Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Ketika Jokowi - JK “Mencari Simon Petrus” di Danau Toba

* Oleh: Pdt. Estomihi Hutagalung
- Minggu, 07 Agustus 2016 18:18 WIB
1.178 view
Ketika Jokowi - JK “Mencari Simon Petrus” di Danau Toba
Ada yang perlu dimaknai atas program pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla dalam menetapkan kawasan Danau Toba sebagai bagian prioritas pembangunan destinasi wisata nasional. Pemaknaan dimaksud harus dilihat dalam bingkai adanya kesadaran dan keterpanggilan jiwa setiap orang untuk melihat posisi dan peran penting Danau Toba.

Komitmen pemerintahan ini dapat dimaknai sebagai sebuah upaya tulus dalam wujud kerja keras. Dan keterpanggilan jiwa demikian sangat dibutuhkan dalam realitas kondisi alam Danau Toba yang semakin hari akan dapat kehilangan kecantikan, keanggunan, daya tariknya yang mengekspresikan kemuliaan Tuhan.

Juga harus dilihat dalam realitas semakin hangatnya jiwa kapitalisme yang menggerogoti kehidupan umat beriman. Itulah sebabnya kita bersyukur, ketika Presiden yang berpenampilan sangat sederhana ini, pernah menginjak kakinya dan merasakan atmosfir hidup di Tapanuli.

Kerja keras Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dimaksud, harus dilihat sebagai buah panggilan jiwa. Dan rasa syukur atas komitmen dimaksud harus dikedepankan dalam dimensi makna yang seluas-luasnya sebagai sebuah usaha, layaknya Tuhan Yesus memanggil Simon Petrus, si penjala ikan di Danau Galilea.

Panggilan Petrus
Panggilan transformatif Tuhan Yesus untuk menjadikan Simon Petrus dari penjala ikan menjadi penjala manusia, bukan berorientasi pada hasil atau keuntungan ekonomi dan keinginan mengedepankan harga diri. Bukan juga didasarkan atau berorientasi pada kemampuan maupun kehebatan Simon Petrus.

Memang pada faktanya, pengalaman hidup Simon Petrus yang sangat akrab dengan alam Danau Galilea telah menempatkannya pada pribadi yang mampu memanfaatkan kekayaan alam dan menjadikannya sebagai modal ekonomi demi kehidupan yang mapan.

Tetapi, justru dalam proses kemapanan hidup ekonomi yang berdampak pada multi dimensi sosial demikianlah, Simon Petrus dipanggil dan ditetapkan Tuhan Yesus sebagai penjala manusia. Dan, Simon Petrus menempatkan dirinya pada pribadi yang bersedia membuka hati dan menjawab panggilan Yesus.

Dan, sebagaimana dicatat dalam Injil Lukas 5 bahwa setelah melihat banyaknya ikan hasil tangkapannya, akhirnya Petrus bersedia "meninggalkan" jala maupun perahunya lalu menjadi pengikut dan murid Yesus. Simon Petrus berani menanggalkan aspek material yang selama ini menjadi dasar bangunan hidup ekonominya.

Sebuah panggilan transformatif bagi kehidupan manusia yang berorientasi pada aspek material dan yang mampu mengeksplorasi kekayaan alam sebagai "mesin uang, mesin keuntungan" sebagaimana komoditas fetisisme Karl Marx, menjadi pribadi yang berorientasi pada kehendak kerajaan Allah demi kelangsungan hidup maupun peradaban kemanusiaan itu sendiri.

Imperatif Iman
Imperatif iman atas pemaknaan terhadap panggilan Tuhan Yesus kepada Simon Petrus, dapat menjadi dasar kritik terhadap bangunan pemahaman eksploitatif, yang menguras kekayaan alam ciptaan Tuhan atas gelora kapitalisme.

Kesadaran iman demikian membangunkan wawasan kosmologi bahwa alam (Danau Toba) bukan sesuatu yang terpisah, terasing dari kehidupan. Manusia bersahabat dengan alam. Dan, alam selalu mencintai manusia, selalu menyediakan sarana demi kebutuhan hidup.

Itu berarti bahwa manusia adalah subjek yang harus memanfaatkan kekayaan alam dan sekaligus mampu menjaga dan menjamin kelestarian alam yang diwariskan demi kehidupan bagi generasi berikut.

Sehingga, komitmen tulus dari pemerintahan Presiden Jokowi saat ini, harus dilihat dalam kerangka membangun kemauan diri dari setiap orang untuk bersedia dipanggil dan terlibat dalam memperbaiki kawasan Danau Toba.

Komitmen demikian juga berimplikasi pada kehidupan sosial dan mampu meningkatkan  taraf hidup masyarakat atas kecantikan Danau Toba sebagai bagian dari anugerah pemberian Tuhan. Itu berarti, panggilan hidup untuk memperbaiki Danau Toba, bukan hanya tugas Presiden tetapi menjadi bagian penting dari setiap orang termasuk gereja.

Mencari Petrus di Danau Toba
Dengan wawasan kosmologi demikian, akan menggugah hati dan mendorong umat Tuhan untuk menyadari dan menempatkan dirinya pada subjek yang berfungsi mencintai, melestarikan alam. Suatu praktek hidup atas perintah Tuhan Yesus agar Injil diberitakan kepada seluruh mahluk (Markus 16;15).

Maka, kemauan mulia dalam pemerintahan saat ini adalah upaya untuk mencari orang yang bersedia meninggalkan jalan eksploitatifnya, perahunya dan menjadi penjala manusia. Sebuah pencarian terhadap setiap orang yang mengubah orientasinya dari yang bersifat material, uang, kekayaan semata menjadi manusia yang berorientasi panggilan kerajaan Allah demi perbaikan alam Danau Toba.

Mungkin, bukan hanya Jenderal Luhut Binsar Panjaitan menjadi pribadi layaknya Simon Petrus, yang dipanggil Presiden Joko Widodo untuk memperbaiki kawasan Danau Toba. Mungkin perusahaan yang selama ini mengeksploitasi alam Danau Toba sedang dipanggil Tuhan melalui pemerintah saat ini, untuk meninggalkan jala. Sebuah panggilan transformatif layaknya Simon Petrus di Danau Galiela.

Dan, mungkin setiap pembaca juga menjadi pribadi yang ikut dalam daftar pencarian Tuhan melalui pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla pada suatu panggilan transformatif untuk meninggalkan kehidupan menjala ikan secara eksploitatif menjadi penjala manusia guna memperbaiki kawasan Danau Toba. Bersediakah anda? (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru