai pamer rayuan seorang pelacur murahan, melainkan sebagai kelembutan dan ungkapan tulus dari seorang perempuan yang menyesal dan diampuni. Tetapi Simon adalah anak pendidikan agamanya. Ia mewarisi kewaspadaan jika berhadapan dengan yang namanya perubahan, dan mempercayai bahwa kita lebih membutuhkan bukti pertobatan daripada ledakan emosional yang berkepanjangan dan cenderung cengeng. Air mata perempuan itu memang banyak, tapi tidak menjadi kolam yang cukup dalam untuk menenggelamkan dan membersihkan noda hidupnya.
Setiap orang adalah anak zamannya. Simon terdidik dalam atmosfir kebijaksanaan sebagaimana dikatakan Salomo. Norma harus tertata apik, pengadilan harus digelar, pelanggaran mesti ditindak dan diusut. Kita tidak boleh mengundurkan penilaian kritis kita demi cinta yang tak jelas bentuknya, yang tak dapat dibedakan dari ketumpulan moral. Ketakutan akan keyakinan atas hukumlah, bukan cinta, yang mempertahankan kita semua pada jalur kebenaran. Kebijaksanaan hukumlah, bukan cinta, yang mendidik kita dalam memandang orang dan berbuat terhadap mereka.
Tetapi Yesus adalah sosok pribadi merdeka, petualang keliling yang menggugat adat-istiadat, legalisme, tradisi dan norma umum dalam masyarakat yang kerap lebih membelenggu daripada memerdekakan. Yesus mengobrak-abrik kemapanan hidup yang dianggap-Nya mandek. Ia seorang nomade, yang mengajak orang sedenter, mapan dan kaku untuk berani bertualang dalam sikap kritis dan benar terhadap norma yang daluarsa yang kerap berpretensi layak memvonis perkara yang berada di luar jangkauannya.
Manusia adalah mahluk bertanya. Ia serentak subjek yang bertanya dan sekaligus objek yang dipertanyakan. Pertanyaan dan refleksi kritis akan membuka horizon baru yang pada saatnya menjadi objek pertanyaan baru pula. Pertanyaan mengarahkan kita ke mana? Begitu banyak pertanyaan hanya membawa ke pertanyaan berikutnya. "Simon, siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi pelepas uang itu?" Pertanyaan ini tak sulit dijawab Simon. Tetapi pertanyaan kedua, "Simon, engkau lihat perempuan ini?" Bukan pertanyaan kategori eksakta. Pertanyaan yang mengarah pada inti kehidupan dan horizon akhir petualangan. Pada horizon itu setiap pertanyaan menemukan peraduan, karena menemukan kebenaran yang dia cari. Titik omega, yakni Allah sang kebenaran yang adalah Cinta. Engkau melihat cinta dalam diri perempuan ini? Cintanya melahirkan pengampunan dan pengampunan menumbuhkan cinta yang lebih besar. Iman yang menyelamatkan nyata dalam cinta. Simon pun bertanya pada dirinya sendiri, "Simon, apakah engkau melihat sesuatu?"
Lukas digelari penginjil bagi kaum miskin, tetapi juga bagi kaum perempuan. Melebihi penginjil lain, ia menempatkan peranan kaum perempuan di sekitar Yesus. Perempuan sering menjadi simbol kaum lemah, tertindas dan dipinggirkan dari percaturan kehidupan. Yesus mengajak untuk melihat dalam diri mereka, yang disimbolkan oleh kaum lemah ini, kedalaman dan ketulusan cinta dan iman. Mungkin kita sudah menjadi sekelompok farisi anonim, yang mandek, tak inovatif dan mandul. Barangkali, kaum lemah itu mesti hadir di depan mata kita, di rumah kita ini, supaya kita dapat melihat, walau itu berarti awalnya mungkin merupakan tontonan yang menjijikkan. "Apa yang dulunya pahit bagiku, berubah menjadi kemanisan jiwa dan badan," kata St Fransiskus. Pertemuan dengan yang pahit dan menjijikkan menghasilkan kemanisan. Manis jangan lantas ditelan, pahit jangan terus dibuang. "Simon, apakah engkau melihat perempuan ini?" Semoga.
(r)