Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
RENUNGAN

Siapakah Aku (Luk 9:18-24)

* Oleh: Fr. Damianus F. Tilman, OFMCap
- Minggu, 26 Juni 2016 16:37 WIB
1.125 view
Siapakah Aku (Luk 9:18-24)
Beberapa tahun silam, ada satu acara TV yang menarik buat saya. Program itu diberi judul kuis "Siapa dia". Pada acara itu terdapat tiga monitor. Pada monitor pertama, gambar yang diperlihatkan hanya sebagian dari wajah (mata, hidung, mulut, telinga) dari seseorang. Pada monitor kedua gambar sudah makin jelas.
Pada monitor ketiga dinampakkan seluruh wajah. Setelah menebak sebuah lagu, peserta disuguhi gambar pada monitor pertama. Dalam waktu 30 detik, peserta harus menebak siapa pemilik wajah di monitor itu. Terkadang cukup hanya satu babak, peserta sudah dapat menebak siapa orangnya. Tentulah si pemilik wajah pada monitor itu bukan orang kebanyakan, tetapi sekelas bintang film, pejabat, orang publik. Seorang peserta dapat menebak, kendati hanya sebagian wajah yang ditampilkan, karena sudah pernah melihat orangnya, walau barangkali lewat mass media.

Setelah beberapa waktu tampil di hadapan publik, Yesus menjadi figur yang bintang-Nya cepat melejit. Pengajaran-Nya, perkataan-Nya, tanda-tanda heran yang Dia lakukan serta merta menambah pamornya. Banyak orang mengikuti-Nya, mengagumi perkataan dan mukjizat yang Dia kerjakan. Dari jumlah orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti-Nya dari saat ke saat, nampak bahwa misi dan pewartaan Yesus mendapat sukses besar. Yesus menjadi figur publik. Ia berhasil merebut tempat di hati banyak orang.

Tetapi Yesus tidak berhenti di situ saja. Misi-Nya bukan mau menjadi figur publik dengan ribuan orang yang menjadi pengagum-Nya. Bukan gerakan sejuta massa yang Dia kehendaki. Setelah berkarya sekian lama di depan publik, Yesus ingin menjaring opini publik. Apakah orang banyak itu mengerti misi yang diemban Yesus. Pertama-tama Yesus mau menjaring pemahaman, opini dan pendapat orang banyak tentang diri-Nya. Tercermin dengan jelas kebingungan yang dihadapi masyarakat Yahudi sehubungan dengan identitas Yesus. Ketika Yesus bersama dengan murid-murid-Nya, Yesus bertanya, "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Lewat para murid diketahui opini publik yang amat mengagumkan. Yesus bukanlah sembarang manusia. Yesus disejajarkan dengan tokoh besar PL: para nabi, Elia atau Yohanes Pembaptis. Ketiga pendapat yang beredar dalam masyarakat tentang Yesus mudah dipahami, walaupun tidak bisa dibenarkan. Yesus memang tampil sebagai seorang nabi, juru bicara Allah (Luk 4). Seperti Elia dulu, Yesus pun memperjuangkan hidup keagamaan yang bebas dari kemunafikan dan tidak legalistis. Sama seperti Yohanes Pembaptis, Yesus pun memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan.

Lebih lanjut, Yesus ingin tahu pemahaman para murid-Nya, orang pilihan-Nya, yang makan dan minum bersama Dia, siang malam bersama Yesus. "Menurut kamu, siapakah Aku ini?". Jawaban yang paling tepat diberikan oleh Petrus. "(Engkau) Mesias dari Allah". Menurut penginjil Mateus, Allah sendiri yang menyatakan pengakuan iman itu melalui mulut Petrus. Namun apa reaksi Yesus atas pendapat itu? Ia melarang dengan keras memberitahukan hal itu kepada siapa pun.
Mengapa? Antara lain, karena salah paham tentang identitas Yesus sebagai Mesias dengan sendirinya sangat mempengaruhi paham mengenai identitas pengikut Yesus. Sebab orang Israel sudah bertahun-tahun lamanya hidup dalam penantian yang akan kedatangan Mesias, Penyelamat; Mesias yang penuh kuasa, yang membebaskan bangsa Israel, yang memulihkan kerajaan Daud.

Kalau Yesus adalah Mesias dari Allah, pengikut-Nya juga harus berusaha sungguh-sungguh tampil sebagai 'orang yang diurapi oleh Allah'. Pertanyaan selanjutnya ialah siapakah pengikut Yesus? Sebagai manusia, mereka memang tak mungkin ilahi seperti Yesus. Tetapi dalam diri mereka harus bisa ditangkap sesuatu yang ada pada Yesus-Mesias. Ke mana saja mereka pergi, mereka seharusnya menyinarkan Allah, membawa manusia kepada Allah dan menciptakan atmosfer surgawi.
Mungkinkah itu terjadi? Ya, kalau para pengikut Yesus berani menempuh jalan hidup Yesus-Mesias. Jalan mana? Biarpun beridentitas Mesias, Yesus tidak pernah bicara tentang diri-Nya sebagai Mesias. Ia mengecilkan diri-Nya dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Manusia. Sebagai manusia, Ia tidak melarikan diri dari derita yang menimpa setiap orang yang berusaha hidup menurut kehendak Allah. Ia siap ditolak oleh pemimpin agama, bahkan dibunuh sekalipun. Para pengikut-Nya seharusnya bersemangat sama dengan-Nya. Mesias seperti inilah yang dihadirkan dalam diri Yesus, bukan seperti diharapkan oleh orang-orang Israel.

