Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Merindukan Bidan Sifra dan Pua Melawan Vaksin Palsu

Oleh: Pdt. Estomihi Hutagalung
- Minggu, 03 Juli 2016 15:06 WIB
645 view
Merindukan Bidan Sifra dan Pua Melawan Vaksin Palsu
Kejahatan di bidang kesehatan sedang mengancam masa depan bangsa ini secara khusus anak-anak balita. Sejak kasus vaksin palsu untuk anak-anak ini diungkap Kepala Subdirektorat Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Rabu (22/6), banyak pihak yang mengecam dan merasa khawatir akan kondisi anak-anak balitanya.

Sebagaimana diberitakan di media massa, para pemerhati anak-anak sangat mengecam kasus peredaran vaksin palsu karena sudah menjadi bentuk kejahatan serius di lembaga kesehatan. Bahkan menurut praktisi anak, Seto Mulyadi, tindakan ini merupakan teror nyata kepada para orangtua yang dihantui penggunaan vaksin.

Praktik penipuan yang berdampak luas ini, bukanlah prakarsa dari satu atau dua orang. Tindakan yang meresahkan masyarakat ini, pastilah melibatkan banyak pihak; distributor, dokter, maupun rumah sakit. Menteri Kesehatan, Badan POM, dan produsen vaksin PT Bio Farma harus menjadi pihak yang paling utama untuk diminta pertanggungjawabannya. 

Kasus ini sudah menjadi masalah nasional, sehingga Presiden Joko Widodo merasa perlu memberi pernyataan, "Agar pelakunya dihukum seberat-beratnya". Pernyataan demikian, setidaknya didasarkan pada adanya dua tindak kejahatan yaitu menyangkut pada ketidakjujuran (mungkin terjadi korupsi) dalam penanganan kualitas pengadaan, distribusi dan pengawasan.

Kejahatan kedua yakni adanya penipuan kepada pihak orangtua balita. Penipuan yang berdampak pada harga barang yang tidak sesuai dengan kualitas serta dampaknya pada kondisi balita yang divaksinasi. Pada titik ini, para pelakunya sudah dirasuk jiwa materialism. Uang menjadi sesuatu yang dipuja, disanjung layaknya Tuhan. Sehingga tidak merasa berdosa untuk melakukan tindak vaksin palsu.

Bidan Penyelamat Bangsa
Kejahatan ini sangat sadis dan dapat dianggap sebagai bentuk "menghabisi" generasi sehat anak-anak sebagaimana dilakukan Raja Firaun di dalam kerajaan Mesir kuno. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Keluaran bahwa Raja Firaun yang menganggap diri sebagai Tuhan penguasa alam semesta, merasa terancam kehidupan kerajaannya sehingga harus membunuh semua anak-anak generasi bangsa Israel.

"Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup." Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup". (Keluaran 1: 15-17).

Dengan panggilan diri yang mulia nan bergelora dalam jiwa Sifra dan Pua, kedua bidan ini, karena Takut akan Tuhan, mampu bekerja dengan bijaksana sehingga berhasil menyelamatkan satu generasi bangsa Israel. Sebagai bagian dari pelayan sosial yang menentukan masa depan kehidupan, bidan Sifra dan bidan Pua mampu melawan godaan untuk mendapat pujian, menolak perintah destruktif dari kekuasaan raja Firaun.

Bidan Sifra dan Bidan Pua, menyadari bahwa profesi bidan sebagai hal yang menangani kesehatan anak-anak demi masa depan generasi suatu bangsa, bukanlah profesi yang tunduk pada keserakahan kekuasaan. Bagi mereka, tugas bidan sebagai pelayan kesehatan masyarakat, bukan ditujukan guna meraih kekayaan. Pelayan kesehatan, bukan profesi penjual jasa yang memperdagangkan pelayanan. Bidan Sifra dan Bidan Pua menjadikan jabatannya, ilmunya sebagai alat pelayanan. Mereka tidak merekayasa tugas atau menipu orangtua bayi.

Merindukan Pelayan Kesehatan
Memang zaman kita saat ini sudah terjerembab pada jiwa modernisme yang berhasrat serba cepat, murah, mudah dan mewah. Kondisi demikian, akan sangat kuat menggoda setiap orang untuk mengejar kekayaan, materilisme dengan cara apapun. Materialisme menjadi dipuja, layaknya Tuhan penguasa hidup manusia.

Kondisi materialisme demikian sudah merasuk dalam jiwa anak-anak. Maka, ketika kita bertanya pada anak-anak tentang cita-citanya, akan menyebut sebagai dokter atau profesi yang dianggap mewah dan mendatangkan uang yang banyak. 
Tetapi mestilah diserukan saat ini, bahwa panggilan menjadi bidan, dokter, pengawas obat, farmakologi, apoteker, dan seterusnya, adalah pelayanan sosial, yang berkaitan langsung dengan kehidupan generasi suatu bangsa. Panggilan mulia ini tidak boleh didasarkan pada urusan yang selalu mendatangkan keuntungan dan kemewahan.

Memang, kondisi kebutuhan dan ketergantungan manusia pada kesehatan sangat tinggi, akan dapat dijadikan sebagai lahan subur guna memanfaatkan profesi mulia ini menjadi profesi dagang, yang menghasilkan kekayaan berlipat ganda sampai beberapa generasi. Uang menjadi Tuhan yang berkuasa tanpa etika dan membuat diri dipuja sebagai penguasa layaknya Raja Firaun.

Tetapi, fakta kasus vaksin palsu yang meresahkan, mengkhawatirkan masa depan anak-anak balita masa kini harus juga menjadi kondisi yang memanggil jiwa para dinas yang bergerak dalam bidang kesehatan dan badan terkait, agar  takut pada Tuhan, bekerja bukan dengan spirit materialisme.
Etos kerja demikian, akan dapat menyelamatkan dan menghasilkan generasi bangsa Indonesia yang hebat sebagaimana bangsa Israel berhasil menjadi bangsa besar sebagai buah panggilan takut akan Tuhan dan pelayanan mulia oleh Bidan Sifra dan Bidan Pua.

Itulah sebabnya, kita merindukan dan terus berharap hadirnya para pelayan di bidang kesehatan dengan etos kerja mulia, takut akan Tuhan, sebagaimana dilakukan Bidan Sifra dan Bidan Pua. Berani menolak peluang untuk memperdagangkan profesi dan menolak kekayaan karena vaksin palsu. Semoga .(c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru