Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Sosok yang Ramah dan Rendah Hati

Pendeta Prancis yang Dibunuh ISIS Ternyata Bantu Pembangunan Masjid

- Minggu, 31 Juli 2016 19:21 WIB
547 view
Pendeta Prancis yang Dibunuh ISIS Ternyata Bantu Pembangunan Masjid
Prancis (SIB)- Jacques Hamel, pendeta senior gereja Katolik Saint-Etienne Prancis yang dibunuh oleh gerombolan teroris ISIS pada Selasa (26/7) lalu, ternyata dikenal sebagai sosok yang berjasa membantu pembangunan masjid di kota itu.

Hal itu dikatakan oleh Komunitas muslim setempat, salah satunya adalah Mohammed Karabila, Imam Masjid Jami Kota Saint-Etienne, yang mengaku berteman baik dengan Hamel. "Kami membicarakan agama dan pentingnya antarumat hidup berdampingan. Romo Hamel adalah sobat saya, orang yang tidak diragukan lagi bersedia melakukan apapun untuk membantu orang lain," kata Karabila seperti dilansir Le Express, Rabu (27/7).

Atas kejadian pembunuhan tersebut pihaknya mengaku terpukul dan mengutuk keras kejadian tersebut. Karabila menambahkan bahwa dirinya bersama Hamel aktif dalam forum komunikasi umat beragama kota selama 18 bulan terakhir. "Saya tidak paham tujuan teror ini. Seluruh doa kami ditujukan untuk keluarga mendiang dan komunitas Katolik," kata Karabila.

Masjid Jami Saint-Etienne dibangun di atas lahan hibah oleh Dewan Gereja. Hamel bersama pengurus paroki membantu proses hibah tersebut pada tahun 2000. Salah satu pelaku penyerangan gereja Katolik Saint-Etienne diidentifikasi bernama Adel K (19), warga lokal keturunan Timur Tengah.

Sementara itu Presiden Francois Hollande, mengatakan negaranya dalam kondisi perang melawan ISIS yang sudah mengaku bertanggung jawab atas serangan di gereja Saint-Etienne. Hollande segera menelepon Paus Fransiskus untuk mengucapkan dukacita karena seorang pendeta terbunuh. "Ketika seorang pendeta sampai diserang, seluruh Prancis berduka," kata Hollande.

Sosok Rendah Hati
Kematian Pastor Gereja Saint Etienne du Rouvray, Jacques Hamel, di tangan ekstremis dalam aksi terorisme menyisakan kesedihan. Beberapa orang di sekitar tempat tinggal Hamel menggambarkan dia sosok yang ramah dan baik hati, suka membantu orang-orang sekitar walau usia Hamel tidak lagi muda.
Situs berita France24.com, pada hari Selasa (26/7), mengutip keterangan dari salah satu calon pastor yang masih menjalani masa vikaris di gereja tersebut, Philippe Maheut, menjelaskan Hamel lahir pada 1930 di Darnetal, dan mulai menjadi pastor sejak 1958.

"Dia adalah sosok yang selalu ada bagi semua," kata Maheut.
Maheut mengaku sangat terpukul mendengar kematian Hamel, dan tidak mengira akan ada orang yang berbuat begitu kejam membunuhnya.
Pastor Paroki Saint Etienne du Rouvray, Auguste Moanda Phuati, mengatakan Hamel adalah sosok yang mengedepankan kesederhanaan, dan ingin selalu mengajarkan kesederhanaan kepada orang sekitar. 

Sementara itu, Olivier Ribadeau Dumas selaku Sekretaris Jenderal dari Konferensi Keuskupan Prancis mengatakan, seorang pendeta adalah simbol perdamaian dan persaudaraan.  Hamel adalah seorang pendeta senior, lebih dari 50 tahun menjadi pendeta di Prancis, jadi, kita bersedih dan terkejut dengan hal ini, lanjut Dumas, seperti dilansir Christianheadlines.com.

Dumas juga menyerukan untuk tetap berdialog dengan orang-orang berbeda keyakinan yang berada di Prancis, "Kita adalah sesuatu yang sangat kuat juga. Kita ingin mempertahankan dan mengembangkan dialog antar orang yang berbeda di negara kita. Kita perlu perdamian, kita perlu persaudaraan, kita perlu membangun sebuah masyarakat dimana orang-orang saling mengasihi dan kita akan tetap terus menjalani ini. Gereja Katolik Prancis menginginkan bahwa kita harus melihat cakrawala, cakrawala perdamaian, sukacita, persaudaraan dan doa. Kita berakar dari iman kita dan dalam Kristus dan kita percaya bahwa kejahatan dan kekerasan tidak berkuasa," jelas Dumas. (ChristianToday/Christianheadlines/jb/f)   
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru