Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Spiritualitas Inflexibility

* Oleh Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 19 Februari 2017 19:03 WIB
645 view
Spiritualitas Inflexibility
Titik tengkar sebagai variabel penyubur kebencian berbuah pembunuhan sadis sebagaimana dialami oleh Yesus adalah wujud dari spiritualitas inflexibility. Titik tengkar demikian berdimensi pada pemaknaan spiritualitas Yahudi dalam kaitannya dengan Taurat Musa.

Kaum Farisi, para ahli Taurat, menafsirkan praktek keagamaan Yesus telah menodai kesucian Taurat Musa. Yesus dianggap melawan aturan Sabat; karena menyembuhkan orang kusta pada hari Sabat dan banyak hal yang dianggap bertentangan dengan aturan Keyahudian.

Sebagai warisan keagamaan yang dihidupi sejak nenek moyang Israel, Taurat Musa adalah hal fundamental yang berkaitan pada totalitas hidup Yahudi. Taurat Musa diyakini sebagai sumber kesucian dan kebahagiaan hidup. Itulah sebabnya Taurat Musa harus dikalungkan, diberi tanda di dahi guna meneguhkan pemahaman umat (Ulangan 6).

Pemaknaan demikian semakin menempatkan Taurat Musa bersifat formalisme dan dilakukan secara berulang-ulang dari generasi ke generasi sehingga kehilangan nilai utamanya, nilai spiritualnya. Jika ada yang tidak melakukannya, harus dilawan dengan pedang kebencian bersimbah darah. Sebuah praktek agama atas nilai spiritualitas inflexibility.

Pada realitas demikianlah Yesus hadir menggelorakan spiritualitas Yahudi. Oleh karenanya, kita mengafirmasi catatan teologis ahli Perjanjian Baru, Ridderbos.
Menurutnya, pemberitaan dan ajaran Yesus yang berkaitan pada spiritualitas Yahudi, bukanlah suatu ajaran atau kebenaran baru tetapi pemaknaan yang sangat istimewa, karena Yesus menghidupkan ajaran lama dan menjadikannya sebagai dasar hidup beragama.

Yesus meruntuhkan selubung formalisme beragama dan mendorong umat Tuhan untuk hidup atas spirit, hati nurani sebagai titik temu Roh Allah dalam hati umat beriman. Spiritualitas demikian akan mendorong umat beriman untuk mempraktekkan ritual beragama tanpa terjebak pada dogmatisme, aturan baku yang menghalangi relasi personal dengan Tuhan. Sebuah makna dari spiritualitas flexibility.
****

Sejarah perkembangan agama-agama ditandai dengan kebencian atas nama doktrin sectarian yang disemangati dogmatisme bertaut dengan kekerasan. Setidaknya, kematian sadis yang dialami oleh Michael Servetus tahun 1553, karena mempraktekkan imannya yang bertentangan dengan dogma Protestan dan Katolik. Mungkin saja di beberapa generasi, kondisi demikian selalu terulang. Akhirnya iman, dapat berwujud sebilah pedang yang membarakan kebencian dan membuahkan kematian bersimbah darah.

Sebagai gereja mewarisi spiritual inflexibility, gereja harus terus menerus bergumul untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam realitas berpijaknya. Tetapi pada saat yang sama, Gereja juga mewarisi spiritual flexibility oleh Yesus harus berani memperbaiki dirinya guna menjawab kebutuhan umat beriman dalam tantangan zaman yang semakin besar.

Itu berarti, gereja harus terus menerus bergumul dengan spiritualitas flexibility guna membantu umat beriman dalam relasi personalnya. Maka, pada prakteknya, liturgy gereja harus dijadikan sebagai media spiritualitas flexibility guna mempertemukan umat Tuhan dengan Tuhan yang diimani.

Itulah sebabnya nyanyian-nyanyian dalam ibadah Minggu atau pertemuan umat beriman, metode pembacaan Alkitab dan penyampaian pesan utama melalui khotbah dari mimbar gereja, harus mampu menjawab kebutuhan spiritualitas umat beriman dalam perjumpaan dengan Tuhan yang memberkati.

Kesadaran pada spiritualitas flexibility akan mendorong dan menempatkan kesadaran umat Tuhan untuk mampu mempraktekkan nilai iman dalam realitas sosialnya. Umat Tuhan tidak saling mengejek karena bentuk liturgy dan tata ibadah yang berbeda. Tidak terjebak pada anggapan sebagai anggota gereja yang lebih kudus dan pengajaran iman yang paling benar.

Dengan demikian, pengakuan pada spiritualitas flexibility akan mendorong umat yang berbeda dogma dapat hidup bersama guna mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah yang dialaminya dalam relasi personalnya dengan Tuhan. Pengakuan demikian menjadi modal fundamental menumbuhkan iman jemaat dan membuat gereja bertumbuh, berbuah lebat (1 Tesalonika 1: 2-10). Semoga. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru