Bila tidak ada aral melintang, maka Sinode Agung HKBP akan digelar tanggal 12-18 September 2016 mendatang. Geliat sinode tersebut sudah mulai terasa. Hal itu setidaknya diterawang dari intensitas perjumpaan para stakeholders dengan para utusan sinode, perkenalan kreatif para bakal calon pimpinan HKBP serta telah terselenggaranya beberapa sinode distrik.
Harus diakui, dalam beberapa even sinode, sering kali tertoreh masa-masa kelabu yang mencekam bahkan jatuh ke ambang perpecahan. Tentu saja, benturan ini tidak menyenangkan hati Tuhan dan para hambaNya di semua aras pelayanan, termasuk membuat pemerintah menjadi tidak nyaman, terutama hati warga jemaat yang terluka gores oleh karenanya.
Rekonsiliasi: 'Kairos' Alkitabiah
Salah satu dari rentetan sejarah HKBP adalah pentingnya menyimak Sinode Agung 1998 sebagai tonggak rekonsiliasi baru bagi HKBP. Rekonsiliasi tersebut kini telah berumur kurang lebih 18 tahun. Sebuah kurun waktu yang sudah dapat dikategorikan cukup dewasa untuk ukuran manusia.
Setiap sinode pasca Sinode 1998 merupakan kairos bagi kita untuk berefleksi dan merenung ulang. Sinode tersebut menjadi tonggak demokrasi gerejawi sebagai arak-arakan penginjilan global (mission to the world) serta starting way dalam menancapkan kesepakatan luhur untuk bersatu dan menyatu. Kita semua terpanggil untuk mendahulukan kasih Kristus di atas segala kepentingan, pola pikir atau cara pandang.
Globalisasi menuntut kita semua lebih partisipatif dan interaktif satu sama lain. Konvergensi antar potensi akan memperkokoh rekonsiliasi dan komitmen pelayanan demi kehendak Kepala Gereja; bukan demi kepentingan individu maupun kelompok. Tanpa komitmen ini, mungkin ke depan kita (gereja) akan seperti keberadaan Dinosaurus yang hilang ditelan jaman.
Kairos rekonsiliasi 1998 memanggil kita untuk lebih kreatif mengisi dan memaknainya. Sadar atau tidak, jangan sampai roh dehumanisasi menjadikan rekonsiliasi tersebut menjadi sekedar seremoni atau ritus, tetapi menjadi berkat bagi kita, lingkungan dan dunia ini. Ikatan-ikatan soliter antara sesama warga dan hamba Tuhan haruslah dibuang dan disingkirkan.
Dalam perspektif itu, Sinode 2016 ini menjadi kairos yang amat mahal demi memperkokoh rekonsiliasi HKBP, terutama dengan pemberlakuan Aturan dan Peraturan HKBP 2002 setelah amandemen ke-2. Sinode ini sejatinya kita isi sebagai tugas missioner yang memerlukan pengorbanan, kesediaan berbagi beban sekaligus komitmen membangun bersama persekutuan yang tulus dan sejati.
Rekonsiliasi dalam Perspektif "Imago Dei"
Manusia ialah Imago-Dei. Kerja dan prestasi merupakan realisasi panggilan Tuhan sebagai gambar Allah. Globalisasi mesti diisi dalam bingkai rekonsiliasi, sebagaimana Tuhan menempatkan manusia sebagai gambarNya. Karena itu, segala bentuk kekerasan, kemiskinan dan pendekatan militeristik mesti ditentang atas nama Imago Dei.
Di samping periodisasi, Sinode 2016 menjadi momentum menumbuh- kembangkan jemaat berbasis diakoni terhadap golongan lemah dan marginal. Visi ini mesti melekat dalam setiap pribadi para fungsionaris baru, sambil mensiasati jebakan-jebakan struktural dengan bijak. Interaksi lebih dikedepankan ketimbang dominasi, sehingga struktur itupun menjadi ekklesiologi, dan sistem melayani pun menjadi berkat.
Sesama warga dan pelayan mutlak melihat sesama sebagai mitra dan Imago Dei; bukan saingan apalagi musuh. Sebagai mitra, kita membuka mata untuk mampu melihat dan mengakui kemajuan orang lain, demi kemajuan bersama, terutama demi kemajuan gereja di tengah-tengah dunia ini.
Rekonsiliasi dan Hegomoni Kekuasaan
Dalam Konferensi Nasional HKBP tanggal 26 Juli 2000 lalu, secara seremonial kita telah memperbaiki citra kita di mata ekstern HKBP. Namun ke depan, inipun mesti disiasati dengan kritis, agar kita tidak ditunggangi oleh rekonsiliasi politis yang serta merta kehilangan makna sesungguhnya.
Hegemoni kekuasaan secara simultan bisa saja telah masuk ke tubuh HKBP. Kala itu, walau tidak seratus persen, konflik vertikal telah pelan-pelan di-design dan digeser menjadi konflik horizontal. Padahal, sulit diingkari, bahwa kezaliman kekuasaan itu sungguh ada meski dikaburkan secara elok, seolah hadir sebagai sosok pendamai. Gus Dur, kemudian hari menegaskan, "Sudah lewat masa campur tangan yang tidak kita kehendaki dari luar terhadap keputusan-keputusan HKBP".
Kita (gereja) memang harus bergeser dari orde otoritarian ke orde yang lebih demokratis dan partisipatif. Namun, harus dikritisi, agar jangan Sinode ini menjadi ajang untuk bagi-bagi kekuasaan atau roti, apalagi dengan topeng: demi HKBP yang lebih baik. Sekali uang dan jabatan menjadi tujuan, maka sulit mengingkari bahwa hegemoni kekuasaan bersih di sana.
Yudas, ekonom murid Yesus, "menjual" Yesus kepada para oposan. Dia yakin Yesus Maha Kuasa, sehingga mustahil dilukai orang lain. Kesalahannya fatal. Dia mencobai Tuhan dengan mengambil manfaat di balik kemaha-kuasaanNya. Niat memberdayakan, malah terperdaya oleh roh materialisme. Proyek rahasianya tidak dilindungi Yesus, sebab rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia. Sinode HKBP 2016 ini akan semakin ekklesiologis, bila rancangan dan rencana Tuhan kita kedepankan di atas segala-galanya.
Rekonsiliasi Yang Menyembuhkan dan Membangun
Dalam Sinode 1998 kita (gereja) berjanji bertobat, mengampuni dan terus menerus memulihkan fisik, jiwa dan hidup kerohanian jemaat. Di situ kita bertekad memperbaiki pelayanan, memulihkan luka dan membangun derap langkah persekutuan kita. Sadar atau tidak, krisis HKBP kala itu telah membangun tembok pengaman. Memandang ke luar pun kita terhambat. Orang luar pun menjadi enggan memasuki HKBP, sebab takut terkontaminasi atau mendapat musibah dari HKBP.
Marilah terus membaharui janji untuk haram berkonflik, menciptakan konflik atau membiarkan diri larut ke dalamnya. Kita tidak hanya cukup menyesal (Sinode 2000), tetapi komit dan mandiri mengawal rekonsiliasi dan suara nabiah gereja yang ekklesiologis tanpa terjebak mengulangi sejarah kelam masa lalu. Kiranya HKBP konsekwen memutar haluan dari "past oriented" untuk menapaki "future oriented"), sebab keluarga HKBP setia belajar dari keluarga Lot yang mati serta tinggal menjadi kenangan semata.
Badai telah berlalu. Marilah kita berjalan menghadap matahari terbit, bukan menghadap matahari terbenam. Kiranya sejarah kelam HKBP tidak akan pernah terjadi dan terulang lagi. Orang bijak berkata, " A Crisis is a turning point to be better or to be worst". Sekali kita tancapkan tonggak rekonsiliasi, marilah kita semuanya hidup dan dihidupi oleh damai Kristus. Bila tidak, bukan tidak mungkin kita akan menjadi lebih buruk lagi. (Penulis: Praeses HKBP Distrik XXVII Kaltimsel-Kaltara/d)