Selanjutnya Yesus merumuskan identitas pengikut-Nya dalam tiga ungkapan: menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikuti Yesus. Menyangkal diri bukanlah perkara sederhana, tetapi usaha yang menyakitkan. Manusia paling sulit melepaskan diri dari apa yang dipikirkan, dibicarakan dan dilakukan oleh orang banyak. Lebih sulit lagi manusia melepaskan diri dari apa yang dipandangnya pasti benar, padahal justru yang pasti menurut manusia, mungkin sama sekali tak cocok dengan pikiran Allah.

Memikul salib setiap hari bukan terutama soal derita, masalah, penyakit (yang menimpa setiap orang tanpa kecuali), melainkan hidup dalam semangat yang sama dengan Yesus. Tetapi yang sering terjadi ialah hidup tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan, bening bagaikan kristal, lurus segaris dengan Yesus, merupakan beban yang amat sangat berat. Menurut Lukas, salib yang demikian harus dipikul tiap hari, bukan sekali waktu saja. Hanya orang yang selalu siap menuruti kehendak Yesus mengerti betul apa arti memikul salib.

Mengikut Yesus adalah mahkota segala usaha pengikut Yesus. Yesus harus menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Pengikut Yesus tidak hanyut dan terbuai oleh tawaran dunia, khususnya oleh kata-kata indah yang menyesatkan. Mengikuti Yesus sampai ke Golgota. Ia memang tidak mau mati konyol, tetapi ia juga tidak mau lebih mementingkan hidup jasmani dengan melepaskan Yesus. Sekali ia memutuskan untuk mengikuti Yesus, ia tidak mau menoleh ke kiri atau ke kanan lagi. Kerinduannya satu saja, yakni semakin mengenal Yesus untuk mengikuti-Nya dengan setia dan semakin baik. Seorang guru sejarah bertanya kepada muridnya, "Siapakah Sisingamangaraja?". Si murid dengan yakin dan mantap menjawab, "Pahlawan dari tanah Batak". Jawabannya benar, padahal ia tidak tahu di mana letak tanah batak, apalagi mengenal Sisingamangaraja. Jawabannya hanya didasarkan pada buku dan ingatan.

Iman mengantar manusia untuk memahami siapa itu Allah. Bagaimana gambaran Allah itu dalam benak kita, itu tergantung dari bagaimana kita mengimani-Nya. Sebab beriman berarti menjalin hubungan secara personal dengan Allah. Sekian lama bersama Yesus, para murid diminta untuk mengatakan iman mereka terhadap Yesus. Pernyataan mereka benar. Yesus adalah Mesias dari Allah. Pernyataan mereka itu menuntut mereka untuk siap menghadapi segala sesuatu sebagai konsekuensi iman. Jalan Yesus adalah jalan salib, maka setiap pengikut Yesus harus siap melewati jalan salib. Itulah jalan yang ditentukan kepada setiap orang Kristen. Barangkali yang setia pada jalan itu, ia akan mendapat keselamatan.

Saat ini kita tidak berada sendirian. Di sekitar kita dan bahkan yang selalu bersama kita juga mengimani Yesus. Jumlah kita pun menjadi banyak. Ada bahaya bahwa kita dapat bersembunyi di tengah kerumunan orang banyak yang mengikuti Yesus. Boleh jadi iman kita juga iman ikut-ikutan. Kita sendiri tidak memiliki iman secara pribadi. Atau iman kita adalah hasil contekan iman orang lain. Iman yang demikian tidak diinginkan Yesus. Yesus menuntut pengakuan kita secara pribadi. Iman yang kita miliki secara pribadi selanjutnya kita padukan dengan iman sesama kita. Perpaduan akan membuat kita semakin kuat. Pengakuan iman kita saat ini menentukan kehidupan kelak sesudah kematian.

Andaikan Yesus menanyakan hal yang serupa pada kita, "Tetapi menurut kamu, siapakan Aku ini?" Apa jawaban kita? Jawaban kita kerap persis seperti yang diajarkan guru agama, katekis dulu. Jawaban yang muncul dari pikiran dan bukan dari pengalaman, untaian kata-kata yang dihafal tapi tak menyentuh kehidupan dan pengalaman. Untuk mengenal siapa Yesus, kita mesti berani duduk bersama Dia, mendengar-Nya, terbuka pada-Nya, menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Pada jalan hidup ini kita belajar untuk semakin mengenal Tuhan kita dan demikian kita layak menjadi pengikut Yesus, sang Mesias. Semoga. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru