London (SIB)- Inilah untuk pertama kalinya Gereja Anglikan yang berusia lebih dari 330 tahun mengadakan acara buka puasa selama Ramadan dalam apa yang disebut Sadiq Khan sebagai langkah untuk 'merayakan perbedaan' dan menunjukkan 'seperti apa Islam yang sebenarnya'.
Sekitar 200 orang hadir dalam acara pada Minggu malam (19/6), tidak hanya Muslim namun juga sejumlah pemeluk Yahudi.
"Yang hebat dari acara seperti ini adalah, kita berada di jantung kota London, di Piccadilly, di Gereja St James's, dalam buka puasa bersama umat Kristen dan Yahudi dan yang lain. Dan acara ini tidak hanya buka puasa bersama namun juga agar yang lain mengetahui tentang Islam," kata Sadiq Khan.
Sadiq Khan, "Kita merupakan bagian dari sejarah karena untuk pertama kalinya gereja bersejarah ini menyelenggarakan buka puasa."
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak acara lintas agama seperti ini diselenggarakan dengan masjid yang mengundang non-Muslim sementara sinagog serta gereja mengundang Muslim.
Sadiq Khan mengatakan interaksi antar berbagai komunitas sangat perlu dilakukan untuk lebih mengenal satu sama lain.
"London adalah kota yang paling beragam di dunia dengan lebih dari 300 bahasa. Yang penting adalah kita saling berinteraksi dengan lebih baik, mengenal lebih baik. Saya menyebutnya integrasi sosial."
Salah seorang pemimpin gereja, Lucy Winkett yang ikut mencoba berpuasa dalam sehari mengatakan pengalamannya 'cukup berat'.
"Ini merupakan tantangan bagi saya. Umat Kristiani juga berpuasa namun bisa minum air. Dan yang kali ini tanpa minum sama sekali, jadi cukup berat. Tapi sangat menyenangkan kami dapat menyelenggarakan acara buka puasa di gereja kami," kata Lucy Winkett.
Waktu puasa di London pada minggu terakhir Juni dimulai pada pukul 02:40 dan magrib pada pukul 21:24.
Gereja St James's yang dibangun pada 1684 dirancang oleh Cristopher Wren, yang juga membangun salah satu gedung bersejarah lain di London, Katedral St Paul.
Buka Puasa di Gereja
Buka puasa bersama di gereja ini ternyata memberi dampak positif bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga tersebar hingga ke mancanegara. Seperti dihimpun dari berbagai media, jemaat gereja Ortodoks Suriah bahkan sukarela menyediakan makanan buka puasa bagi Muslim Suriah yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Tindakan toleransi umat beragama ini juga diikuti oleh gereja di Sarawak, Malaysia. Gereja St Joseph di Kuching, Sarawak menggelar prosesi buka puasa bersama kaum Muslim pada Kamis (16/6) lalu. Kegiatan itu bahkan mendapat banyak pujian dari para netizen setelah sebuah foto kebersamaan jemaat gereja dan Muslim itu disebar di media sosial Facebook. Mereka menilai kebersamaan itu merupakan contoh toleransi umat beragama yang baik di Sarawak.
"Kami orang Sarawak bisa duduk bersama satu meja dengan perbedaan ras tanpa mempertanyakan apa partaimu? Apa agamamu? Menjadi seorang yang bodoh tidak memberi mereka izin untuk menilai kami orang Sarawak dan Sabah," tulis Harezan Obeng, seperti dikutip.
Belajar Toleransi dari Inggris
Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menyatakan warga di Inggris menjaga toleransi antarumat beragama termasuk saat menjalankan ibadah puasa di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim.
"Suasana Ramadan di London sangat bagus juga. Di masa sekarang mungkin lima persen jumlah penduduk Inggris beragama Islam, di London mungkin 10 persen lebih, jadi kalau tinggal di kota London ibu kota Inggris atau kota-kota besar di mana-mana di Inggris ada banyak orang muslim, ada banyak masjid, jadi bisa menikmati suasana bulan puasa secara suci," katanya, usai buka puasa bersama dengan wartawan di Kedutaan Besar Inggris, di Jakarta, hari Senin (20/6) malam.
Dia juga menyatakan khususnya di kota-kota besar di Inggris, semua perusahaan tahu tentang bulan puasa dan siap untuk menyesuaikan keperluan kerja dan agama.
"Toleransi agama, toleransi kebudayaan, toleransi ras, juga sangat baik di Inggris," ujarnya lagi.
Dia menegaskan bahwa toleransi menjadi salah satu tantangan besar bagi setiap negara di seluruh dunia dalam menjaga perdamaian.
"Masa sekarang di Inggris, semua bisa menjalankan gaya hidupnya tanpa hambatan karena ada suasana toleransi, sama dengan seluruh dunia berusaha untuk menjaga toleransi terus menerus," katanya lagi.
Ia memberikan contoh, jika ada karyawan beragama Islam ingin mengambil cuti untuk berlibur pada Idul Fitri, dia dapat mengatur dengan tempat kerjanya.
"Pejabat senior yang mencapai posisi tinggi tanpa hambatan, walaupun seorang keturunan kelompok minoritas ataupun beragama Islam," kata dia, memberikan contoh bentuk toleransi di Inggris.
Dia mengatakan semua pihak seperti politisi dan pemuka agama bersatu untuk menjaga toleransi, keanekaragaman ras dan agama dan kebudayaan terbuka di Inggris.
Menurutnya, salah satu perbedaan puasa di Inggris dan Indonesia terletak pada lama berpuasa yakni 19 jam untuk Inggris dan 13 jam untuk Indonesia.
"Perbedaan besar adalah waktu puasa karena Inggris jam puasa sangat panjang dibandingkan di Indonesia," katanya lagi. (BBC/Ant/SH.com/q)