Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Kasih, Kepentingan Abadi Manusia

* Oleh: Pdt Sunggul Pasaribu, MPAK (Matius 5:38-48)
- Minggu, 26 Februari 2017 18:40 WIB
394 view
Kasih, Kepentingan Abadi Manusia
Pdt Sunggul
Seseorang pernah berkata, "Ada dua tipe orang di dunia ini. Pertama adalah mereka yang masuk ke ruangan dan berkata, "Saya datang!", dan kedua, mereka datang dan yang berkata, "Ah, senang bertemu Anda lagi!"

Betapa berbedanya dua pendekatan di atas! Orang yang satu berkata, "Lihat saya! Perhatikan saya"; sedangkan yang lain berkata, "Ceritakanlah tentang diri Anda." Pengertian orang yang satu ini maksudnya, "Saya orang penting," sementara yang satu lagi hendak berkata, "Andalah yang terpenting." Maksud lain dari orang yang satu ini berkata, "Dunia ini berputar mengelilingi saya"; tetapi yang lain berkata, "Saya hadir untuk melayani Anda."

Bukankah menyenangkan bila kita dapat menjadi orang tipe kedua, yakni seseorang yang kehadirannya diinginkan oleh orang lain? Seseorang yang berani menyatakan kasih Kristus secara terang- terangan dan tanpa rasa malu?

Perjanjian Baru memberi kita beberapa saran praktis tentang bagaimana caranya menjadi orang yang dapat menunjukkan kasih Kristus. Saran-saran tersebut adalah: Kita diminta untuk memberi hormat kepada orang lain (Roma 12:10), membangun satu sama lain (Roma 14:19), saling memperhatikan (1 Korint 12:25), saling melayani (Galatia 5:13), saling menolong menanggung beban (Galatia 6:2), saling mengampuni (Kolose 3:13), saling menasihati  (1 Kolose 5:11) dan saling mendoakan (Yakobus 5:16).

Seharusnya hanya ada satu tipe orang kristiani, yaitu tipe orang kristiani yang "saling mengasihi". Demikianlah dengan ajaran Yesus dalam nats Matius 5:38-48 ini, kasih adalah inti dari segala hukum, ajaran, perbuatan Allah terhadap dunia dan manusia.

Bisakah kita membayangkan betapa kacaunya dunia ini bila satu suku dengan suku lain, bila satu agama dengan agama lain, bila satu kelompok dengan kelompok lain saling balas dendam, saling membenci, saling berperang maka akan porak-porandalah hubungan sesama manusia pada satu wilayah, atau satu daerah, atau satu negara. Begitulah jika hidup tanpa kasih, tanpa saling mengasihi, tanpa pengampunan.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tiga hal, yaitu ;  Pertama, Jangan membalas dendam (Matius 5:38-39). Hukum Taurat mengajarkan : mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Hukum Kasih mengajarkan sebaliknya, yaitu : janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Ketika Yesus harus menanggung seluruh dosa manusia, ia tidak membalas dengan marah kepada orang-orang yang mengolok, meludahi, memukul, menyiksa, menyalibkan Dia, tetapi Yesus menyerahkan diri ke tangan Bapa yang. Yesus tidak membalas, tetapi Ia melepaskan kasih-Nya.

Kedua, Lakukan yang dikehendaki orang lain (Matius 5:40-41), artinya melakukan lebih banyak dari yang diminta/dikehendaki/dituntut/diharapkan kepada kita. Hukum Taurat mengajarkan kepada kita untuk meminta dan menuntut bagian (hak-hak) kita, tetapi Hukum Kasih mengajarkan untuk memberi dan melakukan lebih banyak untuk orang lain. Yesus berkata : "Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena menginginkan bajumu, serahkan juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." Anak Bapa akan melakukan lebih kepada orang lain sebagai bukti kasihnya kepada Bapa.

Ketiga, Menjadi orang baik dan pemurah (Matius 5:42). Artinya, kita perlu menjadi orang yang baik hati (ramah) dan murah hati (dermawan). Bapa kita dikenal sebagai Bapa yang sangat baik, Bapa yang suka memberi (A Giver God), murah hati, penuh dengan belas kasihan dan penyayang.

Mengasihi orang yang bersikap jahat kepada kita merupakan hal yang tidak mudah. Yesus mau agar kita tetap mengasihi orang yang jahat kepada kita dan juga mendoakan dia yang menganiaya kita. Bila kita mempunyai Bapa yang mengasihi orang yang jahat, kita pun sebagai anak juga mengasihi orang yang demikian.
Bila kita mampu mewujudkan seperti Kasih yang diajarkan Yesus maka kita sedang mengabadikan kekekalan hidup bersama terhadap sesama. Ingat bahwa orang Kristen masih berhadapan dengan para pembenci, yang berhati syirik, mereka yang menguber-uber keKristenan, termasuk mereka yang sedang menghempang panji-panji keselamatan Kristus di dunia ini. Renungan ini mengingatkan hendaklah kita mengabadikan dan menjunjung nilai-nilai Kasih Kristus di dunia ini dengan cara menebar kebaikan, kebajikan, keramahan, perbuatan pamrih, rela berkorban, sabar, tabah dan tetap berdoa. Amin.! (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru