Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
DAI Moderamen GBKP Seminarkan Potret Kehidupan Keberagaman

Pastor Alexander Silaen OFM Cap : Kehidupan Rukun Antar Pemeluk Agama Menjadi Dambaan

- Minggu, 17 Juli 2016 15:20 WIB
614 view
Pastor Alexander Silaen OFM Cap : Kehidupan Rukun Antar Pemeluk Agama Menjadi Dambaan
Medan (SIB)- Kehidupan rukun dan damai antara pemeluk agama menjadi dambaan seluruh masyarakat. Namun kehidupan rukun dan damai belum dapat dinikmati sepenuhnya, karena masih ada konflik yang bernuansa agama.

Demikian dikatakan Pastor Alexander Silaen OFM Cap pada Seminar Potret Kehidupan Keberagamaan yang diselenggarakan oleh DAI (Dialog Antar Iman) Moderamen GBKP di Kantor Klasis Medan Delitua, baru-baru ini.

Dijelaskan, konflik terjadi karena orang sering  menyalahgunakan agama untuk kepentingan tertentu, misalnya demi kekuasaan. Selain itu juga kurang mendalami agamanya dan kurang memahami agama orang lain sehingga mudah diadu domba.

Penyakit agama saat ini kata Alexander adalah, sikap menonjolkan agamanya sendiri dengan kecenderungan menghina agama lain dan  mengurangi hak hidupnya. Fanatisme sering mengarah ke dominasi politik dan cita-cita mendirikan negara agama.

Fanatisme agama itu kompleks yakni, kurang mengenal agama lain karena hidup di daerah tertutup, pendidikan agama yang  sempit dan mencari-cari kejelekan dari agama lain, rasa bangga yang berlebihan atas kejayaan agamanya sendiri dan tidak melihat kekurangan diri, rasa takut  akan kemajuan agama lain.

Karena itu tambah Alexander setiap pemeluk agama bekerjasama untuk mengusahakan keadilan dan perdamaian. Salah satu bentuk kerjasama konkret  antara  gereja Katolik dengan pemluk agama lainnya setidaknya bisa dilihat dari usaha-usaha untuk menyerukan perdamaian.  Perdamaian itu terungkap dalam surat gembala yang dibuat oleh KWI dan PGI 2001 dengan Tema "Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain" (Bdk 1 Tes 5:13b) dan diulangi pada surat gembala Prapaskah 2002  oleh KWK tema "Rekonsiliasi Membawa Damai".

Dialog pengalaman religius antara orang yang berakar secara mendalam penting untuk mensharingkan pengalaman religious untuk saling memperakaya, misalnya merayakan Natal bersama dan lainnya.

Selain itu juga perlu bertukar pikiran untuk mengerti lebih baik warisan rohani dan nilai-nilai dari tradisi mereka masing-masing. Dialog teologis bukan untuk mencari kebenaran teologis dari satu agama tapi untuk saling memperkaya.

Dialog juga harus didasarkan pada kebebasan inklusif, dalam arti penerimaan yang jujur dan dewasa terhadap agama yang lainnya. Proses dialog yang jujur akan memunculkan agama yang umatnya mampu menertibkan soal-soal rawan yang bersentuhan dengan sentimen agama.

Dialog harus mengarahkan setiap orang untuk menjalin semangat persaudaraan yang sejati yang terungkap dalam kehidupan praktis seperti, saling berkunjung, saling memberi salam dan memberikan parsel pada setiap hari raya keagamaan. Tidak membicarakan apa yang benar dan salah dalam agama-agama, tidak mendiskusikan doktrin atau akidah karena itu akan melahirkan polemik, serta tidak mengubah pandangan orang lain (secara tersembunyi). (A14/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru