Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Maksud Baik yang Tidak Baik (Markus 1 : 40 - 45)

* Oleh: Pdt. Jansen Simanjuntak, MTh, MM
- Minggu, 05 Maret 2017 18:54 WIB
13.300 view
Maksud Baik yang Tidak Baik (Markus 1 : 40 - 45)
Orang sakit umumnya mencari kesembuhan sesuai dengan keyakinan dan kekuatan finansialnya (keuangannya). Ada yang langsung pergi ke dokter. Ada yang cukup ke mantri kesehatan atau ke perawat terdekat. Ada yang ke tukang pijat. Ada juga yang pergi ke paranormal. Ada yang menanti sampai agak parah penyakitnya. Kepercayaan (keyakinan) seseorang terhadap pilihannya, juga ikut mempengaruhi kekuatan penyembuhan penyakitnya.

Ungkapan seorang sakit kusta kepada Yesus, "kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku, mengandung keyakinan bahwa Yesus memang mampu menyembuhkan penyakitnya. Cukup dibutuhkan kemauan dan keyakinan. Ketika Yesus mendengar permohonan itu hatinya penuh belas kasih kepada si kusta dan sembuhlah ia seketika. Orang itu menyampaikan permohonannya sambil berlutut di hadapan Yesus. Berlutut adalah ungkapan kerendahan hati. Permohonan yang disampaikan dengan kerendahan hati mendapat jawaban yang positif.Maka Yesus pun menjawab, "Aku mau, jadilah engkau tahir!".

Berdasarkan peraturan agama Yahudi, orang kusta dianggap tidak tahir. Orang kusta dalam bacaan hari ini meminta kepada Yesus bukan dengan anggapan bahwa ia layak disembuhkan. Ia berkata, 'kalau Engkau mau..". Ini memperlihatkan bahwa si orang kusta ini tidak meragukan kuasa Yesus sedikit pun. Bagi dia, kesembuhannya bukan tergantung pada apakah Yesus berkuasa atau tidak, melainkan apakah Yesus mau atau tidak.

Markus mencatat bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Lalu Ia menjamah orang kusta itu dan menyembuhkan dia. Kata 'menjamah' merupakan kata yang penting dalam kisah ini. Mengapa? Kita tahu bahwa begitu orang ketahuan mengidap penyakit kusta maka ia dilarang mengadakan kontak fisik dengan orang lain. Sebenarnya Yesus bisa saja menyembuhkan orang kusta itu tanpa menyentuh dia. Namun dengan menyentuh, terlihat bahwa Yesus berkuasa atas penyakit kusta dan si orang kusta yang dilarang kontak fisik dengan orang lain dipulihkan harga dirinya sebagai manusia.

Namun sayang, si orang kusta yang telah disembuhkan itu tidak mematuhi perintah Yesus agar tidak memberitahu orang lain tentang apa yang Yesus telah lakukan bagi dia. Mungkin dia menganggap bahwa apa yang dia lakukan akan membuat nama Yesus terkenal. Sayangnya, dia tidak memahami dampaknya.
Seharusnya Yesus melayani lebih banyak orang, tetapi tindakan si orang kusta membuat Yesus tidak dapat masuk kota secara terang-terangan dan harus tinggal di tempat-tempat yang sepi.

Tindakan orang kusta ini memang tidak lantas menggagalkan rencana Allah, tetapi ada masalah yang muncul sebagai akibat tindakannya itu: pelayanan Yesus jadi tidak efektif. Kisah ini memperingatkan kita: kadang-kadang kita tidak mematuhi Allah karena mengira kita tahu yang lebih baik atau bertujuan baik. Padahal manusia tidak pernah lebih tahu dari Allah. Ketidakpatuhan si orang kusta kiranya mengajar kita untuk mematuhi perintah Tuhan dan tidak 'mengacaukan' rencana Tuhan dengan mengira bahwa kita lebih tahu dari Tuhan.

Namun yang pasti, renungan ini mau mengajak kita pribadi lepas pribadi bahwa disekitar kita (di lingkungan, tempat kerja kita, sekolah atau kuliah) banyak orang yang mengalami perlakuan seperti orang kusta: dijauhi/dikucilkan, dicemooh, didiamkan, dan disingkirkan. Orang yang hidup seperti itu tentu tidak nyaman, tidak tentram. Mereka sebenarnya dalam hati juga merasakan "kalau engkau mau, sapalah aku!". Cukup ke-mau-an dari kita, maka banyak orang bisa kita sembuhkan. Marilah kita membuka mata dan hati kita terhadap orang-orang di sekitar kita. Mungkin orang-orang itu adalah istri atau suami kita, mungkin juga anak-anak kita yang sudah lama tidak mendapat perhatian dan sentuhan hati secara khusus. Bisa juga orang kusta itu adalah orang tua kita, teman sekomunitas/sepanggilan, sekantor, seperjalanan, dan sebagainya. Kalau kita tidak "tuli", tentu permohonan orang kusta dalam perikop injil diatas dapat kita lakukan. Sapaan kita kepada mereka yang "sakit kusta" dapat dirasakan sebagai sapaan kasih Tuhan sendiri, bila disertai dengan hati dan kemauan.

Jika demikian, maka inilah doa kita : "Ya Tuhan Yesus berilah aku hati yang berbelas kasih agar hatiku dapat tergerak melihat mereka yang tersingkir, dikucilkan dan menderita. Teguhkanlah pula iman orang-orang yang menderita akibat perlakuan orang lain yang tidak adil. Semoga tindakanku dilandasi niat yang tulus karena Engkau pun mencintai mereka". Amin. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru