Dua bulan ke depan HKBP akan melaksanakan Sinode Agung periode. Tanggal dan waktunya sudah ditetapkan, demikian juga dengan tempat pelaksanaan. Hiruk-pikuk 'warga KHBP' kian hari semakin bergaung kuat menyambut perhelatan empat tahunan ini. Bahkan lebih dari itu berbagai kontestan telah menyatakan diri 'maju' dalam pencalonan bursa pimpinan HKBP periode 2016-2020.
Beberapa nama, telah muncul secara terbuka dalam pemberitaan media termasuk di Harian SIB ini. Hal itu menunjukkan, bahwa semangat keterbukaan diyakini akan membantu publik yang lebih luas untuk mengenal lebih dekat potensi dan kualitas masing-masing sosok yang muncul dan digadang-gadang oleh 'pendukung' yang telah menyatakan dan menetapkan pilihannya.
Dari perspektif keterbukaan hal ini sangat positif untuk memberi ruang kepada semua pihak untuk mengenal sosok dan 'menguji' kematangan dan kapabilitas mereka 'diadu' dalam wacana yang bergulir, khususnya sebagai bagian dari kesiapan mereka untuk memimpin HKBP. Untuk konteks pemilihan lima 'top leaders' HKBP, di antaranya, Ephorus, Sekjen, Kadep Koinonia, Marturia dan Diakonia, sebenarnya telah diatur oleh sebuah mekanisme pemilihan seperti yang tertuang dalam Aturan Peraturan HKBP 2002 setelah amandemen yang kedua. Aturan itu jelas memberikan peluang bagi siapapun khususnya pendeta yang telah mengabdi sebagai pendeta HKBP, sedikitnya 15 tahun.
Itu artinya akan ada ratusan kandidat yang punya peluang untuk ikut dalam 'persaingan' tersebut. Mereka akan diberi kesempatan yang sama dipilih pada perhelatan Sinode tersebut, sebab penjaringan tidak lagi dimulai di tingkat distrik, melainkan di Sinode Godang tersebut. Karena itulah, meskipun nama-nama yang muncul sudah beredar luas, yang kemungkinan terakumulasi pada beberapa nama, namun hal itu tidak dapat memverifikasi kepastian merekalah yang akan terpilih, melainkan masih terbentang jalan yang panjang bahkan terjal untuk menuju Pearaja.
Karena itu, kandidat harus membuka diri dan cerdas serta cermat membangun komunikasi yang baik dengan begitu banyak kepentingan yang melebur bersama dalam tujuan yang berbeda atau sama. Di sinilah diuji kekuatan pemimpin adaptif dan transformatif. Seorang pribadi yang telah selesai dengan dirinya serta mampu membuka hati untuk 'menjaga' roh persaudaraan yang jauh lebih mahal daripada semangat kelompok dan kepentingan grup yang atensi serta interesnya sangat jauh lebih sempit, dangkal dan eksklusif.
Kemampuan membangun penghayatan 'crossover' setidaknya akan mengurangi tingkat ketegangan dan gesekan menjadi suatu arena yang akrab dan bersahabat, sehingga tak berkesan lagi angker dan menakutkan. Karena itu, tujuan akan menjadi sama, yakni " HKBP yang lebih baik" dinahkodai oleh pemimpin yang bersedia kemudian membangun sinergitas yang terbuka.
Habitus : Sejuk dan Bermartabat
Menciptakan atmosfir yang baik memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan orang-orang dengan semangat dan tekad yang kuat, serta komitmen yang tulus, sehingga bersedia dengan sepenuh hati membangun sebuah habitus yang sejuk dan bermartabat. Suatu suasana, suatu keadaan yang dapat membangun sebuah ruang bertumbuhnya harapan, lahirnya benih-benih yang baik, HKBP yang lebih lebih sejuk, menghargai setiap perbedaan sebagai sebuah realita yang harus terus dirawat dengan baik, demi berlanjutnya kehidupan persekutuan yang ideal, dimana setiap unsur yang ada akan mendorong dan membangun setiap kepelbagain menjadi anugerah yang memperkaya dan memperlengkapi, meminjam istilah Dietrich Boenhoffer "life together".
Kehidupan bersama akan indah ketika setiap orang yang hadir dan berjumpa dalam kehidupan bersama, bekerja keras menumbuhkembangkan arti kebersamaan dalam level operasional, menjaga dengan baik suasana dan keadaan, dimana mereka yang berinteraksi di dalamnya merasakan kesejukan dan dihargainya hidupnya dengan berbagai pilihannnya yang berbeda sekalipun. Habitus seperti ini menjadi "the capital social" yang berharga bagi persekutuan, sehingga segala bentuk dan potensi negatif yang akan masuk, dengan sendirinya akan tersisih jauh.
Dengan demikian pihak-pihak yang berinteraksi terus-menerus, meskipun dengan segala potensi kreatif mereka yang berbeda akan menikmati dinamika yang terjadi dengan hati yang jauh dari perasaan terancam dan berbagai 'kecemasan' lainnya yang mungkin berkembang. Dalam konteks makro, inilah 'alarming' yang disuarakan oleh Joseph E.Stiglitz, seorang ekonom dan pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001 dalam bukunya 'The Price of Inequality", kemudian diikuti dengan buku yang ditulisnya kemudian untuk menyempurnakan buku sebelumnya "The Great Divide".
Kita menyadari besarnya potensi perpecahan, permusuhan atau pun dalam bentuk lainnya pemisahan yang semakin tajam, karena tumbuhnya habitus ketidaksamaan/perbedaan yang kontras dan tajam antara yang mapan dan terpuruk. Mungkin saja habitus semacam itu tersemai di dalam kehidupan menggereja HKBP, ketika secara tidak sadar terbentuk pembelahan kelompok mereka yang 'mapan' dan mereka yang 'kurang mapan' karena impak kesempatan mereka bekerja di daerah yang memberi akses luas mendapat 'sumber dana' dan minimnya akses bagi sebahagian akses meraih 'sumber dana', yaitu karena kesempatan.
Menciptakan habitus yang sejuk dan bermatabat adalah tanggung jawab sejarah HKBP dalam memberi segala ruang untuk terus tumbuhnya suasana, keadaan yang memberi mimpi bagi generasi muda atau generasi mendatang ( baca : generasi Y dan Z ) sebuah rumah masa depan, yaitu : HKBP yang sejuk dan mengajarkan martabat bagi setiap pengikutnya. Habitus semacam ini juga akan menyuburkan lahirnya para pelayannya yang memiliki dedikasi, komitmen dan visi yang sungguh-sungguh untuk melayani Tuhan bagi pengembangan gereja yang lebih baik, sehingga memiliki impak bagi nusa dan bangsa.
Menari dalam Bangunan Sebuah Keluarga
Sinode tahun ini hendaklah seirama dalam alunan gerak, langkah dan lenggok. Irama yang serasi akan melahirkan sebuah karya seni yang luarbiasa. Performance seirama akan mengkreasi sebuah karya yang mengundang rasa kagum, bangga dan apresiatif dari tiap unsur yang terlibat di sana, terutama mereka yang hadir menonton. Yosua menjelaskan arah kehidupannya dengan sebuah afirmasi terbuka yang terang dideklarasikan di hadapan umat Israel dengan ucapan " Aku dan seisi rumahku kami akan beribadah kepada Tuhan" ( Yosua 24:15c ). Pernyataan Yosua di Tahun Keluarga HKBP tahun 2016 ini, persis dalam memasuki agenda periodisasi di semua level, termasukpusat, semestinya mengingatkan kita, marilah bertanding dalam sebuah irama tarian yang menarik, menghargai setiap seni yang terlibat di sana, tetapi tetap setia dan terikat denganprinsip-prinsip dan nilai intrinsik seni tari itu.
Apapun gerak langkah, metode apapun yang diacu untuk memperindah sebuah tarian, tak boleh dinafikan perlunya menjaga nilai hakiki dari tarian itu. Dengan kata lain, pentas yang digunakan sebagai panggung yakni Sinode Agung, tak dapatmengabaikan aturan-aturan normatif dan nilai-nilai teologis yang mendasarinya, yakni :berjalan bersama ( syn = bersama-sama, hodos = jalan ). Bukan sebaliknya berjalan terpisah-pisah apalagi jalan sendiri-sendiri. Kalaupun berjalan dengan ritme yang berbeda, namun tujuan kita adalah bersama supaya HKBP Menjadi Berkat dan hidup setia beribadah kepada Tuhan.
Melalui SinodeAgung HKBP tahun 2016 ini, kita berketetapan hati, supaya HKBP setia beribadah kepada Tuhan melalui setiap kerja kreatif kita, yang merupakan anugerah, yang harus dipakai secara optimal untuk kebaikan dan berkat bagi sesama kita, terutama bagi Gereja, Bangsa dan Negara. Karena itu, biarlah Sinode Agung ini sebagai sebuah persembahan tarian kita dari keluarga besar HKBP untuk dipersembahkan bagi seluruh masyarakat, bangsa dan negara menjadi persembahan yang harum. Dan lakukanlah semua itu sambil mengucap syukur kepada Tuhan (bdn.Kolose 3:17 ). (Penulis : Pendeta Resort HKBP Tanjungsari, Medan/c)